Home / Berita / Pulau Sumatera yang Bergeser

Pulau Sumatera yang Bergeser

Kerak bumi yang tersusun atas lempeng-lempeng diam-diam terus bergerak. P. Sumatra yang dekat dengan batas lempeng Samudera Hindia dan lempeng Eurasia kena getahnya ikut bergeser. Gempa bumi lalu sering melanda kawasan itu. Kecepatan pergeseran yang hanya beberapa sentimeter per tahun itu kini diukur dengan alat GPS seperti tulisan wartawan Intisari G. Sujayanto.

Kenapa P. Sumatra, persisnya di kawasan sepanjang Bukit Barian dari Aceh hingga Teluk Semangko (Lampung), menjadi langganan Ialo atau gempa bumi? Tentu bukan akibat marahnya atau menggeliatnya naga raksasa penjaga perut bumi.

Semua itu karena sialnya P. Sumatra. Pulau yang luasnya 3,5 kali Jawa ini kebetulan posisinya dekat sekali dengan batas antara lempeng Samudera Hindia dan Iempeng Eurasia, yang secara terus-menerus saling bertabrakan. Benturan antar lempeng itu bukan baru kemarin sore terjadi, tapi sejak 40 juta tahun lalu. “Akibatnya posisi Sumatra yang dulu kira-kira sejajar dengan Jawa, lambat laun mengalami perputaran dan bergerak pelan searah jarum jam hingga posisinya seperti sekarang ini,” ungkap Prof. Dr. JA. Katili, penasihat Menteri Pertambangan dan Energi serta Menristek.

Menurut pakar geologi Indonesia ini, tabrakan yang membuat P. Sumatra berputar itu, mengakibatkan rekahan memanjang dan relatif lurus sepanjang P. Sumatra di atas Pegunungan Bukit Barisan yang kemudian dikenal dengan patahan besar Sumatra. Patahan ini dapat dilihat mulai dari Aceh sampai Teluk Semangko sepanjang 1.350 km.

Rekahan sepanjang itu seolah membagi P. Sumatra menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh irisan Pegunungan Bukit Barisan. Bagian timur P. Sumatra bergeser ke arah tenggara (karena desakan lempeng Eurasia relatif ke Selatan), sedangkan bagian baratnya ke arah barat laut (akibat gerakan lempeng Samudera Hindia relatif ke Utara).

Pergeseran mendatar akibat gerakan kerak bumi yang teus-menerus dan terlepasnya akumulasi energi sepanjang batas lempeng inilah penyebab timbulnya gempa bumi besar seperti yang terjadi di Tapanuli (1926 dan 1987), Kerinci (1909), Padang Panjang (1926 dan 1987), Liwa (1932), Tes (1932) dan Tarutung (1987). “Pergerakan lempeng itu seperti ulat, menekuk dulu kemudian patah. Pada waktu patah itulah terjadi gempa,” kata Katili.

Dugaannya, Sumatra bergeser dengan kecepatan 1-3 cm/tahun. Namun, apakah gerakannya teratur sepanjang tahun, perlu penelitian lebih lanjut. “Sebab biasannya hasil yang didapat itu hanya rata-rata kurun waktu tertentu. Bisa saja dalam satu waktu lajunya cepat, sedang lain waktu gerakannya lambat bahkan berhenti,” kata Dr. Ir. Sobar Sutista, M. Surv. Sc., Kepala Kelompok Penelitian Geodesi dan Geodinamika, Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional).

Kepulauan Nusantara tergencet
Pergeseran P. Sumatra hanyalah salah satu contoh bahwa kerak bumi masih saja terus bargerak. Ihwal kerak bumi yang bergerak itu sebenarnya sudah disinyalir oleh para ahli. Meski begitu baru Taylor (1910) dan Alfred Wagener (1880-1930), ilmuwan Jerman, yang secara sistematis membeberkannya. Wagener menduga, pada akhir zaman karbon terbentuk satu benua besar yang disebut Pangea. Benua ini lalu terpecah-pecah dalam masa Jura sampai pertengahan masa Tersieratau antara 150 juta – 20 juta tahun dan terus bergerak sampai zaman Kuarter. Oleh karena itu Wagener berani memperkirakan, Benua Amerika dulu merupakan satu bagian dengan Benua Eropa dan Afrika. Sementara Samudera Atlantik belum ada. Ia memberi bukti atas kesesuaian raut-raut benua yang terpotong-potong seperti teka-teki gambar potong.

Keberanian Wagener mengemukakan teori benua yang bergerak banyak ditentang para ilmuwan, lantaran ketidakmampuannya memberi bukti ilmiah.

Sekarang, lebih-lebih setelah ditemukannya teori tektonik lempeng, gerakan kerak bumi bukan hal yang aneh. “Bertitik tolak dari sini kerak bumi yang menyusun dunia ini terpecah menjadi 12 lempeng besar dan lempeng-lempeng kecil dengan tebal lempeng antara 75-125 km ” tutur Ir. F.X Suyanto, dosen geologi struktur Universitas Trisakti Jakarta. Lempeng-lempeng yang terdiri atas lempeng samudera dan lempeng benua itu pun bergerak relatif satu terhadap yang lain dengan kecepatcm 1-13 cm per tahun.

Menurut ukuran manusia kecepatcm ini sangat kecil, namun dilihat dari kacamata geologi sangat berarti. Gerak 5 cm setahun misalnya dalam satu juta tahun depat menghanyutkcm suatu benua sejauh 50 km. Seperti lempeng yang sedang membawa Benua Australia bergerak ke arah utara dengan keceparan 6 cm per tahun. Kalau tak ada alangan beberapa juta tahun lagi bisa-bisa menggencet Kepulauan Nusantara.

Kembali ke soal patahan besar Sumatra, gencetan lempeng Eurasia dan lempeng Hindia menimbulkan pergeseran P. Sumatra pada patahan tersebut. Dampak lanjutannya adalah melengkungnya atau putusnya alur-alur sungai, dan longsomya tanah di daerah-daerah sekitar patahan. Yang menjadi pertanyaan barangkali adalah berapa besar pergeseran pada garis patahan itu , serta ke mana arahnya.

Kerja sama dengan AS
Jawaban dari pertanyaan tadi itu kini ditumpukan pada sistem pengukuran posisi yang disebut GPS (Global Positioning System). Sistem ini mengerahkan piranti-piranti canggih buatan AS, antara lain satelit yang merupakan komponen vitalnya. Satelit yang mengembara pada orbit edar setinggi 22.000 km itu, rajin mengirim sinyal ke daratan Sumatra. Tapi jangan salah sangka, ini bukan satelit mata-mata AS yang mengintip potensi kandungan dan atau menguak rahasia militer. Namun semata-mata hanya bertugas mengukur pergeseran patahan P. Sumatra.

Sebuah piranti yang bersama dengan antena, alat penerima dan unit pengendali yang berpusat di Colorado AS, bertugas mengukur pergerakan P. Sumatra. Sistem yang lengkap sebenarnya melibatkan 24 satelit yang terbagi dalam enam orbit. Dua puluh satu satelit di antaranya aktif beroperasi sedang sisanya cadangan aktif yang sewaktu-waktu menggantikan yang rusak. Dari bumi sinyal yang diangkut lewat dua gelombang pembawa pada frekuensi L1 dan L2 itu, dipancarkan dan langsung diterima oleh antena (berbentuk piringan berdiameter 28 inci, terbuat dari aluminium dilengkapi dengan kompas yang disangga oleh tripod setinggi kurang lebih1,5 m).

Melalui seutas kabel, sinyal diteruskan ke alat penerima yang menyediakan 12 saluran untuk menangkap sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh satelit-satelit GPS. Sinyal ini kemudian direkam secara otomatis. Hasil rekaman satelit ini selanjutnya diolah dengan model matematika oleh para ahli. Sehingga hasil akhir yang didapat berupa jarak dan arah pergeseran. “Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana saja, hanya alatnya memang canggih,” kata Sutista, doktor jebolan New Castle, Inggris.

Di Sumatra pengukuran GPS dilakukan di titik-titik kontrol geodesi (titik triangulasi) yang pernah dibuat
pemerintah Belanda untuk pemetaan pada tahun 1880-1930. Gerakan P. Sumatra ini diketahui dengan mengukur besarnya pergeseran antarpatahan, berdasarkan pengamatan berulang-ulang sepanjang sesar (bidang patahan) melalui satelit GPS. Data-data pengukuran itu nantnya, dalam jangka panjang digunakan untuk penelitian dan peramalan gempa bumi di kawasan itu.

Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara Bakosurtanal dan IGPP (Institute of Geophysics and Planetary Physics) dan SIO (Scripps Institution of Oceanography) Universitas California dalam rangka proyek penelitian geodinamika di Sumatera dan Irian Jaya.

Demi kemanusiaan
Teknologi GPS rupanya menjadi pilihan karena dibandingkan dengan cara pengukuran konvensional, semisal triangulasi, sistem ini akan mendapatkan hasil yang lebih cepat, murah dan akurasi yang lebih tinggi. Apalagi gerakan yang diukur hanya dalam hitungan sentimeter itu. Tentunya kesalahan yang diperkenankan haruslah dalam hitungan milimeter.

Namun, seperti penjelasan Sutista, bukan berarti GPS bebas masalah. Sinyal yang dikirim dari ketinggian 22.000 km itu bisa saja terkena gangguan. Maka sebelum data itu diinterpertasikan dan diolah, perlu “dibersihkan” dan discreening secara ketat.

Menyadari bahwa patahan Sumatra masih saja terus bergerak, maka Katili yang juga sebagai Wakil Ketua Dewan Riset Nasional itu menyarankan agar dipikirkan juga mitigasinya, yaitu mengurangi dampak sekecil mungkin pada daerah yang diperkirakan akan mendapat bencana. ”Kita harus mendidik masyarakat di situ bahwa mereka tinggal di daerah yang sewaktu-waktu bisa dilanda bencana” kata Katili.

Pendidikan demikian tidak saja menyangkut instruksi tentang bahaya potensial bencana geofisika, tapi juga petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan kalau terjadi bencana alam. Di daerah rawan bencana, manusia perlu menyadari bahwa bencana adalah bagian dari proses alam sebagaimana embusan debu vulkanik halus yang menyuburkan tanah-tanah pertanian.

Sampai sekarang masih sulit ditentukan di mana pusat gempa di Sumatra itu. Bisa saja sepanjang patahan yang jauhnya 1.350 km itu. Karena seperti diakui Katili, gempa merupakan gejala alam yang bervariasi, penuh kombinasi, serta berhadapan dengan parameter yang demikian banyaknya. Suatu proses alam yang tidak mudah dikotak-kotakkan, diklasifikasikan dan ditetapkan rumus-rumusnya. “Mudah-mudahan dengan pengukuran gerak sepanjang patahan besar Sumatra ini, bukan hanya dapat diukur kecepatannya, tapi juga siklus gempa-gempa sepanjang patahan,” kata ilmuwan yang masih rajin menulis ini.

Hal terakhir ini mungkin yang paling diharapkan oleh masyarakat banyak. Jadi bukan semata-mata penelitian murni demi ilmu, namun juga bagi kepentingan kemanusiaan.

Sumber: Majalah Intisari bulan September 1991

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: