Home / Berita / Pendidikan Jarak Jauh Makin Digalakkan

Pendidikan Jarak Jauh Makin Digalakkan

suasana orientasi mahasiswa baru Binus Online Learning di Jakarta, Rabu (28/2/2018). Kuliah secara daring terus dikembangkan di Indonesia.

Pendidikan jarak jauh di perguruan tinggi mulai diakui dan semakin didorong dengan adanya Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 51/2018 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran Perguruan Tinggi Negeri, dan Pendirian, Perubahan dan Pencabutan izin Perguruan Tinggi Swasta. Namun, kualitas penyelenggaraan pendidikan jarak jauh harus tetap dijamin melalui Institut Pendidikan Siber Indonesia.

Pengoptimalan pendidikan jarak jauh di perguruan tinggi sebagai salah satu terobosan disrupsi inovasi menjadi salah satu kebijakan yang disosialisaikan dalam rapat kerja Kemnterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (KemristekdiktI) 2019 di Universitas Diponegoro, Semarang, pada 3-5 Maret. Pendidikan jarak jauh (PJJ) sudah mulai dikembangkan secara terbatas lewat perguruan tinggi yang memang didesain sejak awal sebagai PKJJ seperti Universitas Terbuka maupun lewat perguruan tinggi konvensional yang berhasil menyelenggarakan perkuliahan reguler dengan ekosistem PJJ maupun yang berbasis online.

Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemristekdikti, Patdono Suwignjo, di Jakarta, Senin (7/1/2019), mengatakan memang ada beberapa pandangan dalam memandang kebijakan PJJ. Ada yang berpandangan PJJ dengan sistem daring (online) lebih pada perubahan model pembelajaran yang dari konvensional beralih ke daring sehingga tidak perlu ada izin. Sebaliknya, ada yang berpandangan perlu ada izin.

“Kondisi di Indonesia saat ini dirasa masih perlu ada izin demi menjamin kualitas dalam penyelenggaraan PJJ. Untuk penyelenggaraan mata kuliah daring secara nasional perlu izin dari Dirjen Pembelajaran dan Kemahasisaan, sedangkan yang program studi daring lebih dari 50 persen dari jumlah mata kuliah harus izin menteri. Demikian pula untuk perguruan tinggi yang PJJ harus izin menteri,”jelas Patdono.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Direktur Jenderal Kelembagaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo memberi presentasi tentang tata kelola perguruan tinggi swasta.

Patdono juga mengingatkan perlunya memberi pemahaman yang benar pada masyarakat bahwa PJJ belum tentu lebih murah dari PT konvensional atau tatap muka. Dari kajian di beberapa perguruan tinggi maju di berbagai negara dan benua yang menyelenggarakan PJJ yang berkualitas tinggi, butuh investasi yang tinggi untuk menyediakan infrastruktur teknologi, menyediakan konten, hingga menyiapkan dosen.

“Penyiapan dosen ini menjadi salah satu fokus yang harus serius. Sebab, dosen harus dilatih dulu untuk bisa menjalankan PJJ yang membutuhkan kemampuan baru dosen dalam menjalankan perannya sebagai pendidik yang tetap mampu mendorong mahasiswa tertantang belajar,” kata Patdono.

Menurut Patdono, Institut Pendidikan Siber Indonesia dibentuk Kemristekdikti untuk menjamin kualitas PJJ. “Harus dipastikan mata kuliah, prodi, atau PTT yang menerapkan online nanti tetap terjamin kualitas pendidikannya sebelum diijinkan beroperasi,”kata Patdono.

Penyelenggaraan PJJ dalam Permenristekdikti diatur Pasal 39 mengatur PJJ. Disebutkan PJJ punya karakteristik terbuka, belajar mandiri, belajar di mana dan kapan saja, serta berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Dengan sistem terbuka, antara lain ada konsekuensi seperti perkuliahan jadi lebih fleksibel, tanpa batasan usia, dan kewarganegaraan.

Rektor Universitas Terbuka Ojat Darojat menyampaikan pengalaman UT selama 33 tahun mengembangkan pendidikan terbuka dan jarak jauh di Indonesia. Pemaparan disampaikan pada perwakilan pimpinan 90 perguruan tinggi negeri yang didorong menerapkan pembelajaran online.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar mengatakan pengembangan PJJ sebenarnya sudah siap dilakukan. Selama ini sudah ada IdREN atau Indonesian Research and Education Network yang sudah menghubungkan 80 PT.

Saat ini, sudah ada 49 program studi jarak jauh, sebanyak 300-400 mata kuliah daring , dan satu PT terbuka dan jarak jauh yakni Universitas Terbuka (UT).

Rektor UT Ojat Darojat mengatakan PT jarak jauh atau online membuka akses kuliah bagi banyak anak muda mahasiswa Indonesia. Kondisi geografis dan ekonomi masih jadi hambatan lulusan SMA/SMK untuk kuliah.

Sementara itu, Rektor Binus University Harjanto Prabowo mengatakan Binus yang awalnya universitas konvensional mengembangkan Binus Online Learning. Pengembangan pembelajaran online bukan hanya soal infrastruktur. Yang paling utama, menyiapkan dosen untuk mampu menjalankan perkuliahan secara online yang menantang mahasiswa.

Peningkatan mutu PT untuk menghasilkan lulusan yang unggul juga dengan mengembangkan teaching industry di kampus. Kemampuan PT untuk bermitra dengan industri menjadi kuncinya.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 8 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: