Home / Berita / Patahan Melewati Perumahan dan Sekolah

Patahan Melewati Perumahan dan Sekolah

Jutaan warga di Pulau Jawa tidak menyadari tinggal di atas patahan aktif. Selain di sesar Lembang, Jawa Barat keberadaan sesar aktif yang membelah kota-kota besar di Jawa ini belum terpetakan secara detail. Di Semarang, Jawa Tengah jalur sesar ini diketahui melalui kawasan perumahan.

“Studi untuk mendetailkan jalur sesar di Semarang sudah kami lakukan beberapa tahun terakhir dan masih berlanjut. Peta detailnya belum bisa kami rilis, tetapi secara umum lokasi patahannya di sekitar Gunung Kebo,” kata peneliti gempa bumi Universitas Gadjah Mada (UGM) Gayatri Indah Marliyani, Rabu (9/1/2019), ketika dihubungi dari Jakarta.

Saat ini penelitian tersebut, menurut Gayatri, terkendala karena sekitar jalur sesar ini sudah jadi perumahan. “Banyak yang sudah tertutup conblock dan bangunan. Bahkan, ada jalurnya yang berada persis di bawah perumahan yang sedang di bangun. Sebagai peneliti kami merasa dilema juga, satu sisi ini kajiannya masih jalan, sisi lain kami yakin kawasan ini membahayakan untuk hunian,” kata dia.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Bentang patahan atau sesar Lembang yang membentuk garis tengah yang membatasi antara kawasan perkotaan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/2/2012). Patahan ini memiliki dampak yang berbahaya jika terjadi gerakan atau pergeseran tanah pada patahan tersebut.

Menurut Gayatri, berbagai kajian yang telah terbit di jurnal ilmiah, telah memastikan keaktifan jalur di Jawa, termasuk di Jawa Tengah. Selain kajian terbaru oleh Endra Gunawan (2019), dalam kajian A Koulali (2016) menyebutkan, di utara Jawa Tengah terdapat sesar Kendeng yang menerus hingga dekat Surabaya sebelum kemudian masuk ke Selat Madura. Sedangkan di Jawa Barat, terdapat sesar Baribis dan sesar Lembang, dan belakangan ada sesar Jakarta.

“Sesar Kendeng memang aktif di Jawa Tengah, namun menurut pendapat saya jalur ini terbagi dalam beberapa blok atau segmen lebih kecil. Kalau sepanjang dugaan Koulali, gempanya akan besar sekali,” kata dia.

Selain sesar Kendeng, juga ada sesar-sesar lain lebih kecil, seperti sesar Semarang, sesar Ambarawa, dan sesar Lasem. Sesar-sesar ini siklus keberulangannya belum diketahui dengan pasti.

“Sesar Semarang ini ada di ujung barat sesar Kendeng. Jika sesar Kendeng arahnya barat-timur, sesar Semarang ini barat laut-tenggara,” kata Gayatri. Namun demikian, menurut dia, masih butuh studi lanjutan, termasuk uji paritan, untuk bisa mendetailkannya seperti jalur sesar Lembang, termasuk siklus perulangan dan kekuatan maksimal gempanya.

Sesar Lembang
Untuk Jawa, jalur sesar yang sudah dipetakan sangat baik baru sesar Lembang, yang dilakukan oleh peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahaun Indonesia (LIPI) Mudrik R Daryono dan tim, yang kajiannya baru-baru ini dipublikasikan di jurnal internasional. Mudrik menyebutkan, berdasarkan peta berbasis LiDAR dengan resolusi 90 sentimeter, jalur patahan Lembang dipastikan melalui permukiman warga, bangunan sekolah, puskesmas hingga instansi militer. Tak hanya berdampak di sekitar jalur patahan, gempa yang terjadi juga bisa berdampak hingga Kota Bandung.

Penelitian yang dilakukan Ayu Retnowati, Irwan Meilano, Akhmad Riqqi, dan Rahma Hanifa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2017 menemukan, potensi kerugian ekonomi jika terjadi gempa di sesar Lembang bisa mencapai hingga Rp 51 triliun. Nilai ini hanya dari nilai kerusakan bangunan permukiman.

Menurut perhitungan tim ini, ada sekitar 2,5 juta rumah warga yang berpotensi terdampak gempa dari patahan yang memanjang 29 kilometer arah timur-barat di utara Bandung tersebut. Rumah yang berpotensi rusak ringan 1 juta unit, rusak total 500.000 rumah, dan selebihnya atau 1 juta rumah rusak sedang.

“Saat ini kami tengah hitung lagi lebih detail dengan data terbaru, bekerja sama dengan Bappenas dan BNPB,” kata Rahma.

Sejarah gempa
Secara kasat mata jalur sesar aktif ini ditandai oleh topografi sungai, keberadaan endapan sungai di puncak bukit, keberadaan titik lemah yang terus memicu longsoran, serta sebaran gempa yang terekam. “Di Semarang, titik lemah ini cukup banyak dan setelah diperiksa memang memiliki kelurusan dengan jalur sesar aktif,” kata Gayatri.

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa bumi tercatat pernah terjadi berulangkali di Semarang, yaitu tahun 1856, 1958, 1959, dan 1966. Gempa lain di Jawa Tengah antara lain di Ambarawa pada 1865, Pati pada 1890, Lasem pada 1847, dan Kudus pada 1877. Gempa merusak juga pernah terjadi di Wonosobo tahun 1924. Terbaru, gempa terekam terjadi di dekat Kota Salatiga pada 15 Januari 2017. Sekalipun kekuatannya hanya M 2,6, namun ini menandai aktifnya zona kegempaan di kawasan ini.

Gayatri mengingatkan, selain bahaya kerusakan bangunan di sepanjang jalur patahan aktif, bahaya jika terjadi gempa tektonik adalah amplifikasinya. Untuk bangunan yang dilalui jalur sesar aktif seharusnya memang dikosongkan, minimal 15 meter di kanan-kirinya. Selain itu, bangunan di kawasan sekitar patahan aktif juga harus sudah menerapkan standar konstruksi tahan gempa.

Belajar dari kasus di Palu, fenomena likuefaksi menjadi ancaman bagi kota-kota di Indonesia, yang dibangun di atas endapan pasir. “Kota Semarang dan Jakarta memiliki karakteristik hampir sama. Tanahnya terdiri dari lapisan pasir tebal yang halus, yang rentan likuefaksi jika terjadi gempa,” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 10 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: