Home / Berita / Penyimpanan Data Tingkat Atom Dirintis

Penyimpanan Data Tingkat Atom Dirintis

Ilmuwan berhasil membuat magnet seukuran atom, membuka jalan untuk membuat sarana penyimpanan data yang berukuran lebih ringkas. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature ini menyebut dua magnet berukuran atom bisa menyimpan 2 bit data. Sebagai perbandingan, perangkat penyimpan data komersial saat ini butuh 1 juta atom untuk membuat magnet guna menyimpan 1 bit informasi.

Pencapaian ini memungkinkan ukuran penyimpan data bisa 1.000 kali lebih kecil. Untuk mewujudkan hal itu digunakan atom logam holmium yang memiliki banyak elektron tak berpasangan dan menghasilkan medan magnet kuat. Tim peneliti menggunakan arus listrik untuk mengubah orientasi medan magnet atom dari 0 dan 1 dan hasilnya bisa bertahan untuk beberapa jam.(NATURE/ELD)
————————-
Genus Kodok Baru dari Sumatera

Jurnal daring BioOne menyebutkan penemuan dua genus kodok baru dari Gunung Sorikmarapi (Sumut) dan Gunung Kunyit (Jambi). Temuan Utpal Smart (University of Texas, Amerika Serikat) dan 7 koleganya-termasuk peneliti LIPI, Amir Hamidy, dan peneliti Universitas Brawijaya, Nia Kurniawan-menemukan marga/genus baru Sigalegalephrynus. Riset lapangan pada Juni 2013-Februari 2014 itu juga menemukan dua spesies baru, yakni S mandailinguensis dan S minangkabauensis. Mereka menggunakan data DNA mitokondria dan DNA inti kodok dari famili Bufonidae yang terdapat di wilayah Paparan Sunda untuk membuat hipotesis filogenetik mengenai hubungan kekerabatan antarmarga kodok tersebut. (ICH)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

——————–

Hibah Penelitian Internasional Diluncurkan

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir serta Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk RI Brian McFeeters meluncurkan kegiatan USAID’s Sustainable Higher Education Research Alliances Program (USAID SHERA) di Jakarta, Selasa (21/3).

Program ini menyediakan hibah penelitian senilai 20 juta dollar AS untuk meningkatkan kapasitas perguruan tinggi. Diharapkan lahir penelitian-penelitian bertaraf internasional. Penelitian itu dilakukan berbasis kerja sama melalui Pusat Kolaborasi Riset yang diusung USAID SHERA dan jadi wadah akademisi, peneliti, pemerintah daerah, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat di Indonesia dan AS. (*/ELN)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Maret 2017, di halaman 12 dengan judul “Langkan”.

——————

Gempa yang Guncang Bali Dipicu Penyesaran Naik

Gempa berkekuatan M 5,6 mengguncang wilayah Bali, Jawa Timur, dan Lombok, Rabu (22/3), pukul 06.10. Pusat gempa di Samudra Hindia sekitar 12 kilometer arah tenggara Kota Denpasar di kedalaman 125 kilometer. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gempa ini berkedalaman menengah akibat aktivitas tumbukan lempeng. Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan laju 70 milimeter per tahun mengalami patahan tepat di zona Benioff, di lepas pantai selatan Pulau Bali. ”Gempa bumi ini dipicu penyesaran naik,” katanya. (AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

——————–

Sosialisasi Nuklir kepada 1.000 Anak Panti Asuhan

Lembaga Kemanusiaan ESQ bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengadakan edutainment (pendidikan dan hiburan) bertema ”Ayo Cerdas Berteknologi”. Acara yang diadakan di Pusat Aplikasi Isotop Radiasi Batan, Pasar Jumat, Jakarta, Kamis (15/6), ini melibatkan 1.000 anak yatim duafa dari Jabodetabek dan Cikarang. Dengan tagline ”Nuklir Sahabat Kita”, anak-anak mendapat edukasi tentang pemanfaatan teknologi nuklir untuk berbagai bidang, yaitu pertanian, peternakan, kesehatan, lingkungan, industri, energi, dan untuk hankam,” ujar Kepala Batan Darot S Wisnubroto. Melalui kegiatan ini anak diharapkan dapat termotivasi untuk berprofesi sebagai peneliti. Dalam acara edutainmen ini diadakan permainan tentang “Mencari Harta Karun“, tujuannya untuk melatih anak belajar mendeteksi sumber radiasi nuklir dan mengenal beberapa alat peraga teknologi nuklir. (*/YUN)
————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: