Home / Berita / Pembuktian Badak Sumatera di Kalimantan

Pembuktian Badak Sumatera di Kalimantan

Keberhasilan Indonesia memerangkap seekor badak sumatera di belantara Kalimantan Timur, tiga pekan, lalu melegakan dunia. Sepanjang sejarah eksploitasi hutan di Kalimantan menjadi areal pembabatan pohon, perkebunan, dan permukiman, fauna dilindungi itu lepas dari “radar” peneliti.

Kelegaan tersebut bisa dimaklumi mengingat jalan panjang pembuktian ilmiah badak bercula dua itu hidup di Kalimantan. Selain penuturan dan kesaksian warga, pembuktian juga didasarkan pada hutan konservasi Negara Bagian Sabah di Malaysia yang merupakan habitat badak sumatera.

Para pakar yakin, apabila menghuni Sabah, badak sumatera juga menghuni Kalimantan di Indonesia. Oleh karena itu, Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia Kementerian Kehutanan 2007-2017 mengamanatkan kajian perburuan badak di Kalimantan.

Tahun 2013, tim peneliti BKSDA Kaltim, Universitas Mulawarman, dan WWF Indonesia menjelajah belantara Kalimantan Timur. Mereka menjumpai jejak segar keberadaan badak.

Temuan tapak kaki, kotoran, hingga pelintiran tanaman pakan mendongkrak semangat tim pencari pada luasan puluhan ribu hektar hutan di Kutai Barat. Bekas pelintiran cara makan khas badak, pemilik bibir atas prehensile atau menutup (hook lips) untuk meraih dedaunan.

Dari ukuran jejak kaki, diperkirakan ada 8-20 individu badak menghuni belantara Kutai. Pada 2015, bukti lebih kuat. Kamera tersembunyi di jalur lintasan badak, September-Oktober 2015, merekam tiga individu betina. Dua di antaranya induk dan anakan betina.

Temuan itu sangat menggembirakan. Foto anakan membuktikan regenerasi. Namun, sekaligus muncul kekhawatiran karena habitat badak tersebut terkepung dan berada di hutan konsesi, perkebunan sawit, dan tambang.

Masyarakat Dayak, khususnya di Kutai Barat dan Mahakam Ulu (kabupaten pemekaran dari Kutai Barat), telah lama tahu keberadaan badak. Mereka menyebutnya tamdoh, yang sering diceritakan turun-temurun.

“Bagi masyarakat Dayak, tamdoh hewan yang jangan diganggu. Semacam dikultuskan. Kalau sedang berburu babi menjumpai tamdoh, kami menghindar,” kata Toni Imang, Asisten I Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu.

Mungkin, itulah kenapa badak-badak tersebut masih bertahan. Pengambil kebijakan pun berniat memindahkan ke tempat aman. Diam-diam-menghindari perburuan-disiapkan jebakan di jalur lintasan badak. Pada 12 Maret 2016, badak betina remaja 4-5 tahun masuk galian sedalam 2 meter, yang segera dipindahkan ke kandang sementara (boma) seluas 50 meter persegi.

“Kandang diperbesar jadi 16 x 27 meter persegi karena gerakan badak cukup banyak, berkubang, dan bermain-main,” kata Yuyun Kurniawan, Koordinator Nasional Konservasi Badak WWF Indonesia, Jumat (1/4) malam.

Para pihak menyiapkan suaka di Hutan Lindung Kelian Lestari. Hutan sejauh 150 kilometer dari lokasi boma itu bekas konsesi pertambangan emas (PT Kelian Ekuatorial Mining) dan hutan areal penggunaan lain seluas 6.000 hektar. Suaka bagi badak bersifat penyendiri (soliter) ini disiapkan 200 hektar, dua kali lipat luas Suaka Rhino Sumatera di TN Way Kambas, Lampung.

Suaka perawatan dan pengamatan badak itu diharapkan selesai sebulan mendatang. Pemerhati badak tak ingin badak berlama-lama di boma, yang bisa membuat fauna liar ini jinak karena interaksi dengan manusia.

“Kami sangat mendukung terwujudnya kawasan habitat badak dilindungi itu. Kami berharap nantinya bisa jadi tujuan wisata minat khusus,” kata Toni.

Penyebar biji
Efransjah, CEO WWF Indonesia, mengatakan, badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan mata rantai penting dalam ekosistem hutan tropis. Kebiasaan menendang-nendang kotoran berisi benih tanaman membantu suksesi hutan.

Ia juga yakin badak sumatera di Kalimantan merupakan badak yang selamat dari pencairan es jika mengacu sejarah terpisahnya Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ia menunjukkan keberadaan gajah sumatera di Kalimantan yang bertubuh kerdil. Di luar kisah bahwa gajah itu dulu hadiah bagi kerajaan lokal, temuan tersebut tambahan bukti Pulau Sumatera-Kalimantan pernah bersatu.

Secara global, badak sumatera dengan ciri kulit berambut pernah menghuni kaki Gunung Himalaya di Butan dan timur laut India hingga Tiongkok bagian selatan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Melayu, hingga Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Badak sumatera subspesies D sumatrensis lasiotis awalnya ada di India, Butan, Banglades, dan Myanmar. Namun, kini hanya tersisa di Myanmar. Subspesies D sumatrensis harrissoni berhabitat di Pulau Borneo. Adapun subspesies D sumatrensis sumatrensis yang pernah ditemukan di Thailand kini hanya ada di Sumatera. Di Semenanjung Melayu belum ada lagi laporan keberadaan badak sumatera.

Sifat yang soliter dan monogamus (satu pasangan) membuat badak sulit berkembang. Itu diperberat umur badak yang hanya bisa 35 tahun, memasuki masa reproduksi 7 tahun, masa kehamilan 15-16 bulan, satu anak per kehamilan, dan masa mengasuh anak 1,5-2 tahun.

Badak sumatera dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus) yang dimiliki Indonesia tersebut bagian dari lima jenis badak di dunia. Habitat badak jawa atau badak bercula satu hanya di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Dengan panjang tubuh satwa dewasa 2-3 meter, tinggi 1-1,5 meter, dan berat 600-950 kilogram, fauna berstatus selangkah menuju punah di alam itu (Badan Konservasi Dunia/IUCN), butuh ruang jelajah luas. Di Sumatera, D sumatrensis menghuni hutan rawa dataran rendah hingga hutan perbukitan hingga 2.500 meter di atas permukaan laut.

Kehilangan habitat karena peruntukan kebun dan konsesi membuat kehidupan badak sumatera di alam sulit. Populasi di alam kurang dari 300 di beberapa taman nasional. Keberpihakan pemerintah dibutuhkan untuk melindungi habitatnya dari alih fungsi hutan.(ICHWAN SUSANTO/LUKAS ADI PRASETYA)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 April 2016, di halaman 6 dengan judul “Pembuktian Badak Sumatera di Kalimantan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: