Home / Berita / Penerbit Optimistis Buku Cetak Tetap Dibutuhkan dan Miliki Pasar Tersendiri

Penerbit Optimistis Buku Cetak Tetap Dibutuhkan dan Miliki Pasar Tersendiri

Buku cetak akan selalu dibutuhkan dan memiliki pasar tersendiri. Kemajuan teknologi tidak dianggap sebagai hambatan penurunan minat baca. Justru penerbit buku semakin optimistis bahwa buku Indonesia akan semakin mendunia.

Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Rosidayati Rozalina mengatakan, dalam menghadapi tantangan digital saat ini, kemajuan teknologi justru memperbesar akses ke pasar dan memberikan orang banyak pilihan untuk mengakses buku.

“Buku digital maupun buku fisik mempunyai pasarnya sendiri. Jadi masing masing saling melengkapi, bukan saling mematikan. Kemajuan teknologi mengakselerasi buku tersebut,” kata Rosidayati seusai acara Publishing Insights di Indonesia International Book Fair (IIBF), Jakarta, Kamis (13/9/2018).

MELATI MEWANGI UNTUK KOMPAS–Deretan buku yang tersusun rapi dan dijual dalam acara Indonesia International Book Fair, Kamis (13/9/2018) di Jakarta Convention Center. Hadirnya sejumlah penerbit dalam acara tersebut menunjukkan dunia penerbitan masih tetap eksis dan diminati oleh pencinta buku.

Buku digital maupun buku fisik mempunyai pasarnya sendiri. Jadi masing masing saling melengkapi, bukan saling mematikan.

Menurut data IKAPI per September 2018, terdapat 1.561 anggota penerbit aktif maupun nonaktif yang terdaftar dalam IKAPI. Adapun komposisi penerbit berdasarkan buku yang diterbitkan adalah buku umum sebesar 69 persen, buku agama 35 persen, dan buku sekolah 37 persen.

MELATI MEWANGI UNTUK KOMPAS–Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Rosidayati Rozalina .

Selanjutnya, buku anak dan remaja sebanyak 20 persen dan buku perguruan tinggi sejumlah 12 persen. Dengan catatan satu penerbit dapat menerbitkan lebih dari satu jenis buku.

Ketua Komite Buku Nasional Laura Prinsloo, menuturkan, disrupsi teknologi di industri penerbitan menuntut penerbit untuk melihat peluang tidak hanya buku cetak tapi juga melalui platform lain.

“Buku cetak tidak akan mati atau punah karena tetap memiliki pasar tersendiri,” kata Laura.

MELATI MEWANGI–Ketua Komite Buku Nasional, Laura Prinsloo

Sejumlah tantangan yang dihadapi oleh dunia penerbitan misalnya, masalah perpajakan buku dan biaya produksi yang tinggi. Keduanya akan berpengaruh terhadap harga buku, royalti penulis, dan keuntungan penerbit.

Buku Indonesia di pasar dunia
Dalam IIBF diadakan pula “Business Match Making”. Acara ini diharapkan dapat mempertemukan penerbit lokal dengan penerbit luar negeri sehingga terjadi transaksi hak cipta buku antara kedua penerbit itu.

Tahun lalu, ada 36 judul buku nasional yang masuk dalam transaksi hak cipta kepada penerbit asing. Tahun ini ditargetkan setidaknya 45 judul buku bisa masuk dalam transaksi.

“Business Match Making ini juga untuk mendorong penerbit lokal untuk bertemu dengan penerbit di kancah dunia, serta melihat buku seperti yang diminati pasar dunia,” ujar Rosidayati.

Rina Wulandari, Editor Falcon Publishing, sudah dua kali mengikuti “Business Match Making” IIBF. Tahun lalu, ia mengikuti acara itu untuk melihat pasar buku yang diminati oleh penerbit asing yaitu buku anak.

MELATI MEWANGI–Indonesia Internasional Book Fair

Berdasarkan pengalaman tersebut, tahun ini pihaknya menerbitkan buku anak berbahasa Inggris untuk ditawarkan ke penerbit asing. Menurut dia, hak cipta buku yang dibeli oleh penerbit asing akan membantu untuk mengimbangi biaya produksi buku yang dikeluarkan.

“Juga sebagai bentuk promosi di dalam negeri. Kalau di luar negeri saja laku, di Indonesia kenapa tidak,” kata Rina.

Senada dengan Rina, Shera Diva, Editor Akuisisi Naskah Asing Penerbit Noura Publishing, juga telah dua kali mengikuti acara itu dua kali yaitu pada 2016 dan 2018. Buku yang ia tawarkan ke penerbit asing jumlahnya puluhan. Ia juga membawa katalog buku untuk ditampilkan.

“Walaupun penjualan dalam negeri ada penurunan, namun kami tetap harus optimistis bisa menunjukan eksistensi Indonesia dalam literasi dunia,” ucap Shera.

Rina dan Shera adalah suara yang mewakili penerbit lokal untuk tetap optimistis bahwa dunia penerbitan di Indonesia selalu eksis. Mereka meyakini dunia penerbitan Indonesia juga akan mendunia.

Laura menjelaskan, setiap negara memiliki pasar jenis buku yang berbeda. Misalnya Asia cenderung tertarik pada buku akademis atau pendidikan dan nonfiksi. Sedangkan Eropa lebih berminat pada jenis buku novel dan fiksi.(MELATI MEWANGI)–ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 13 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: