Home / Berita / Astronomi / Merayakan Jejak Jagat Astronomi

Merayakan Jejak Jagat Astronomi

Fenomena gerhana Bulan menjadi kesempatan istimewa bagi sebagian orang. Minat pada astronomi mampu mengundang sejahtera dan memupuk kreativitas manusia.

Wajah Zhohir (18), warga Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat, semringah. Momen Bulan Super Darah Biru pada Rabu (31/1) malam bisa dilihat dengan jelas. Bersama puluhan orang lain, ia melihat fenomena itu lewat teleskop dari barang bekas berbiaya murah.

”Saya tidak menyangka bisa melihat Bulan yang kemerahan dengan jelas dari teleskop barang bekas,” ucapnya.

Lima teleskop yang digunakan Zhohir dan sejumlah orang untuk melihat gerhana terbuat dari barang bekas. Pembuatnya adalah Sunardi (32), pendiri Cirebon Astronomy Club.

Ditemui di rumahnya di Dusun Talun, Desa Cirebon Girang, Kabupaten Cirebon, beberapa jam sebelum pengamatan, Sunardi memperlihatkan keahlian yang ia tekuni beberapa tahun terakhir. Bahan teleskop yang digunakan Sunardi sederhana, yakni pipa berdiameter 7 inci dengan panjang 47 sentimeter, ban bekas mobil-mobilan, lensa mesin fotokopi bekas berdiameter 7 sentimeter, dan cakram keras (hard disk). Bahkan, pengait tripod dengan teleskop terbuat dari pipa besi ukuran T.

KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI–Sunardi (32), pendiri Cirebon Astronomy Club, mencoba teleskop buatan dari pipa paralon di pekarangan rumahnya di Talun, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (31/1). Teleskop tersebut digunakan untuk mengamati gerhana Bulan total, Rabu malam, di Alun-alun Kejaksani, Kota Cirebon, bersama komunitasnya.

”Hampir semuanya barang bekas, kecuali lensa okuler dan pembidik. Butuh waktu 1-2 pekan untuk membuat satu teleskop,” kata Sunardi yang belajar membuat teleskop dari buku dan internet.

Teleskop buatan Sunardi bisa digunakan untuk melihat Bulan, gugus bintang, dan galaksi Andromeda. Ada fitur perbesaran 25-50 kali pada teleskop itu. Rupa Bulan secara detail bisa dilihat pada hasil foto dengan kamera gawai yang dihubungkan melalui adaptor dengan teleskop.

Ada tujuh teleskop yang Sunardi buat dalam tiga tahun terakhir. Dari jumlah itu, sebagian digunakan oleh anggota Cirebon Astronomy Club yang berjumlah 95 orang.

”Teleskop ini tak kalah dengan teleskop asli yang harganya di bawah Rp 3 juta. Kalau ini, modalnya Rp 500.000-Rp 1 juta per unit,” ujar alumnus SMKN 1 Cirebon Jurusan Kelistrikan ini.

Musholatorium
Kreativitas berbasis astronomi juga hidup di Kampung Areng, Lembang, Bandung Barat, Jabar. Penggagasnya Hendro Setyanto (44), lulusan Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung. Sejak 2012, Hendro menyediakan observatorium sederhana yang ia beri nama Imah Noong di kampung tersebut.

”Astronomi dapat dipelajari dan diamati dari perkampungan. Akan semakin baik jika semakin banyak orang mengerti astronomi,” ucapnya.

Rabu sore, Imah Noong dipadati sekitar 150 pengunjung dari berbagai daerah. Selain berburu gerhana, mereka juga ingin merasakan musholatorium, mushala sekaligus observatorium, berbentuk kubah geodesik Imah Noong.

”Awalnya untuk keperluan pribadi. Namun, karena banyak yang datang, musholatorium itu akhirnya menjadi tempat wisata,” kata Hendro.

Di Imah Noong, Hendro memiliki dua teleskop utama dan lima teleskop portabel, juga perpustakaan berisi referensi tentang astronomi.

Imah Noong menjadi etalase kemandirian warga, mulai dari penampungan air bersih, pengolahan limbah kotoran sapi untuk biogas, hingga keunggulan dalam pertanian.

Imah Noong beberapa kali mengadakan Kemah Bintang. Kegiatan ini biasanya diikuti sejumlah komunitas untuk mengamati bintang. Kegiatan itu berlangsung beberapa hari. Pengunjung dari luar Bandung biasanya menginap di rumah warga sekitar.

”Biaya untuk menginap sebesar Rp 50.000-Rp 100.000 per malam. Imah Noong memberi manfaat bagi warga sekitar,” ujar Hendro.

Irawati (38), pengunjung asal Bandung, mengatakan, kehadiran observatorium sederhana seperti Imah Noong membuat dunia astronomi lebih dekat dengan masyarakat.

”Selama ini, sebagian orang menghubungkan peristiwa gerhana dengan mitos. Ternyata gerhana adalah peristiwa yang dapat dinikmati, bukan untuk ditakuti,” ujarnya.

Latih kepekaan
Keindahan langit juga dirayakan di tanah lapang RW 005 Nyengseret, Astanaanyar, Kota Bandung, Rabu malam. Warga tidak melihat Bulan, tetapi menikmati karya seni. Hujan yang turun tak mengurangi antusiasme warga.

Diinisiasi Sakola Ra’jat Iboe Inggit Garnasih, 12 orang tampil bergantian di panggung, mulai dari seniman profesional hingga warga setempat. Semua mendapat sambutan meriah.

Salah satu penampil adalah Vera Delyana (11). Pentas puisinya merupakan penampilan pertama di depan khalayak. Syair puisi berjudul ”Purnama” dibuat satu jam sebelum tampil pada pukul 20.00. Namun, dia tak kehilangan pesona saat membawakan puisi itu.

”Ini pertama kali saya tampil di acara yang banyak penontonnya. Senang sekali banyak yang suka. Semuanya hasil belajar puisi di Sakola Ra’jat,” katanya.

Hujan semakin deras saat giliran Muhammad Ali (7), anak Lio Genteng sekaligus peserta Sakola Ra’jat lain, unjuk diri. Siswa kelas II SD ini mengenakan jas hujan saat menyanyikan ”Gebyar-Gebyar”. Yel-yel semangat yang diserukan teman-temannya membuat suara Ali yang awalnya lirih menjadi lebih bertenaga.

Penggagas Sakola Ra’jat, Gatot Gunawan (29), tersenyum menyaksikan penampilan perdana Vera dan Ali. Dia berharap acara itu menjadi penyemangat Vera, Ali, dan sekitar 50 siswa Sakola Ra’jat lain untuk terus berkreasi.

”Momen purnama ini menjadi bulan baik untuk terus berkreasi. Lewat ajang ini, kami ingin mengingatkan kebiasaan masyarakat Jabar menyambut kebesaran Tuhan lewat purnama,” katanya.

Gatot mencontohkan kebiasaan Ibu Inggit Garnasih, mantan istri presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang memandikan anak saat Bulan purnama. Inggit juga berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan.

”Untuk orang zaman dulu, momen purnama kerap dijadikan kesempatan melatih kepekaan,” katanya.

Dari pesisir pantai utara Cirebon, dataran tinggi Bandung, hingga pusat kota di Bandung, peran dunia astronomi meninggalkan jejak manis. Bukan hanya peristiwa sehari untuk kemudian dilupakan, melainkan sebagai awal untuk menata hidup lebih baik. (Tatang Mulyana Sinaga / Cornelius Helmy Herlambang)–ABDULLAH FIKRI ASHRI

Sumber: Kompas, 2 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ancaman Karhutla di bawah Bayang-bayang Korona

Sebulan lagi, sebagian wilayah Indonesia memasuki kemarau, termasuk di daerah-daerah yang langganan kebakaran hutan dan ...

%d blogger menyukai ini: