Permainan Jarimatika “Mobile” untuk Siswa SD

- Editor

Kamis, 9 Februari 2012

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kesulitan siswa sekolah dasar dalam pelajaran Matematika mendorong tiga siswa SMK Negeri 1 Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, membuat perangkat lunak permainan edukatif. Tujuannya supaya siswa SD bisa bermain sambil belajar dengan mudah dan menyenangkan.

Tim tersebut beranggotakan Nur Chabibur Rohim (17), Risang Yogardi (17), dan Muhammad Asrori (17). Ketiganya merupakan siswa Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMKN 1 Tengaran. Karya tersebut diikutkan pada Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2011 dan mendapat peringkat ke-7.

Pembimbing Kelompok Ilmiah Remaja SMKN 1 Tengaran, Harti, mengungkapkan, pembuatan perangkat lunak untuk telepon seluler itu diawali dengan penelitian yang menyatakan bahwa banyak siswa SD mengalami kesulitan pada mata pelajaran Matematika. Di sisi lain, banyak siswa SD yang menggunakan telepon seluler (ponsel) sekadar untuk game. Permainannya pun tidak mendidik, tidak merangsang kreativitas dan tidak menambah pengetahuan anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari situlah, muncul gagasan untuk membuat permainan edukatif di ponsel. Tim tersebut kemudian membuat game yang berkaitan dengan mata pelajaran Matematika, yaitu jarimatika, teknik berhitung menggunakan jari tangan. Harapannya, anak- anak SD kelas I sampai kelas III bisa lebih menyukai Matematika.

Lagu dolanan

Mereka membuat karakter yang dinamai Joko Tingkir, yang berjalan diiringi lagu dolanan bocah ”Pitik Tukung” jika joystick pada ponsel digerakkan. Ada dua level permainan. Pada level satu, anak diminta menebak angka berapa yang ditampilkan jari tangan. Ada tiga pilihan jawaban dan lima soal. Pemain akan mendapat skor 20 untuk satu jawaban benar sehingga poin maksimal adalah 100.

Pada level dua, tidak hanya menebak angka yang ditunjukkan oleh jari, tetapi juga sudah melangkah pada operasi hitungan, yaitu penambahan dan pengurangan. Ada empat pilihan jawaban yang disiapkan untuk dipilih dengan ketentuan poin sama dengan level satu.

Walaupun terlihat mudah, membuatnya, menurut Chabib, ternyata cukup sulit dan harus cermat. Untuk membuat karakter-karakter yang ada dengan perangkat lunak, seperti Corel Draw X3 dan Adobe Photoshop CS3, relatif mudah. Namun, sulit ketika harus membuat kode-kode untuk menghubungkan satu soal dengan yang lain. Mereka menggunakan program Macromedia Flash Professional 8 untuk menyusun semuanya. ”Semuanya berhubungan sehingga kalau satu salah, yang lain pasti ikut salah,” kata Risang.

Permainan itu hanya dapat dimainkan di ponsel dengan OS Symbian VI atau yang mampu mendukung operasi perangkat lunak flash lite, seperti Nokia 3230, Nokia E63, atau Nokia Express Music.

Wakil Kepala SMKN 1 Tengaran Bidang Kurikulum Tutik Mardining Lestari mengungkapkan, selama ini banyak karya yang dibuat siswa, tetapi hanya sampai pada taraf dilombakan. Setelah itu, karya yang dihasilkan disimpan begitu saja.

”Kami sebetulnya ingin bekerja sama dengan pihak lain untuk mengembangkan inovasi yang dibuat siswa. Memang belum seberapa dibandingkan dengan temuan lain yang sudah ada, tetapi setidaknya kami ingin karya ini bisa digunakan secara luas,” kata Tutik.

Sejauh ini, sekolah terus mendukung siswa yang ingin mengembangkan diri dengan membuat karya-karya ilmiah. Siswa dapat membuat proposal dan sekolah akan memenuhi apa saja yang dibutuhkan.

Sumber: Kompas, 9 Februari 2012

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru