Home / Berita / Pengembangan Jurnal Ilmiah Terkendala Sumber Daya

Pengembangan Jurnal Ilmiah Terkendala Sumber Daya

Perluasan peringkat akreditasi jurnal ilmiah membuka peluang bagi pengelola jurnal untuk meningkatkan mutu penerbitan. Namun, pengembangan jurnal ilmiah masih terkendala dalam kemampuan sumber daya dari para pengelola serta artikel ilmiah berkualitas.

Pemerintah berkomitmen mrmembenahi kualitas jurnal ilmiah di Indonesia yang diterbitkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun asosiasi profesi. Hal itu tampak dari terbitnya Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 Tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah.

Dengan pendekatan pembinaan, ada upaya untuk terus menambah jurnal internasional bereputasi yang jumlahnya baru 37 jurnal. Asisten Editor Jurnal Agriekonomika di Universitas Trunojoyo, Madura, Umar Khasan, Jumat (18/5/2018), mengatakan konsistensi untuk terus mengembangkan jurnal harus ditunjukkan para pengelola. Apalagi bagi jurnal ilmiah yang baru terbit atau belum terakreditasi, umumnya masih sulit untuk mendapatkan artikel berkualitas yang memenuhi syarat.

“Di awal-awat terbit pada 2012, sulit untuk memenuhi artikel ilmiah yang diterbitkan. Kebutuhan enam artikel, namun yang tersedia kurang. Namun, pengelola harus terus berjuang. Kami sempat mengolah skripsi mahasiswa S1 untuk memenuhi artikel yang harus diterbitkan di jurnal,” kata Umar.

Menurut Umar, dengan terus mempelajari tata kelola jurnal, secara perlahan kualitas jurnal diperbaiki. Dengan berjuang untuk terindeks, Directory of Open Access Journal (DOAJ) kepercayaan pada jurnal pun meningkat. Para dosen dan peneliti lebih melirik jurnal ilmiah terindeks DOAJ (jurnal internasional kategori sedang) dibanding yang jurnal nasional biasa karena pengakuan kreditnya lebih tinggi lima poin yakni 15.

“Dengan adanya aturan baru soal akreditasi jurnal ilmiah, kita berharap supaya semakin banyak jurnal ilmiah dari Indonesia yang diakui secara internasional,” kata Umar.

Secara terpisah, Manajer Universitas Prasetya Mulya Publishing Eko Yulianto Napitupulu (penerbit International Research of Business Studies) mengatakan, aturan baru akreditasi jurnal ilmiah di satu sisi berita bagus untuk banyak pengelola jurnal ilmiah yang belum terakreditasi. Perluasan peringkat membuka pintu harapan lebih luas bagi pengelola non akreditasi untuk masuk daftar akreditasi. Sementara yang sudah di peringkat S2, bagai dipompa tantangan untuk masuk tataran indeksasi internasional.

Eko menambahkan, di sisi lain, aturan baru tersebut jadi sebuah tantangan besar bagi perguruan tinggi/pengelola yang belum memakai open journal system (OJS). Mereka dipaksa untuk segera memperbarui diri dalam pengelolaannya karena instrumen pengukuran kinerja riset yaitu Science and Technology Index (Sinta) atau pengindeksan yang dibuat Kemristek dan Dikti, mematok syarat standar yaitu OJS.

Eko mengatakan pada awal Januari diadakan workshop nasional OJS dan indeksasi DOAJ pesertanya 230 jurnal. Namun, belum seluruhnya menerapkan OJS dalam penerbitan.

“Kalau belum OJS, berarti kan belum bisa masuk peringkat S6 atau yang terendah,” ujar Eko.

Dalam pengelolaan jurnal ilmiah berbasis OJS, ujar Eko, butuh ketekunan dan kerelaan diri dari banyak pengelola yang senior (usia). Sebaliknya, pengelola jurnal yang muda dan mau bersentuhan dengan teknologi masih minim.

Dalam pengembangan jurnal agar bisa terakredtasi, lanjut Eko, isu yang paling penting soal SDM. Kebdala yang dijadapi, antara lain reviewer yang guru besar dan doktor umumnya kurang familiar dengan review online.

Demikian pula pengelola yang juga dosen dan umumnya dosen senior dari sisi umur, juga tergagap dengan alur naskah OJS. Termasuk pula kendala infrastruktur seperti jaringan di banyak PT, belum maksimal, jadi sering down. “Ya memang ujungnya investasi dana infrastruktur jaringan,” ujar Eko.

Kendala reviewer juga bisa jadi menghambat eksistensi jurnal.

Reviewer umumnya tidak dapat imbalan, tapi apresiasi lebih ke moril misal (undangan seminar/konferensi gratis dari jurnal. Perekrutannya kebanyakan jaringan pribadi para pengelola tetap, yang sekolah di luar negeri atau dalam negeri

Peran para reviwer ini sangat penting untuk peningkatan kualitas artikel. Namun sering terkendala waktu penyuntingan karena jadwal padat mengajar atau kegiatan birokrasi. Maka mereka sering hanya mau menerima permintaan review 1-2 artikel saja dalam setahun

“Sistem reviewer ini penting, harus double blind review. Ini merupakan integritas sebuah jurnal ilmiah yang berkualitas,” jelas Eko.

Kendala utama pengembangan jurnal yakni konsistensi jadwal terbit. Tantangan ini akibat miskin artikel berkualitas.

Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Pengembngan Riset dan Pengembangan, Kemristek dan Dikti, Sadjuga, mengatakan dengn adanya Permenristekdikti Nomor 9 Tahun 2018 tentang akreditasi Jurnal Ilmiah, membuat peluang akreditasi dipakai untuk pengembangan jurnal agar terus meningkat mutunya. Institusi perguruan tinggi atau lembaga penelitian fapat menetapkan acuan jurnal ilmiah standar tertentu dalam penilaian kenaikan pangkat atau lainnya.

“Kebutuhan jurnl berkualitas harua dikembangkan. Apalagi Indonesia mulai mengembamgkan Sinta yang potensial jug menjadi pengindeks jurnal yang diperhitungkan,” kata Sadjuga. (ELN)–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 19 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: