Home / Berita / “Obat” Kanker Bernama Kebahagiaan

“Obat” Kanker Bernama Kebahagiaan

Perjuangan para penderita kanker itu tak berhenti ketika berhasil menjalani pengobatan dan dinyatakan bersih dari sel-sel kanker. Mereka pun aktif membantu dan memberi semangat kepada para pasien kanker.

Belasan perempuan paruh baya melenggok ketika musik Betawi mengalun nyaring. Sesekali mereka lupa gerakan dan bergerak keluar dari barisan. Pada akhirnya, mereka berhenti menari lalu menertawai diri sendiri.

Mereka tergabung dalam kelompok tari di bawah naungan Cancer Information and Support Center (CISC), komunitas kanker yang berpusat di Jakarta. Para penari itu merupakan penderita dan penyintas kanker beragam jenis, seperti kanker payudara dan serviks.

“Ada beberapa gerakan yang sulit dilakukan teman-teman karena penyakitnya, misalnya mengangkat tangan hingga lurus ke atas. Mereka boleh bergerak sebisanya tanpa paksaan,” kata mentor tari, Christina (49), Rabu (29/1/2020), di Jakarta.

Sama seperti teman-temannya, Christina juga merupakan penyintas kanker payudara. Ia divonis mengidap kanker pada tahun 2012. Penyakit tersebut sempat membuatnya tertekan hingga ia memutuskan untuk kembali bahagia. Ia pun menyalurkan pikiran negatif ke hal yang ia sukai, yaitu menari.

“Menari memberi saya energi positif dan kebahagiaan. Kunci menghadapi kanker itu cuma bahagia dan berpikir positif,” kata Christina yang menjadi mentor menari CISC sejak 2015. Kelompok ini telah beberapa kali tampil di sejumlah acara kesehatan di rumah sakit dan pusat perbelanjaan.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI–Kelompok tari Cancer Infromation and Support Center (CISC) berlatih tari tepak kipas koneng, tarian daerah DKI Jakarta di Jakarta, Rabu (29/1/2020). Para penari merupakan penyintas dan penderita kanker.

Latihan tari yang diadakan dua kali seminggu ini memantik semangat melawan kanker sebagaimana dialami Indra Tutiyati (54) setelah bergabung dengan kelompok tari CISC. Ia sempat terpuruk setelah divonis menderita kanker payudara pada awal tahun 2010.

Pertemuan dengan teman-teman sesama pejuang kanker di CISC membuatnya kembali bangkit. Ia pun menyibukkan diri dengan bergabung di kelompok tari. Hobi barunya itu berbuah manis. Indra terpilih sebagai salah satu penari pembuka dan penutup Asian Games 2018.

“Saya hanya penasaran, apa bisa penyintas kanker menari dengan energik di acara internasional? Ternyata bisa. Padahal, saya sempat minder saat audisi karena penari lain jauh lebih muda dan berpengalaman dari saya,” tuturnya.

Kisah Indra dinilai inspiratif sehingga ia dipilih untuk menari lagi di acara penutupan Asian Games. Ia menjadi penari tertua dan satu-satunya penyintas kanker di antara 250 penari.

Saling dukung
Salah satu inisiator atau penggagas CISC, Aryanthi Baramuli Putri, mengungkapkan, komunitas yang dibentuk pada tahun 2002 ini bertujuan untuk memberi dukungan moral kepada para penderita kanker. Komunitas ini juga jadi edukator kepada warga mengenai kanker karena pemahaman publik terkait kanker dinilai minim di tengah beredarnya informasi tidak benar soal kanker.

“Saya adalah korban ketidaktahuan tentang kanker. Bermula dari situ, saya dan seorang teman akhirnya membuat CISC. Kami ingin menyebar informasi soal kanker karena penyakit ini bisa dicegah,” kata Aryanthi yang divonis menderita kanker pada tahun 2002. Ia selesai menjalani pengobatan pada 2008 dan kini rutin mengontrol kesehatan.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI-+Inisiator Cancer Infromation and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri di Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Pada tahun 2008, CISC mendirikan rumah singgah bagi para pasien dan pendamping yang datang dari luar kota. Ada tiga rumah singgah berkapasitas 34 kamar di Jakarta. Rumah singgah juga bisa ditemukan antara lain di Batam dan Banjarmasin.

Rumah singgah diutamakan untuk penderita kanker dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Masing-masing orang dikenakan biaya Rp 10.000 per malam. Iuran ini bersifat sukarela. Rumah singgah menyediakan antara lain kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sembako.

Setelah 18 tahun eksis, CISC kini memiliki 2.000 anggota yang tersebar di 11 kantor cabang, seperti Manado, Yogyakarta, dan Semarang. “Saya dulu berpikir, kami lah yang menolong orang lain melalui komunitas. Tapi, ternyata kami lah yang ditolong,” kata Aryanthi.

Penggalangan dana
Sosialisasi mengenai kanker juga dilakukan Komunitas Miles to Share melalui ajang lari. Para pelari bertugas sebagai penggalang dana yang mengajak publik berdonasi untuk penderita kanker. Donasi bisa diberikan melalui situs Kitabisa.com.

Gerakan itu dimulai pada perhelatan Borobudur Marathon 2018 dengan hanya tiga pelari. Target pengumpulan donasi saat itu sebesar Rp 10 juta. Namun, setelah gerakan ini dipromosikan di media sosial, donasi yang terkumpul mencapai RP 150 juta.

“Gerakan yang sama kami lakukan lagi di Borobudur Marathon 2019. Ini merupakan gerakan organik yang online banget. Kami sekarang merumuskan kegiatan yang mau dilakukan di tahun 2020,” kata inisiator Miles to Share, Muhammad Kamil, Rabu (29/1/2020).

Kamil merupakan penyintas kanker jaringan ikat atau fibrosarkoma yang diidapnya pada 2017. Saat menjalani rangkaian pengobatan dan operasi di Jepang, Kamil harus kehilangan sebagian paru-paru kiri dan setengah diafragmanya. Ia pun harus merelakan sebagian tulang belakang leher dan dada serta otot sekitarnya saat operasi pengangkatan tumor. Tulang itu diganti dengan titanium (Kompas, 19/11/2018).

Maraton sepanjang 42 kilometer dijalani Kamil dengan modal nekad. Saat itu ia masih dalam masa pemulihan setelah operasi. Dokter mengizinkannya berlari dengan satu syarat: tidak boleh memaksakan diri. Ia berhasil tiba di garis finis dengan catatan waktu 6 jam 36 menit.

“Miles to Share berkembang menjadi wadah berbagi informasi dan dukungan di media sosial. Kami bercerita dengan tagar #KalahkanKanker dan #JumatKanker di Instagram. Ada empati publik yang tumbuh melalui gerakan ini,” kata Kamil yang tengah menyelesaikan gelar doktor di bidang kedokteran.

Empati penting untuk membantu penderita kanker dalam memercepat proses pemulihan dan meningkatkan kualitas hidup. Tanpa empati dan kasih sayang, mereka terancam terpuruk dalam kesedihan dan kemarahan akibat kanker.

“Dana itu membuat yayasan bisa menampung tambahan enam anak penderita kanker beserta pendampingnya selama setahun ke depan,” kata Hada Kusumonegoro, anggota Miles to Share yang aktif berkampanye soal kanker di media sosial.

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI–Anggota komunitas MIles to Share, Hada Kusumonegoro, di Jakarta, Kamis (30/1/2020). Miles to Share bermula sebagai gerakan penggalangan dana untuk penderita kanker di ajang Borobudur Marathon 2018. Gerakan ini berkembang menjadi komunitas yang telah mendonasikan RP 150 juta pada 2018 dan Rp 500 juta pada 2019.

Jumlah pelari yang menggalang dana bertambah menjadi 100 orang di Borobudur Marathon 2019. Adapun dana sejumlah Rp 500 berhasil dikumpulkan dari 2.702 donatur. Donasi kemudian diberikan kepada Yayasan Pita Kuning.

Tetap aktif dan membantu sesama penderita kanker juga dilakukan Ika Damajanti, Humas Reach to Recovery Surabaya (RRS), organisasi nirlaba beranggotakan pasien dan penyintas kanker payudara di Surabaya. Ika divonis menderita kanker payudara stadium dua di usia 28 tahun, pada tahun 2000 dan harus menjalani operasi.

“Saya merasa terguncang tetapi menyadari operasi merupakan jalan terbaik,” tuturnya. Setelah operasi, ia menjalani kemoterapi 6 kali dan radioterapi 36 kali. Tujuh tahun setelah operasi, Ika dikaruniai seorang putra dan kini jadi perias. Ia pun bergabung dalam RRS dan terlibat aktif dalam kampanye mengenai bahaya kanker.

Penyintas kanker payudara yang juga jurnalis sebuah media nasional, Endri Kurnia, juga terlibat aktif dalam organisasi nirlaba itu dan aktif dalam penyadaran kepada kaum perempuan tentang bahaya kanker. Ia menuliskan kisahnya melawan kanker payudara dalam bentuk buku.

Perjuangan para penderita kanker itu tak berhenti ketika berhasil menjalani pengobatan dan dinyatakan bersih dari sel-sel kanker. Para pejuang kehidupan itu pun aktif memberi semangat kepada para penderita kanker dan berkampanye mengenai bahaya kanker kepada masyarakat. Dengan berbagi, kebahagiaan yang jadi salah satu kunci pemulihan dari kanker pun mereka raih.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI/AGNES SWETTA PANDIA/AMBROSIUS HARTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Februari 2020

Share
x

Check Also

NASA Luncurkan Wahana Pencari Tanda Kehidupan di Mars

Mars kini menjadi tujuan eksplorasi sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir. Setelah UEA dan China, ...

%d blogger menyukai ini: