Home / Berita / Astronomi / Penanggalan Hijriyah; Ramadhan Beda, Lebaran Sama

Penanggalan Hijriyah; Ramadhan Beda, Lebaran Sama

Sama seperti tahun lalu, Ramadhan 1435 Hijriah atau 2014 ini kemungkinan besar dimulai berbeda, tetapi diakhiri bersama. Artinya, Idul Fitri akan berlangsung serentak. Selama belum ada kriteria awal bulan hijriah yang disepakati semua organisasi massa Islam dan Pemerintah Indonesia, perbedaan akan terus berulang meski tidak terjadi setiap tahun.

Sebagian organisasi massa Islam yang memakai perhitungan terbentuknya hilal (wujudul hilal) sudah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu (28/6). Sementara kalender pemerintah yang disusun berdasarkan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkan rukyat) menyebut 1 Ramadhan jatuh pada Minggu (29/6).

Hilal yang jadi obyek penentu awal bulan hijriah adalah bulan sabit tipis yang terlihat sesaat setelah Matahari terbenam sesudah terjadi konjungsi (ijtimak). Hilal tak mungkin terlihat sebelum Matahari terbenam.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyebut konjungsi atau peristiwa saat bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari yang menandai datangnya bulan baru terjadi Jumat (27/6) pukul 15.09 WIB atau 17.09 WIT.

Saat Matahari terbenam pada Jumat petang itu, ketinggian Bulan tertinggi di Indonesia ada di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, sebesar 0,40 derajat. Sudut elongasi atau jarak sudut Bulan dan Matahari 4,69 derajat.

Di tempat itu, Matahari terbenam pukul 17.48 WIB dan Bulan terbenam pukul 17.51 WIB. Artinya, umur Bulan sejak konjungsi hingga terbenam 2 jam 42 menit.

Kriteria terbentuknya hilal mensyaratkan awal bulan hijriah terjadi jika konjungsi yang terjadi sebelum Matahari terbenam dan Matahari tenggelam mendahului Bulan. Dengan data hilal itu, masyarakat pengguna kriteria itu menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Sabtu (28/6).

Adapun mereka yang memakai kriteria kemungkinan terlihatnya hilal mensyaratkan awal bulan hijriah terjadi jika ketinggian Bulan di atas ufuk minimal 2 derajat, sudut elongasi Bulan dan Matahari minimal 3 derajat, dan umur Bulan minimal 8 jam saat Matahari terbenam sesudah konjungsi.

Syarat itu diperoleh berdasarkan pengamatan hilal tahun-tahun sebelumnya. Ketentuan itu disepakati Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) sehingga disebut kriteria MABIMS.

Berdasarkan ketentuan itu dan data hilal yang ada, hilal tak mungkin teramati pada Jumat (27/6) petang. Akibatnya, umur bulan Syakban dibulatkan 30 hari dan 1 Ramadhan jatuh pada Minggu (29/6).

Meski demikian, keputusan resmi 1 Ramadhan pemerintah masih menunggu keputusan sidang penetapan (isbat) Kementerian Agama, Jumat (27/6) petang. Sidang itu untuk mendengarkan hasil pengamatan hilal di seluruh Indonesia.

Kamera CCD
Teknologi pengamatan hilal kini makin beragam, tak lagi hanya menggunakan binokuler atau teleskop. Pengamatan hilal kini bisa dilakukan memakai kamera charge-coupled device (CCD) yang memiliki sensitivitas tinggi. Kamera yang dipasang pada teleskop itu juga bisa merekam citra hilal sehingga bisa dijadikan bukti keberhasilan pengamatan hilal, tak mengandalkan kesaksian pengamat saja.

Peneliti Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung, yang juga dosen Astronomi ITB, Hakim L Malasan, mengatakan, kamera CCD bisa mengatasi keterbatasan mata atau teleskop mendeteksi dan mengamati hilal. Bahkan, dengan sejumlah teknik pemrosesan citra, hilal yang sebelumnya tak tampak oleh mata dan sulit dideteksi dengan teleskop bisa dimunculkan dengan meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya langit senja.

Peningkatan kontras itu jadi salah satu solusi karena masalah utama pengamatan hilal adalah persoalan kontras antara cahaya hilal dan cahaya senja. Jika cahaya senja masih kuat, cahaya hilal bisa terkalahkan hingga hilal tidak bisa teramati.

h”Kamera CCD dan teknik pemrosesan citra jamak digunakan dalam astronomi untuk memotret benda langit. Namun, apakah teknik pemrosesan citra itu bisa diterima hukum agama masih jadi perdebatan karena ia membuat sesuatu yang sebelumnya tak terlihat jadi terlihat,” paparnya.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin menambahkan, secanggih apa pun kamera CCD, ia tak bisa dipakai untuk memotret hilal yang terlalu dekat dengan Matahari, terlalu muda, atau terlalu rendah di dekat ufuk. Karena itu, batasan kriteria terlihatnya hilal (imkan rukyat) tetap harus diperhatikan dalam pemotretan hilal dengan kamera CCD.

Penyatuan kalender
Selain awal Ramadhan, Idul Adha tahun 2014 ini juga berbeda. Masyarakat yang menggunakan kriteria terbentuknya hilal ber-Idul Adha pada Sabtu, 4 Oktober, dan yang memakai kriteria terlihatnya hilal merayakan pada Minggu, 5 Oktober.

Menurut Thomas, awal Ramadhan dan Syawal tahun 2015-2022 akan berlangsung bersama. Adapun Idul Adha akan bersamaan antara 2016 dan 2022. Kesamaan itu bukan karena ada kesepakatan kriteria awal bulan hijriah, melainkan karena posisi bulan memungkinkan terjadi kebersamaan.

Kesepakatan kriteria awal bulan hijriah itu tak berarti mengabaikan metode penentuan awal bulan hijriah dengan perhitungan (hisab) atau pengamatan (rukyat) yang digunakan kini.

Anggota Konsorsium Pengamatan Hilal Nasional Simpul Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, yang juga dosen Jurusan Fisika UPI, Judhistira Aria Utama, mengatakan, hisab dan rukyat bagai dua sisi mata uang. Keduanya saling melengkapi dan tak bisa dipisahkan.

”Meski hisab dilakukan, rukyat tetap relevan dilaksanakan,” kata dia. Rukyat adalah mekanisme pembuktian yang merupakan asas semua cabang ilmu alam. Semua hal tak cukup diteorikan atau dihitung, tapi harus dibuktikan keberadaannya.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 26 Juni 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: