Home / Berita / Perangkat yang Dikenakan Kini di Sekujur Badan

Perangkat yang Dikenakan Kini di Sekujur Badan

Telepon seluler sudah menjadi perangkat yang tak bisa dipisahkan dari tangan manusia modern. Dari sana mereka terhubung dengan sesama, tersambung dengan jagat maya dan perpustakaan mahakaya, mengabadikan citra, dan menjadi sumber hiburan. Namun, semua belum cukup karena kini manusia bisa mengenakan perangkat pintar di badan mereka layaknya baju dan aksesori.


Inilah era perangkat yang dikenakan (wearable gadget) yang sedang berlangsung, kian banyak produsen yang merilis karya mereka seperti Samsung, Apple, Huawei, dan masih banyak lagi. Tren ini dipicu dua fungsi perangkat yang dikenakan, yakni pemantau kebugaran (fitness tracker) dan jam tangan pintar (smartwatch) yang berhasil memunculkan kebutuhan dan permintaan akan perangkat sejenis.

Pemantau kebugaran bekerja dengan mengirimkan data sesuai sensor yang terpasang, seperti jumlah langkah kaki, jarak, dan durasi dari aktivitas fisik, hingga pembaca denyut nadi. Sementara itu, smartwatch bertindak sebagai ekstensi dari ponsel yang memudahkan penggunanya mendapatkan pemberitahuan akan pesan singkat atau panggilan telepon yang masuk dengan menengok pergelangan tangan.

Salah satu penjelasan untuk tren ini adalah diri yang diukur atau quantified self, sebuah fenomena saat seseorang makin sadar untuk mengukur segala hal yang terjadi padanya. Beberapa hal seperti asupan kalori, aktivitas fisik berikut durasinya, sampai berapa jam yang dihabiskan untuk tidur dengan berbagai tujuan seperti kesehatan atau mencapai kondisi fisik yang lebih baik.

Sebuah penelitian yang dilakukan Pew Internet Research pada tahun 2013 mengungkapkan, 21 persen dari responden menggunakan produk teknologi, seperti perangkat atau aplikasi, untuk membantu mereka mengukur berbagai parameter tadi.

talkband-live-640x360Produsen elektronik Huawei meluncurkan Talkband B2, perangkat yang dikenakan di lengan untuk mengukur aktivitas badan, seperti langkah kaki, kalori yang dibakar, dan jam tidur. Perangkat ini dipamerkan dalam perhelatan Huawei Global Analyst Summit 2015 di Shenzen, Tiongkok, beberapa waktu lalu.–KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Penulis telah mengenakan Mi Band, salah satu produk perangkat yang dikenakan buatan Xiaomi, selama dua pekan terakhir. Mi Band adalah produk yang bisa didapatkan dengan harga di bawah Rp 300.000, jauh lebih terjangkau dibandingkan produk lain yang memiliki harga di atas Rp 1 juta.

Dengan memasang aplikasi Mi Fit di ponsel, gelang berbahan karet yang membungkus sensor tanpa layar itu segera tersambung dan mengirimkan data. Di balik perangkat yang tampaknya seperti gelang karet ini bekerja sebuah prosesor yang memantau aktivitas penggunanya.

Dengan perangkat tersebut yang mengikat pergelangan tangan, Mi Band mencatat jumlah langkah yang dibuat, berjalan kaki dari stasiun kereta api menuju kantor, ataupun ke lokasi liputan. Setiap saat perkembangannya bisa diketahui dari tampilan aplikasi di layar ponsel karena perangkat di tangan tidak menampilkan informasi apa pun kecuali tiga lampu indikator baterai.

Fenomena data besar
Pengalaman yang dirasakan sewaktu menggunakan perangkat di pergelangan tangan sungguh menarik karena kita kian sadar diri atas segala aktivitas fisik yang dilakukan. Bagi mereka yang mengidamkan kondisi fisik yang lebih baik, data yang disediakan bisa menjadi patokan untuk menentukan program latihan yang lebih baik di masa mendatang.

Kemudahan yang sama juga ditawarkan oleh jam tangan pintar, sebagian memiliki sensor untuk mendeteksi fisik tetapi umumnya memiliki layar untuk interaksi. Dari pergelangan tangan, pengguna bisa mengakses koleksi musik yang ada di dalam ponselnya, menjawab panggilan ataupun pesan singkat, hingga layanan navigasi yang bisa muat dalam layar berukuran 1,5 inci.

Beberapa jam tangan pintar juga dilengkapi fitur GPS tracker, yaitu pelacak pergerakan yang mengandalkan data koneksi ke GPS. Dengan pelacak GPS, seseorang yang memakai jam tangan pintar bisa dengan mudah ditemukan lokasinya. Fitur ini cocok bagi anak-anak, orang tua yang mulai pikun, para petualang yang riskan hilang di rimba belantara, hingga jurnalis yang sering bertugas di medan riskan.

Data dalam jumlah melimpah yang dihasilkan perangkat-perangkat tersebut adalah kekayaan bagi mereka yang bisa memilah, menganalisis, lantas memanfaatkannya. Tidak hanya untuk urusan pribadi, seperti kebugaran, beberapa faktor lain juga bisa didapatkan, seperti perbaikan lingkungan hingga konteks yang lebih besar lagi.

Ambil contoh, inisiatif yang diambil Hitachi High-Technologies pada awal tahun ini dengan mengembangkan perangkat yang mampu mendeteksi tingkat kebahagiaan berdasarkan pergerakan yang dibuat. Dengan data tersebut bisa diprediksi mengenai tingkat kebahagiaan dan akhirnya berkorelasi dengan produktivitas kerja.

Atau contoh lain, seperti Tobii, perusahaan asal Swedia yang mengembangkan kacamata yang mampu mencatat pergerakan fokus pandangan untuk mengetahui apa yang dilihat oleh konsumen pertama kali begitu memandang sebuah bidang, misalnya rak produk di sebuah swalayan.

Data yang melimpah memberikan kesempatan bagi industri lain untuk tumbuh, yakni analitik, mereka memilah seperangkat data yang relevan, menerjemahkan, lantas membuat rekomendasi untuk efisiensi atau optimalisasi kerja.

Sebuah laporan yang dirilis Tractica, populasi perangkat yang dikenakan akan terus meroket dari 1,6 juta unit tahun 2013 menjadi 27,5 juta unit pada 2020. Pertumbuhan itu seiring dengan meningkatnya pasar yang semula 14 juta dollar AS pada 2013 menjadi 6,3 miliar dollar AS tahun 2020.

Meningkatnya pasar perangkat ini kian diyakini karena mereka menawarkan efisiensi yang tidak ditemui di ponsel. Seorang karyawan akan lebih efisien dengan perangkat di pergelangan tangan tanpa harus teralihkan perhatiannya dengan beberapa kali menengok ke layar ponsel. Keberadaan perangkat ini tidak akan menggeser ponsel, tetapi justru memanfaatkannya sebagai muara dari data yang mereka kumpulkan.

Tentu ada yang khawatir dengan tren ini, seolah kian sempit ruang bagi manusia untuk menjadi manusiawi karena segala yang dilakukan kini diartikan sebagai statistik dan bisa diprediksi. Ini adalah masa depan yang sudah tak lagi terpaut jauh dengan hari ini. Siap tidak siap, masa depan sudah datang.(DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 Juni 2015, di halaman 36 dengan judul “Perangkat yang Dikenakan Kini di Sekujur Badan”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: