Mutu Bangunan di Indonesia Mengkhawatirkan

- Editor

Senin, 29 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kualitas bangunan di Indonesia, terutama rumah rakyat, mengkhawatirkan karena dibangun tanpa memenuhi kaidah bangunan tahan gempa dan kualitas material di bawah standar. Pemerintah diminta memperbaiki situasi ini agar gempa yang kerap terjadi tak lagi memicu banyak korban.

“Saya bekerja di bidang ini (rumah rakyat) selama 50 tahun, tapi keadaannya kian buruk. Mutu bahan bangunan dan pengerjaan tambah jelek. Tukang-tukang tak belajar dari contoh yang salah,” kata Teddy Boen, ahli konstruksi bangunan rumah rakyat, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bukti buruknya kualitas bangunan di Indonesia adalah banyaknya bangunan yang rusak setiap gempa, mayoritas yang berbahan batu bata. Padahal, kata Teddy, 81 persen dari 30,2 juta rumah di perkotaan ada pada zona gempa kuat. Adapun rumah di pedesaan pada zona gempa kuat sekitar 85 persen dari 30,8 juta unit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

imagesTanpa penegakan aturan membangun rumah tahan gempa, jatuhnya korban karena bangunan runtuh jadi bom waktu. Sekalipun Indonesia memiliki standar bangunan tahan gempa, hal ini jarang diterapkan.

“Selama hukum dapat diinterpretasikan atau diubah sesuai kepentingan segelintir orang, sulit menegakkan aturan. Contoh, hampir semua bata yang dijual di pasaran tak mengikuti SNI (standar nasional Indonesia), tetapi tetap beredar dan digunakan masyarakat,” kata Teddy, yang juga penasihat senior World Seismic Safety Initiative. Belum lama ini, Teddy mengembangkan bangunan tahan gempa dengan sistem penguatan melalui ferro cement.

Menurut Teddy, atas bantuan sejumlah lembaga internasional, ia melatih banyak tukang tentang teknik membangun rumah tahan gempa. Namun, banyak yang ikut karena uang saku, setelah itu ditekan mandor dengan mengabaikan detail tahan gempa.

Situasi sama disampaikan Guru Besar Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Sarwidi. Banyak tukang yang dilatih kembali membangun rumah tanpa mengindahkan standar tahan gempa. Selain ditekan mandor, juga diperparah rendahnya kesadaran warga. “Yang jadi standar justru bangunan tak tahan gempa sehingga dianggap kalau membangun rumah agar tahan gempa menjadi lebih mahal,” katanya.

Menurut Teddy, pemerintah harus mempunyai kemauan politik menegakkan aturan bangunan tahan gempa. Mekanisme izin mendirikan bangunan bisa dipakai sebagai perangkat memantau kualitas bangunan, bukan hanya pajak. (AIK)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Mutu Bangunan di Indonesia Mengkhawatirkan”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 30 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB