Home / Berita / Pelajar Asing Gerakkan Perekonomian Australia

Pelajar Asing Gerakkan Perekonomian Australia

Pemerintah Australia, termasuk Pemerintah Kota Sydney di Negara Bagian New South Wales, memberikan perhatian besar dan perlindungan tinggi kepada pelajar dari sejumlah negara yang belajar di negeri kanguru itu. Kehadiran pelajar asing, termasuk sejumlah besar mahasiswa, tidak hanya meramaikan sejumlah lembaga pendidikan, tetapi juga menggerakkan perekonomian di Australia. Devisa yang dibawa pelajar asing itu merupakan pendapatan besar bagi negara tersebut.

Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Sydney Robyn Kemmis saat menerima wartawan dari Indonesia, Malaysia, Kamboja, dan Vietnam, termasuk wartawan harian Kompas, Tri Agung Kristanto, yang berkunjung atas undangan University of Technology Sydney (UTS) Insearch, di Balai Kota Sydney, Rabu (11/11). Kunjungan wartawan dari sejumlah negara Asia Tenggara untuk melihat pengembangan pengajaran di UTS Insearch tersebut berlangsung hingga Jumat (13/11). Di Sydney, yang berpenduduk lebih dari 4,39 juta jiwa dan merupakan kota dengan penduduk terpadat di Australia, terdapat sekitar 50.000 pelajar asing, termasuk yang mengambil kursus bahasa Inggris.

Dari keseluruhan pelajar asing itu, Robyn Kemmis mengakui, lebih dari 35.000 orang di antara para pelajar asing tersebut belajar di sejumlah kampus di Sydney dan lebih dari 10.000 orang di antaranya tinggal di kota itu. Keberadaan pelajar asing dalam jumlah besar serta-merta menggerakkan perekonomian di daerah setempat dengan tumbuhnya aneka usaha untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada 2015 ini, Sydney diperkirakan mendapat 1,6 miliar dollar Australia, atau setara dengan Rp 15,52 triliun dengan kurs Rp 9.700 per 1 dollar Australia.

Market Intelligence and Product Development Manager UTS Insearch Philip Allen, di Sydney, Kamis, juga mengakui besarnya kontribusi pelajar asing dalam perekonomian di Australia. Hingga akhir September 2015, tercatat ada 585.846 pelajar asing di seluruh Australia. Di Sydney, khusus mahasiswa saja sebanyak 37.136 orang, dengan terbanyak berasal dari Tiongkok, yakni 15.922 orang. Mahasiswa asal Indonesia menempati urutan keempat terbanyak, yakni 966 orang, setelah India (4.272 orang) dan Vietnam (1.651 orang).

Tahun 2014, Australia diperkirakan meraih pendapatan tak kurang dari 16 miliar dollar Australia yang berasal dari pelajar asing. Pemerintah Australia pun memberikan kemudahan pemberian visa bagi pelajar dari berbagai negara yang ingin melanjutkan studi ke negeri itu.

Philip menambahkan, Australia tak hanya mendapatkan dana dari keberadaan mahasiswa atau pelajar asing, tetapi juga memberikan beasiswa. Misalnya untuk program doktor bagi mahasiswa asal Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-kini ditangani Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi-memberikan beasiswa untuk masa tiga tahun. Padahal, pendidikan doktoral memerlukan waktu lebih dari tiga tahun, bahkan empat tahun. Beasiswa untuk waktu yang tersisa akhirnya diambil alih oleh UTS. Kondisi serupa dialami mahasiswa dari sejumlah negara lain.
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2015, di halaman 12 dengan judul “Pelajar Asing Gerakkan Perekonomian Australia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: