Peneliti Ditantang Menulis Kajian Ilmiah dalam Bahasa Awam

- Editor

Selasa, 8 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menantang para peneliti mengembangkan kemampuan menulis populer. Tujuannya agar mampu menyampaikan hasil riset ke masyarakat dalam bahasa yang mudah dipahami awam, tidak hanya kalangan peneliti.

Terbitan ilmiah selama ini cenderung ditulis dalam format laporan ilmiah yang kaku dan penuh dengan bahasa teknis. Padahal, agar bisa bermanfaat bagi masyarakat, hasil riset perlu dipahami oleh masyarakat.

“Jika kita melihat tulisan yang diterbitkan jurnal internasional atau nasional, kebanyakan segmen pembaca terbatas. Bahkan, tersegregasi ke dalam komunitas ilmiah yang lebih spesifik,” ujar Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain saat berpidato sebelum Pemberian Penghargaan dan Bedah Buku LIPI Press 2015 di Jakarta, Selasa (8/12).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang-orang dengan latar belakang keilmuan berbeda pun kemungkinan tidak memahami isi riset di jurnal tersebut. Di sisi lain, LIPI bertanggung jawab membangun budaya ilmu pengetahuan dan teknologi bagi seluruh kalangan masyarakat, tidak terbatas latar belakang keilmuan.

Karena itu, Iskandar meminta para peneliti membuat tulisan yang lebih menarik, tidak sekadar mengejar hasil risetnya masuk publikasi. Jika menggunakan format tulisan di jurnal, tulisan tidak akan menarik bagi masyarakat umum.

kekinian indonesia ok“Misalnya, bagaimana tulisan yang menjelaskan teori relativitas Einstein bisa dibaca seperti novel,” ujar Iskandar. Dengan demikian, masyarakat mudah memahami informasi yang semula disajikan dengan rumit. Hal itu menjadi tantangan bagi LIPI Press, lembaga penerbitan hasil riset para peneliti LIPI, untuk menumbuhkan minat baca masyarakat terhadap terbitan-terbitan LIPI Press.

Hari ini, LIPI memberi penghargaan kepada penulis buku-buku hasil riset berkualitas yang diterbitkan LIPI Press. Ini bertujuan menjaga mutu ilmiah serta menyebarkan informasi ilmiah ke masyarakat luas. Selain itu, meningkatkan motivasi peneliti untuk produktif menghasilkan terbitan-terbitan ilmiah.

Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, empat finalis buku terpilih untuk menerima penghargaan buku terbaik. Buku yang menang itu berjudul “Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia”, “Politik Luar Negeri dan Isu Keamanan Energi”, “Model Pengurangan Kemiskinan Melalui Penguatan Ketahanan Pangan”, dan “Menuju Ketahanan Energi Nasional Melalui Industri Konverter Gas Nasional”. Adapun buku berjudul “Optimalisasi Pemanfaatan Sumber Daya Ekonomi Kelautan: Sistem Pembiayaan Nelayan” terpilih sebagai buku dengan distribusi penjualan terbanyak.

LIPI bertanggung jawab menyampaikan hasil penelitian kepada para pemangku kepentingan melalui terbitan ilmiah. Buku ilmiah merupakan salah satu luaran dari setiap kegiatan riset yang selesai dilaksanakan.

Selain itu, LIPI mengadakan bedah buku “Politik Luar Negeri dan Isu Keamanan Energi”. Buku tersebut mengkaji isu keamanan non tradisional (bukan terkait militer) yang strategis bagi kebijakan luar negeri dan diplomasi RI.

Selama ini, kebijakan energi Indonesia dinilai masih berorientasi domestik. Perhatian pemerintah hanya fokus pada pengelolaan energi di tingkat domestik, padahal keamanan energi bisa menjadi komoditas penting dalam berdiplomasi.

Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Bambang Subiyanto menuturkan, sejak LIPI Press terbentuk pada 2002 hingga 30 Oktober 2015, telah terbit lebih dari 13.000 eksemplar buku dan jurnal dengan 752 judul terdistribusi ke lebih dari 30 kota. Dalam tiga tahun terakhir, sejumlah terbitan terpilih sudah terdistribusi ke berbagai negara Asia melalui ajang promosi buku tingkat regional dan internasional.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 8 Desember 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB