Pelajar Asing Gerakkan Perekonomian Australia

- Editor

Sabtu, 14 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Australia, termasuk Pemerintah Kota Sydney di Negara Bagian New South Wales, memberikan perhatian besar dan perlindungan tinggi kepada pelajar dari sejumlah negara yang belajar di negeri kanguru itu. Kehadiran pelajar asing, termasuk sejumlah besar mahasiswa, tidak hanya meramaikan sejumlah lembaga pendidikan, tetapi juga menggerakkan perekonomian di Australia. Devisa yang dibawa pelajar asing itu merupakan pendapatan besar bagi negara tersebut.

Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Sydney Robyn Kemmis saat menerima wartawan dari Indonesia, Malaysia, Kamboja, dan Vietnam, termasuk wartawan harian Kompas, Tri Agung Kristanto, yang berkunjung atas undangan University of Technology Sydney (UTS) Insearch, di Balai Kota Sydney, Rabu (11/11). Kunjungan wartawan dari sejumlah negara Asia Tenggara untuk melihat pengembangan pengajaran di UTS Insearch tersebut berlangsung hingga Jumat (13/11). Di Sydney, yang berpenduduk lebih dari 4,39 juta jiwa dan merupakan kota dengan penduduk terpadat di Australia, terdapat sekitar 50.000 pelajar asing, termasuk yang mengambil kursus bahasa Inggris.

Dari keseluruhan pelajar asing itu, Robyn Kemmis mengakui, lebih dari 35.000 orang di antara para pelajar asing tersebut belajar di sejumlah kampus di Sydney dan lebih dari 10.000 orang di antaranya tinggal di kota itu. Keberadaan pelajar asing dalam jumlah besar serta-merta menggerakkan perekonomian di daerah setempat dengan tumbuhnya aneka usaha untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pada 2015 ini, Sydney diperkirakan mendapat 1,6 miliar dollar Australia, atau setara dengan Rp 15,52 triliun dengan kurs Rp 9.700 per 1 dollar Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Market Intelligence and Product Development Manager UTS Insearch Philip Allen, di Sydney, Kamis, juga mengakui besarnya kontribusi pelajar asing dalam perekonomian di Australia. Hingga akhir September 2015, tercatat ada 585.846 pelajar asing di seluruh Australia. Di Sydney, khusus mahasiswa saja sebanyak 37.136 orang, dengan terbanyak berasal dari Tiongkok, yakni 15.922 orang. Mahasiswa asal Indonesia menempati urutan keempat terbanyak, yakni 966 orang, setelah India (4.272 orang) dan Vietnam (1.651 orang).

Tahun 2014, Australia diperkirakan meraih pendapatan tak kurang dari 16 miliar dollar Australia yang berasal dari pelajar asing. Pemerintah Australia pun memberikan kemudahan pemberian visa bagi pelajar dari berbagai negara yang ingin melanjutkan studi ke negeri itu.

Philip menambahkan, Australia tak hanya mendapatkan dana dari keberadaan mahasiswa atau pelajar asing, tetapi juga memberikan beasiswa. Misalnya untuk program doktor bagi mahasiswa asal Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-kini ditangani Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi-memberikan beasiswa untuk masa tiga tahun. Padahal, pendidikan doktoral memerlukan waktu lebih dari tiga tahun, bahkan empat tahun. Beasiswa untuk waktu yang tersisa akhirnya diambil alih oleh UTS. Kondisi serupa dialami mahasiswa dari sejumlah negara lain.
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2015, di halaman 12 dengan judul “Pelajar Asing Gerakkan Perekonomian Australia”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB