Home / Berita / Astronomi / Observatorium Baru Dijajaki di Lampung

Observatorium Baru Dijajaki di Lampung

Institut Teknologi Sumatera bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung dan Pemerintah Provinsi Lampung akan membangun sebuah observatorium baru. Sarana pengamatan bintang dan obyek angkasa itu diharapkan bisa melengkapi kinerja Observatorium Bosscha yang kemampuannya dinilai mulai kurang optimal.

Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) Ofyar Z Tamin mengemukakan hal itu saat ditemui di Kampus Itera, Lampung Selatan, Kamis (6/10). Observatorium baru itu menurut rencana diberi nama Itera Astronomical Observatory, Earth and Space Sciences Education Center in Sumatera (IAO-ESSECS).

“IAO-ESSECS ini akan menjadi sarana pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan wisata. Kini kapasitas Observatorium Bosscha tak bisa memenuhi semua permintaan kunjungan wisatawan yang berminat terhadap astronomi. Karena itu, IAO-ESSECS hadir untuk mendampingi Bosscha,” ujarnya.

Ofyar memaparkan, IAO-ESSECS akan dibangun di lahan seluas 250 hektar di Kawasan Taman Hutan Rakyat Wan Abdur Rahman, Gunung Betung, Bandar Lampung. IAO-ESSECS direncanakan mulai dibangun tahun 2017 dan beroperasi pada 2018. Pembangunan IAO-ESSECS bertahap dan akan rampung sepenuhnya pada 2021.

“Saat ini pembangunan IAO-ESSECS sampai pada tahap perjanjian kerja sama antara Itera, ITB, dan Pemerintah Provinsi Lampung,” ucapnya. Nantinya, ITB akan menyediakan sumber daya manusia (SDM) keilmuannya, sedangkan Itera akan menyediakan SDM operasional dan teknis. Adapun Pemerintah Provinsi Lampung akan menyediakan sarana dan prasarana lahan pembangunan IAO-ESSECS.

Pendanaan
Adapun pendanaan pembangunan dan penyediaan peralatan di IAO-ESSECS akan diperoleh dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Dukungan juga diberikan donatur dari dalam dan luar negeri.

Peralatan yang akan ada di IAO-ESSECS adalah sebuah teleskop utama berukuran besar. Selain itu, IAO-ESSECS akan dilengkapi dengan sejumlah teleskop, antara lain teleskop bulan, teleskop matahari, teleskop reflektor, serta teleskop meteor dan cahaya zodiak.

Secara terpisah peneliti Observatorium Bosscha, Moedji Hartato, menjelaskan, perlu ada observatorium baru untuk mendampingi Observatorium Bosscha. Sebab, pengamatan dari Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, kerap terganggu polusi cahaya.

science-tour-smpit-annur-cikarang-baru-bersama-planet-sains-ke-observatorium-bossha-rumah-bunga-rizal-dan-museum-sri-baduga-16-17-oktober-2015-bandung-1“Polusi cahaya membuat kerja sejumlah teleskop tidak optimal. Sejumlah obyek yang cahayanya lemah (redup) kerap tak tampak. Ini menyulitkan peneliti saat memantau potensi asteroid yang akan menabrak Bumi. Sebab, asteroid yang terlalu dini memiliki cahaya lemah,” tuturnya.

Keberadaan IAO-ESSECS bisa mendatangkan peralatan bermutu dan canggih. Alat-alat itu diharapkan memiliki kemampuan otomatisasi teleskop dan penelusuran obyek lebih handal daripada yang dimiliki Bosscha.

Meski Bosscha sudah berumur lebih dari 80 tahun, Moedji menilai observatorium pertama di Indonesia itu masih bisa dipakai untuk pendidikan dan riset. Apalagi beberapa obyek hanya bisa dilihat dari Bosscha. (GER)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Oktober 2016, di halaman 6 dengan judul “Observatorium Baru Dijajaki di Lampung”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: