Home / Berita / Mimpi Lei Jun, Mimpi Xiaomi, Mimpi Kita

Mimpi Lei Jun, Mimpi Xiaomi, Mimpi Kita

Sudah lima tahun Xiaomi membuat kejutan di industri perangkat komunikasi bergerak dengan produk yang dikenal “merusak pasar” karena memiliki spesifikasi yang bersaing dengan ponsel premium tapi dengan harga hampir separuhnya. Perlahan, merek Xiaomi mulai menggeser pemain lama, baik di tanah kelahirannya, yakni Tiongkok, maupun global, termasuk mengancam para pemuncak kompetisi.

Perusahaan ini ditaksir bernilai 45 miliar dollar AS dan terus mendapatkan pendanaan dari para investor, terakhir pada Desember 2014 sebesar 1,1 miliar dollar AS. Pada akhir 2014 mereka sudah mengapalkan 61 juta ponsel, 97 persen dijual di Tiongkok dan sisanya di negara lain. Strateginya sederhana, ponsel didesain apik, performa kencang, dan harga terjangkau, ditambah komunitas yang fanatik.

Namun, itu tidak cukup bagi Lei Jun yang menakhodai Xiaomi. Berbicara di peluncuran Mi Note dan Mi Note Pro di awal 2015, dia menyebut inisiatif berupa pendanaan untuk mengembangkan strategi internet untuk segalanya (internet of things). Tidak berhenti di ponsel pintar, Xiaomi mulai melirik produk lain untuk dikembangkan, seperti penjernih udara, penjernih air, televisi pintar, hingga gelang pintar.

Beberapa bulan setelah penampilan tersebut, Xiaomi mengumumkan pembelian Ninebot atau perusahaan di balik merek global dari alat transportasi individu Segway. Di samping akuisisi merek global yang diperbicarakan banyak orang, Xiaomi juga terus berinvestasi ke ratusan perusahaan rintisan yang ingin mengembangkan produk internet untuk segalanya.

Itulah ekosistem internet untuk segalanya yang hendak dibangun oleh Xiaomi. Istilah ini berarti menghubungkan benda-benda dengan internet dan memunculkan data-data yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna. Ambil contoh penjernih air yang mereka kembangkan, perangkat tersebut mampu memberi informasi ke pengguna melalui ponsel bila filternya sudah harus diganti.

1cfb553aeb684bcdb5e424be98dee06dKOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO–Komunitas pengguna ponsel pintar Xiaomi atau MiFans memadati pembukaan Mi Home, sebuah pusat penjualan, perbaikan, sekaligus uji produk yang dimiliki Xiaomi, Jumat (18/12) di Jakarta. Tempat ini sekaligus menjadi ruang bagi para MiFans untuk berkumpul dan berbagi ilmu.

Belum lagi perangkat seperti timbangan badan. Alat ini mencatat bobot dari seseorang yang menimpanya, dan mengirimkan hasilnya ke ponsel untuk dijadikan laporan berkala sehingga bisa memantau perkembangan kesehatan sang pemakai. Dihubungkan dengan gelang pintar, timbangan ini bisa mengetahui apakah yang sedang mempergunakannya adalah pengguna atau orang lain.

Dengan ekosistem yang dibangun oleh Xiaomi, bukan berarti mereka meninggalkan ponsel pintar, melainkan sebaliknya. Seluruh perangkat yang terhubung dengan internet itu akan dikendalikan dari satu perangkat, yakni ponsel pintar mereka. Itulah visi dari Lei Jun yang sedang dikerjakan Xiaomi.

Rumah baru
Adi Prayogi tengah sibuk membongkar Yi, sebuah kamera aksi yang dikembangkan Xiaomi. Bagian penutupnya sudah dicopot dan dia tengah mencongkel bagian lensa dengan silet untuk mengeluarkan lem.

“Ada beberapa tipe Yi yang masuk dengan lensa yang kurang sempurna sehingga harus diperbaiki, tapi kebanyakan agar bisa diatur fokusnya secara manual,” ujar Adi yang sehari-hari menjadi fotografer event.

Dia adalah seorang MiFans, sebutan untuk pengguna produk Xiaomi dan terlibat aktif dalam komunitas para penggemar lain yang datang dari sejumlah daerah. Beberapa kali dia menyumbangkan keahlian untuk Yi yang dimiliki anggota lain yang butuh perbaikan atau modifikasi. Beberapa perubahan yang pernah dilakukan seperti mengganti lensa yang memiliki sudut pandang 155 derajat dengan lensa dari kamera aksi lainnya yang lebih cembung yakni 170 derajat.

5ffa18a5370f4f1fb0ad28f2bee62bc1Pengunjung Mi Home mengamati foto-foto yang diambil menggunakan kamera ponsel dari Mi4i, salah satu varian dari ponsel Xiaomi yang diluncurkan untuk pasar Indonesia pada pertengahan 2015, Jumat (18/12) di Jakarta. Xiaomi membuka Mi Home untuk Indonesia yang bertujuan menjadi ruang bagi para calon konsumen untuk mengetahui arah visi teknologi di masa mendatang.–KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

d30f176cad2c443a8447ee1196ca493dSalah satu pengguna produk dari Xiaomi tengah memodifikasi Yi, sebuah kamera aksi yang diproduksi merek asal Tiongkok tersebut, Jumat (18/12) di Jakarta. Komunitas pengguna Xiaomi yang terbentuk dan terbangun selama ini di Indonesia diberi ruang untuk berkreasi, termasuk diwadahi untuk berkumpul dalam Mi Home yang diresmikan pada pertengahan Desember ini.–KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Tidak jauh dari Adi yang sibuk mengulik kamera, setidaknya 20 orang MiFans saling dempet berebut mengambil swafoto dengan Yi yang dihubungkan dengan sebuah tongkat narsis (tongsis). Sang pemilik menekan layar dari ponsel pintar buatan Xiaomi dan serentak orang di sekitarnya segera memasang wajah ceria untuk diabadikan gambarnya.

Para MiFans tengah memadati sebuah bagian di pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Jumat (18/12), dalam peresmian Mi Home. Mi Home adalah pusat layanan untuk produk Xiaomi, mulai dari penjualan, perbaikan, pengalaman produk, hingga komunitas. Langkah ini terbilang unik karena selama ini Xiaomi sangat merengkuh budaya internet dengan berinteraksi dengan para konsumen melalui forum atau media sosial di internet.

Penjualan produk pun dilakukan lewat internet. Salah satu hal yang membuat namanya dikenal adalah mekanisme jual kilat (flash sale) yakni menawarkan produk dalam kuantitas terbatas pada waktu yang ditentukan sebelumnya. Umumnya penjualannya langsung melonjak dan stoknya ludes dalam hitungan menit.

Xiaomi pertama kali meresmikan Mi Home di luar Tiongkok pada Juni di Hongkong, dan akhir tahun 2015 akhirnya dibuka di Indonesia. Mereka bekerja sama dengan Erafone, anak perusahaan dari PT Erajaya Swasembada selaku distributor perangkat komunikasi bergerak Tanah Air, untuk membuka toko berkonsep khusus ini.

Tidak berhenti sebagai pusat penjualan dan layanan saja, Jeremy Sim, CEO Retail Erajaya Group, menyebutkan bahwa tempat ini menjadi sarana untuk menunjukkan produk yang dikembangkan Xiaomi yang selama ini hanya bisa dilihat di layar komputer atau perangkat bergerak. Dengan kata lain, mereka bisa mendapatkan pengalaman dengan memegang dan mencoba produk sebelum membelinya.

“Namun, yang paling penting, di sini bisa diketahui arah kebijakan teknologi dari Xiaomi,” ujar Jeremy.

Menurut Social Community Manager Xiaomi Indonesia Fandy Silalahi, Mi Home ini bakal menjadi ruang publik yang bisa dipergunakan para komunitas untuk berkumpul dan saling berbagi ilmu. Beberapa contoh praktik fotografi menggunakan kamera ponsel hingga panduan flashing atau memasukkan perangkat lunak ke perangkat mereka. Sebelumnya komunitas berkumpul sendiri entah dengan menyewa tempat atau di suatu tempat. Mi Home diharapkan menjadi rumah baru mereka.

“Acara komunitas bisa digelar secara rutin di sini,” ujarnya.

Fandy menunjukkan beberapa perangkat internet untuk segalanya produksi Xiaomi yang untuk sementara belum tersedia di Indonesia, mulai dari timbangan badan digital, unit rumah pintar, hingga televisi pintar. Setidaknya MiFans di Indonesia bisa mendapat gambaran mengenai produk teknologi yang sedang dikembangkan Xiaomi meski belum ada kepastian apakah bisa diedarkan secara resmi.

Masa depan versi Xiaomi itulah yang ditularkan. Hingga nantinya menjadi mimpi kita semua.

2ddf1fa091a34d16ab18a11ab7757e95Mi Home  adalah tempat bagi para calon konsumen untuk bisa membeli produk Xiaomi, mulai dari penyuara kuping, ponsel pintar, dan aksesori lain. Dibuka pada  Jumat (18/12) di Jakarta, tempat ini menjadi alternatif bagi strategi Xiaomi yang condong menawarkan produk secara daring.–KOMPAS/DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Sumber: Kompas Siang | 21 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: