Puan-puan Penjelajah Luar Angkasa

- Editor

Selasa, 10 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NASA dalam misi Artemis pada 2024 berencana mendaratkan satu perempuan di Bulan. Itu akan menjadi perempuan pertama yang mendarat di Bulan karena sejauh ini dari 12 manusia yang mendarat di Bulan, semuanya lelaki.

KOMPAS/NASA–Antariksawati dari Badan Antariksa Eropa (ESA) Samantha Cristoforetti sedang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Antariksawati berkebangsaan Italia ini sudah membukukan 199 hari di luar angkasa pada 2014-2015.

Manusia pertama kali meninggalkan Bumi menuju luar angkasa pada 1961. Namun, perempuan pertama baru mengangkasa pada dua tahun berikutnya, yaitu Valentina Tereshkova, antariksawati Uni Soviet dalam misi Vostok 6 pada 16 Juni 1963.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dua dekade berikutnya, tak ada perempuan diajak dalam misi luar angkasa. Dikutip dari space.com, perempuan baru dikirim lagi pada 1982, yaitu Svetlana Savitskaya dari Uni Soviet. Sedang Sally Ride pada 1983 jadi perempuan pertama Amerika Serikat dan perempuan ketiga yang ke luar angkasa.

Setelah itu, pelibatan perempuan dalam program antariksa tetap jarang. Hingga Oktober 2019, seperti dikutip BBC, dari 564 antariksawan yang mengangkasa dari berbagai misi, hanya ada 65 perempuan atau 12 persennya.

Calon antariksawan pertama Indonesia pun perempuan, Pratiwi Sudarmono. Namun ahli mikrobiologi itu gagal mengangkasa akibat meledaknya pesawat ulang alik Challenger, lima bulan sebelum Pratiwi dijadwalkan mengangkasa Juni 1986. Akibatnya, sejumlah misi berikutnya, termasuk misi Pratiwi, dibatalkan.

KOMPAS/WIKIPEDIA–Calon antariksawan pertama asal Indonesia Pratiwi Sudarmono. Kecelakaan pesawat ulang aling Challenger pada lima bulan sebelum jadwal peluncuran Pratiwi pada Juni 1986 membuat sejumlah misi luar angkasa dibatalkan, termasuk misi Pratiwi.

Walau jumlahnya kecil, peran perempuan dalam eksplorasi luar angkasa tak kalah dengan antariksawan laki-laki. Mereka ada yang jadi komandan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), bekerja di luar wahana ISS alias melakukan spacewalker, dan melakukan sejumlah riset. Bahkan pada 18 Oktober 2019 lalu, untuk pertama kalinya tim spacewalker di ISS semuanya adalah perempuan.

NASA dalam misi Artemis pada 2024 berencana mendaratkan satu perempuan di Bulan. Itu akan menjadi perempuan pertama yang mendarat di Bulan karena sejauh ini dari 12 manusia yang mendarat di Bulan, semuanya lelaki.

Meski demikian, luar angkasa memang memberi dampak berbeda pada lelaki dan perempuan.

Varsha Jain, ahli ginekologi luar angkasa dari Universitas Edinburgh, Inggris kepada BBC, 22 Oktober 2019 mengatakan kemampuan adaptasi pria dan wanita di luar angkasa sama meski ada perbedaan. Perempuan cenderung merasa sakit saat di luar angkasa, lelaki setelah kembali ke Bumi.

Sesudah misi, pria lebih memiliki masalah penglihatan dan pendengaran, sedang wanita lebih sulit mengontrol tekanan darah hingga merasa lemah. “Ada perbedaan halus walau belum diketahui apakah itu karena terkait perbedaan hormon atau karena perubahan fisiologis,” katanya.

Persoalan kodrati perempuan, menstruasi, jadi pertimbangan untuk mengirimkan mereka, walau antariksawati umumnya minum obat penunda menstruasi. Air kencing di ISS diolah jadi air minum, sedang sistem pengolah limbah di ISS tersebut tak bisa memisahkan darah sebagai benda padat dari air.

KOMPAS/NINOK LEKSONO–Calon antariksawan pertama Indonesia Pratiwi Sudarmono kembali aktif menekuni bidang penelitiannya mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Foto diambil dari arsip Kompas, Minggu, 27 Januari 1991.

Kemampuan memiliki anak, baik antariksawan dan antariksawati setelah mereka pulang ke Bumi. Kualitas sperma laki-laki akan turun saat mereka di luar angkasa, tetapi akan pulih saat kembali ke Bumi. Demikian pula sel telur perempuan, meski antariksawati umumnya disarankan membekukan sel telur mereka sebelum mengangkasa.

Menyambut Hari Perempuan Internasional 8 Maret, prestasi yang ditorehkan antariksawati itu perlu terus disuarakan. Perempuan juga berhak menjelajahi antariksa, menundukkan rasa takutnya, dan menembus batas-batas kemanusiaannya.

KOMPAS/NASA/SPACE.COM–Antariksawati dari Uni Soviet Valentina Tereshkova menjadi perempuan pertama yang ke luar angkasa melalui misi Vostok 6 yang diluncurkan pada 16 Juni 1963.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 10 Maret 2020

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB