Home / Berita / Panik Menghadapi Korona

Panik Menghadapi Korona

Panik merupakan alarm tubuh saat manusia menghadapi ketidakpastian. Meski wajar, kepanikan yang terjadi massal bisa menimbulkan kekacauan sosial.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Penjualan masker medis non operasi pasar juga berlangsung di los toko Pasar Pramuka, Jakarta Timur, Jumat (6/3/2020). Operasi pasar tersebut menjual masker seharga Rp 125.000 per boks isi 50 masker atau Rp 2.500 per masker. Pembelian dibatasi satu boks per orang dengan ketentuan membawa KTP saat membeli. PD Pasar Jaya menyiapkan satu juta lembar masker untuk operasi pasar tersebut yang bekerja sama dengan Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka.

Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Indonesia positif mengidap Covid-19, Senin (2/3/2020), kepanikan melanda warga. Tak hanya saling mengingatkan penularan dan dampak penyakit itu, sejumlah barang pun diburu terutama masker, antiseptik pembersih tangan, dan kebutuhan pokok di sejumlah pasar swalayan.

Di angkutan umum dan ruang publik, warga ramai-ramai memakai masker. Meski orang sehat tidak disarankan memakai masker, kekhawatiran terjangkiti penyakit menular itu membuat mereka waspada. Hingga Selasa (10/3/2020), sudah ada 27 orang penderita Covid-19 di Indonesia.

Panik akibat wabah korona itu sebenarnya terjadi di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia. Panik adalah bawaan manusia yang jadi alarm atau tanda bahaya dalam tubuh saat manusia menghadapi ketidakpastian dan bahaya.

“Otak manusia punya mekanisme untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi jelas,” kata Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado Taufiq Pasiak, Kamis (5/3/2020).

Saat panik, otak manusia dibanjiri senyawa kimia seperti dopamin dan adrenalin hingga memicu stres. Sebaliknya, stres juga bisa memicu panik. Senyawa kimia yang diproduksi sistem limbik itu terhubung dengan beberapa hormon hingga tubuh menegang, kelenjar keringat melebar, pupil mata besar, denyut jantung bertambah, hingga hilangnya rasionalitas. Sistem limbik adalah pusat emosi otak yang ada di otak bagian belakang.

Hilangnya rasionalitas itu membuat mekanisme respons yang muncul adalah langsung merespons stimulus yang ada. Tak adanya jeda antara stimulus dan reaksi membuat respons yang muncul bersifat emosional yang berasal dari kebiasaan, bukan proses berpikir.

Di sisi lain, aktifnya sistem limbik juga mengaktifkan amigdala yang ada dalam limbik. Saat amigdala mempersepsikan bahaya, dia akan mengaktifkan hipokampus, pusat memori otak, hingga membuka berbagai kenangan bahaya masa lalu. Otak pun akan menganalisis bagaimana jika terjadi sesuatu yang mengancam diri mereka seperti yang sudah pernah terjadi.

Saat panik melanda, dominannya sistem emosi otak dibanding sistem logika yang ada di otak bagian, membuat segala sesuatu dipersepsikan sebagai bahaya. Padahal, belum tentu hal yang dikhawatirkan itu berbahaya.

Karena itu, panik perlu diperlukan secara wajar sebagai respon alami tubuh. Mereka yang terdidik atau memiliki informasi cukup bisa segera mengambil keputusan untuk mengakhiri paniknya agar tidak berkepanjangan. “Dalam batas tertentu, panik dibutuhkan. Namun panik massal harus dihindari karena berbahaya,” kata Taufiq.

Saat panik dan kondisi penuh ketidakjelasan, seseorang akan mengambil informasi apa pun yang ada. Benar dan salah bukan menjadi pertimbangan karena yang penting bisa memberi mereka solusi yang bisa memberi rasa aman dan membuat nyaman.

Karena itu, dalam situasi tidak pasti di tengah merebaknya korona, informasi yang jelas dari otoritas atau pemerintah dan sumber kompeten adalah cahaya terang yang bisa mengatasi kepanikan. “Jika otoritas berwenang tidak memberi kejelasan, bisa muncul kepanikan massal yang bisa menimbulkan konflik horisontal akibat saling curiga,” tambahnya.

Egoisme
Ketidakpastian itu juga memicu pembelian secara emosional (panic buying) yang dilakukan sejumlah masyarakat. Peneliti psikologi ekonomi dan perilaku konsumen, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Rahmat Hidayat menilai pembelian emosional itu dididorong oleh kekhawatiran akan kehilangan (loss aversion) yang ekstrem.

Masyarakat takut tidak memiliki kesempatan lagi untuk memiliki sesuatu. Kondisi itu diperparah dengan perilaku membebek (herding behavior) yang membuat orang-orang mengambil putusan, termasuk membeli sesuatu, berdasar putusan orang lain. “Begitu ada yang memulai, maka orang lain akan berlomba-lomba melakukan yang sama,” katanya.

Rahmat mengakui sebagian orang memang membutuhkan barang-barang itu untuk menghadapi kemungkinan wabah korona di Indonesia. Namun, “Membeli barang secara berlebihan perlu dihindari karena itu lebih menunjukkan sifat egoisme,” katanya.

Karena itu, menghadapi ketidakpastian ini, masyarakat perlu dididik untuk tidak mencari selamat sendiri. Namun, pemerintah juga harus menjamin dan memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menghadapi situasi terburuk. “Masyarakat perlu diajar untuk memenuhi rasa aman pribadi tanpa mengorbankan rasa aman orang lain,” tambah Rahmat.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 11 Maret 2020

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...