Home / Berita / Periset Fitri Diganjar Whitney Fund

Periset Fitri Diganjar Whitney Fund

Peneliti dan pengajar Universitas Manokwari Fitriyanti Pakiding (Fitri) menerima penghargaan Whitney Fund for Nature 2014 di London, Inggris . Penyerahan penghargaan itu Putri Anne dari Kerajaan Inggris, Kamis kemarin. Fitriyanti diganjar penghargaan tersebut lantaran upayanya dalam pelestarian penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di kawasan Jamursmedi dan Warmon, Tambrauw, Papua Barat.

Dalam siaran persnya, penghargaan yang disebut ‘Green Oscar’ tersebut juga diberikan pada Shivani Balla yang membuat keseimbangan hidup antara manusia dan singa di utara Kenya.

Mengutip BBC, Fitri selama ini bekerja menyelamatkan penyelamatan telur-telur penyu belumbing.

“Kami memonitor telur-telur belimbing itu. Kami memindahkan kalau pasir pantai terlalu panas atau ombak terlalu besar yang akan membawa mereka ke laut,” terang Fitri di London.

p21-afitriyanti.img_assist_custom-600x416Fitri adalah alumnus Fakultas Peternakan di Universitas Papua. Ia jugapernah bekerja sama dengan WWF Indonesia, The Nature Conservacy, dan Conservation International.

Selama ini, keberadaan penyu belimbing di Papua Barat, di Pantai Jamurbamedi dan Warmon, diketahui sebgai kawasan terbesar penetasan penyu belimbing. Namun, keberadaan penyu belimbing rupanya kurang dilindungi oleh warga sekitar. Penyebabnya lantaran minimnya kesadaran warga sekitar dan pendidikan mereka. (david/kk/an)

Sumber: Kabarsatu.co, 11 Mei 2014
———————
Memberdayakan Warga demi Penyu Belimbing

p21-bFree.img_assist_custom-597x450“Kesuksesan konservasi penyu belimbing di Papua Barat tergantung pada dukungan masyarakat lokal. Jika mereka tidak disadarkan, upaya konservasi tidak terlaksana.”

Demikian inti ucapan Fitryanti Pakiding setelah menerima penghargaan internasional Whitley Fund for Nature 2014 dari Putri Anne di gedung Royal Geographical Society, London-Inggris, 8 Mei lalu.

Perhatian serta dukungan internasional ini diberikan kepada Fitry, demikian dia biasa disapa, yang sejak tahun 2011 bersama tim dari Universitas Negeri Papua (Unipa) terjun langsung memberdayakan warga setempat.

Fitry bekerja sebagai dosen dan peneliti di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Unipa, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Namun, dia juga meminati lingkungan hidup. Minat itu muncul karena tempat tinggalnya berlokasi dekat kawasan hutan lindung di gugusan Gunung Cyloop, Kampung Apo, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.

Kecintaan terhadap lingkuangan ditularkan Fitry kepada anak-anak setempat. Dia memberdayakan warga di tiga kampung, yakni Saubeba, Wau, dan Warmendi, di Kabupaten Tambrauw. Dia memilih areal tersebut karena kampung-kampung itulah yang mengapit 2 lokasi konservasi penyu belimbing di Papua Barat—Pantai Jamursba Medi dan Pantai Warmon.

Kegiatan konservasi tak hanya berupa penyelamatan sarang dan telur hewan langka bernama latin Dermochelys coriacea ini, tapi Fitry juga memberikan pengetahuan tentang pengolahan hasil pertanian bagi sekitar 80 KK. Dia mengajari mereka membudidayakan sayur, membuat dendeng dari daging rusa dan babi hutan, membuat pupuk organik, dan minyak kelapa, serta membekali dengan kemampuan berwirausaha dan akuntansi dasar.

“Sudah dua minggu kami diusir dari lokasi konservasi oleh ketua adat setempat. Ini karena warga menganggap kami memasuki hak ulayat tanah mereka. Jadi, saya mau ke kampung-kampung itu, meminta warga memberi kami kesempatan masuk ke lokasi konservasi. Kondisi seperti ini biasa kami alami dalam empat tahun terakhir,” ujar perempuan asal Toraja ini.

“Penyu belimbing adalah ikon Papua Barat. Ironisnya banyak warga yang tak tahu keberadaan dan bentuk hewan ini. Oleh karena itu, saya dan enam anggota tim gencar berupaya memperkenalkannya kepada warga,” kata dia. “Upaya konservasi penyu belimbing harus intensif karena banyak faktor yang mengancam kelangsungan hidupnya. Kondisi pasir di pantai yang terlalu panas, misalnya, bisa menggagalkan proses penetasan. Ada pula ancaman dari predator, seperti anjing dan babi hutan, yang suka makan telur penyu.

Kendala
Fitry mengakui ada sejumlah kendala yang sering menghambat kegiatan konservasi dan upaya pemberdayaan warga.

Salah satunya adalah keterbatasan modal untuk biaya hidup dan transportasi mereka selama berada di tiga kampung dan dua lokasi konservasi. “Untuk sekali perjalanan ke sana selama enam jam dengan kapal cepat, kami menghabiskan dana Rp15 juta. Biaya untuk makan dan minum juga mahal,” tuturnya.

Sementara pemerintah daerah belum memberikan bantuan dana. Jadilah dia berusaha mendapatkannya lewat proposal kepada lembaga asing yang peduli pada lingkungan. Alhasil, upayanya mendapatkan respons positif.

Kata Fitry, pernah ada lembaga yang memberikan dana Rp160 juta. “Kami menggunakannya sehemat mungkin agar kegiatan pemberdayaan dan konservasi bisa sampai enam bulan.”

Kondisi cuaca yang tidak menentu juga menjadi kendala. Beberapa kali perahu yang ditumpangi Fitry tak dapat melanjutkan perjalanan ke lokasi konservasi karena ketinggian gelombang di perairan Pasifik mencapai 3 meter.

Namun, Fitry menegaskan, semua kendala itu tidak akan menyurutkan semangatnya untuk memberdayakan warga setempat demi konservasi penyu belimbing.

(Fabio Maria Lopes Costa, Kompas)

Sumber: National Geographic, 19 Juni 2014
————–
Warga Indonesia, Malaysia terima penghargaan ‘Green Oscar’

Fitryanti Pakiding dan Melvin Gumal, masing-masing dari Papua Barat dan Sarawak, Malaysia, menerima Penghargaan Whitley di London atas usaha konservasi penyu dan orang utan.

Whitley Award 2014 atau yang sering disebut dengan nama Green Oscar tersebut diserahkan oleh Putri Anne di London, Kamis malam (08/05) waktu setempat.

Fitryanti Pakiding, dosen senior dan peneliti di Universitas Negeri Papua, menerima penghargaan atas usahanya melestarikan penyu belimbing di daerah Jamursba Medi dan Warmon.

Jenis penyu tersebut kini sangat langka di kawasan Pasifik.

“Kami bekerja dengan tim di pantai untuk menyelamatkan telur-telur penyu belimbing. Kami memonitor keberadaan telur-telur belimbing tersebut. Kami memindahkan mereka kalau pasir pantai terlalu panas atau kalau ombak terlalu besar yang bisa membawa mereka ke laut,” kata Fitryanti Pakiding dalam wawancara dengan BBC di London.

Hadiah
Di negara bagian Sarawak, Malaysia, konservasi dilakukan oleh Melvin Gumal, 49. Di daerah pedalaman Sarawak, Gumal melakukan penyuluhan dan pendidikan di kalangan masyarakat asli, misalnya etnik Iban, mengenai pentingnya menyelamatkan orang utan.

“Di setiap rumah panjang kami ada program drama dialog dan sebagainya. Yang kedua adalah dengan menggunakan radio. Radio drama dengan sekrip. Karena kawasan Sarawak jauh ke perkampungan, radio drama dibuat on air dan dalam bahasa Iban,” jelas Melvin Gumal kepada wartawan BBC Rohmatin Bonasir.

Intinya acara tersebut berisi pesan konservasi orang utan dan habitatnya. Salah satu hasilnya, kata Gumal, penduduk pedalaman kini menganggap tabu untuk menembak orang utan.

Baik Fitryanti Pakiding maupun Melvin Gumal menganggap hadiah yang mereka terima akan lebih meningkatkan konservasi yang mereka lakukan.

Melvin Gumal menerima hadiah sebesar £35.000 atau setara dengan Rp683 juta. Fitryanti Pakiding menerima hadiah awal £15,000 dan sisanya £20,000 akan diserahkan setelah menyelesaikan sejumlah laporan kepada panitia.

Mereka adalah dua dari delapan penerima Whitley Award 2014 yang dikeluarkan oleh Whitley Fund for Nature.

Sir David Attenborough, sejarawan dan pembawa acara legendaris untuk program-program alam tercatat sebagai salah satu pengurus yayasan itu.(Rohmatin Bonasir)

Sumber: bbc.co.uk, 9 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: