Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

- Editor

Jumat, 7 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tanaman mangrove yang rusak dan roboh di Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (9/3/2020). Kawasan mangrove saat ini mulai dilestarikan kembali untuk melindungi kawasan pesisir agar terhindar dari abrasi yang kian parah.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
09-03-2020

Tanaman mangrove yang rusak dan roboh di Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (9/3/2020). Kawasan mangrove saat ini mulai dilestarikan kembali untuk melindungi kawasan pesisir agar terhindar dari abrasi yang kian parah. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 09-03-2020

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi berbasis Android bernama MonMang.

Pemantauan dan pengelolaan mangrove yang terstruktur dan berkala sangat penting untuk membantu memetakan serta menjaga keberlangsungan ekosistem mengrove. Namun, kegiatan monitoring mangrove kerap menyita waktu dan biaya sehingga dibutuhkan dukungan aplikasi yang mudah digunakan dan efisien.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), I Wayan Eka Dharmawan, memaparkan, keterbatasan waktu dan biaya merupakan kendala yang sering dijumpai saat proses monitoring mangrove. Hal ini karena zonasi dan luas area mangrove yang sangat kompleks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Mangrove itu bukan hutan yang homogen dan memiliki zonasi berdasarkan salinitas dan geomorfologi pantainya. Jenis mangrove di bagian depan akan berbeda dengan yang ada di bagian belakang karena airnya semakin tawar,” ujarnya dalam diskusi daring, Kamis (6/8/2020).

Agar kendala tersebut dapat diminimalkan, LIPI memanfaatkan penginderaan jauh dan teknologi terkini yang mudah diikuti, tetapi tetap berbasis ilmiah. Pemanfaatan tersebut menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi berbasis Android bernama MonMang.

Aplikasi MonMang dapat digunakan untuk mengambil data dan melakukan pengukuran saat kegiatan monitoring mangrove di lokasi. Dalam aplikasi telah disediakan tools sesuai paramater struktur komunitas, seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi, dominasi, dan indeks kesehatan mangrove.

Pada akhirnya aplikasi ini dapat memudahkan surveior atau peneliti karena tidak perlu menyalin data kembali seusai memonitor mangrove di lokasi. Analisis kesehatan mangrove pun dapat dilakukan dengan lebih cepat, efektif, dan efisien.

”Kami berharap tools ini bisa dipakai bersama karena akan ada satu sumber dari basis data dengan parameter yang sama. Pengelolaan mangrove juga akan lebih mudah jika datanya seragam,” tutur Eka.

Andarta Khoir dari Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah LIPI mengatakan, dengan menggunakan aplikasi MongMang, seluruh data yang diambil bisa tersimpan di dalam basis data yang ada di ponsel. Data yang berupa berkas (file) berformat Excel dan foto dapat dipindahkan ke perangkat komputer atau laptop.

”Dengan MongMang kita dapat dengan mudah melakukan pengukuran kanopi. Jadi, kita tidak perlu mengunduh foto, menggeser sidebar dengan aplikasi lain. Jadi, MonMang sangat mendukung dokumentasi,” tambahnya.

Kondisi kritis
Kepala Seksi Reboisasi Hutan Mangrove dan Pantai, Direktorat Konservasi Tanah dan Air, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bagus Dwi Rahmanto mengatakan, ekosistem mangrove di Indonesia seluas 3,3 juta hektar. Dari jumlah tersebut, seluas lebih dari 630.000 hektar atau 19,26 persen mangrove masuk kondisi kritis.

Bagus menyatakan, kerusakan akibat perubahan penggunaan lahan mangrove dapat diketahui melalui kegiatan monitoring. Hasil monitoring juga dapat menjadi landasan untuk memperbaiki ekosistem mangrove.

Menurut Center for International Forestry Research (Cifor), saat ini ekosistem mangrove Indonesia mengalami tekanan dengan ancaman degradasi tinggi seluas 52.000 hektar per tahun. Ancaman tersebut diakibatkan oleh alih fungsi lahan, pencemaran limbah, penebangan liar, dan meningkatnya laju abrasi.

Dari permasalahan tersebut, Direktorat Konservasi Tanah dan Air KLHK terus mendorong agar pemerintah daerah menetapkan mangrove sebagai kawasan lindung setempat yang dituangkan dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW). Pengembangan ekowisata juga dapat dilakukan sebagai upaya pemanfaatan berkelanjutan.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 6 Agustus 2020

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB