Penyuluh Pertanian Bumikan Hasil Riset

- Editor

Jumat, 6 Juli 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemajuan industri pertanian, peternakan, dan perkebunan di Belanda ikut ditopang kuatnya penelitian dan inovasi serta keaktifan para penyuluh pertanian pemerintah. Mereka berfungsi sebagai perantara ilmu antara dunia akademis dengan petani.

Hal tersebut dikemukakan Pejabat Kerja Sama Internasional untuk Indonesia di Universitas dan Pusat Penelitian Wageningen Belanda Henk Hogeveen dalam acara Wageningen Indonesian Network Scientific Exposure di Cibinong, Kamis (5/7/2018). Acara tersebut diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mengambil tema “Ketahanan Pangan, Kesehatan dan Ekologi”.

“Fungsi penyuluh dari pemerintah ialah membumikan hasil penelitian di perguruan tinggi dan pusat-pusat riset,” ujar Hogeveen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika perguruan tinggi dan pusat penelitian menemukan inovasi baik dalam wujud alat, metode, sistem, maupun keterampilan, Hogeveen mengatakan, mereka berkoordinasi dengan pemerintah. Penyuluh kemudian membawa inovasi itu kepada para petani.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Enny Sudarmonowati (memegang mikrofon) menjelaskan tentang tantangan industri pertanian Indonesia.

“Penyuluh mengajari petani cara menerapkan inovasi tersebut. Setelah itu, petani menyampaikan keluhan ataupun saran atas inovasi yang oleh penyuluh nantinya diteruskan kepada peneliti,” papar Hogeveen, yang juga profesor di bidang ekonomi pertanian.

Kerja sama timbal balik tersebut sangat dibutuhkan bagi para peneliti. Peneliti memang wajib turun ke lapangan, akan tetapi intensitasnya tidak sebanyak penyuluh pertanian.

Petani pembelajar
Kunci kedua dalam kemajuan industri pertanian Belanda, lanjut Hogeveen, adalah mental wirausaha yang dimiliki petani. Para petani, termasuk tenaga kerja di lahan pertanian, berpendidikan minimal SMK jurusan pertanian. Mereka memiliki pengetahuan akademis dan keterampilan mendasar mengenai musim tanam, jenis bibit, irigasi, pupuk, pengolahan produk dan pemasaran.

“Adanya pengetahuan berlandaskan akademis membuat petani tidak cepat puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Mereka selalu mencari cara untuk meningkatkan produksi, mengefisienkan produksi, hingga menjadikan pertanian mereka ramah lingkungan,” ujar Hogeveen.

Kebutuhan petani akan inovasi membuat mereka bersemangat mempelajari ilmu dan teknologi terbaru. Perguruan tinggi dan pusat penelitian mengisi kebutuhan tersebut dengan memberi jalan keluar bagi permasalahan di sektor pertanian secara menyeluruh.

Tingkatkan inovasi
Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengungkapkan, pusat-pusat penelitian di Indonesia mulai bergerak ke arah inovasi. Ia mengakui, dulu peneliti lebih banyak mengembangkan ilmu pengetahuan hakiki, tetapi kurang mendalami ilmu terapan. Akibatnya, hasil penelitian hanya eksklusif untuk disimpan di laboratorium dan jurnal-jurnal ilmiah.

“Sekarang sudah ada sistem untuk mengembangkan penelitian murni dan penelitian terapan sekaligus,” ucapnya.

Selain itu, LIPI juga menjalin kerja sama dengan berbagai badan penelitian dan pengembangan di bawah kementerian. Tujuannya agar penelitian tidak tumpang tindih, melainkan saling mengisi.

“Butuh pula komitmen dari sektor industri dan perdagangan untuk mau menggunakan inovasi karya peneliti lokal. Selama ini, hal tersebut adalah tantangan karena dunia industri lebih suka mengimpor alat dan bahan berkat harga murah,” jelas Enny.

Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ocky Karna Radjasa mengatakan, pada tahun 2018 tercatat jumlah purwarupa yang telah dibuat peneliti Indonesia ada 25 buah. Angka tersebut meningkat dari 20 purwarupa di tahun 2017.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 6 Juli 2018

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB