Home / Berita / Menuju Seabad Canisius Drukkerij

Menuju Seabad Canisius Drukkerij

Setelah para misionaris merintis pendidikan bagi kaum pribumi di Muntilan, Jawa Tengah, 17 Maret 1904, sekolah-sekolah rakyat mulai bermunculan di Jawa dan sekitarnya. Untuk mencukupi kebutuhan buku tulis dan buku bacaan, didirikanlah Canisius Drukkerij, sebuah percetakan kecil di Jalan P Senopati 16, Yogyakarta, pada 26 Januari 1922.

Canisius Drukkerij atau Percetakan Kanisius beroperasi di gudang bekas pabrik besi belakang Bruderan FIC. Perintis percetakan swasta ini adalah Bruder Bellinus FIC yang sempat mengikuti kursus singkat di percetakan Teulings & Co di Den Bosch, Belanda.

Awalnya, Canisius Drukkerij hanya mengoperasikan dua mesin yang ditangani tiga karyawan. Barangkali saat itu tidak ada yang menyangka jika percetakan ini bisa bertahan sampai sekarang, dengan usia hampir seabad: 95 tahun!

Seiring meningkatnya kebutuhan akan bahan bacaan terutama buku, setahun setelah didirikan, Canisius Drukkerij memperluas tempat percetakan. Sebuah gedung baru seluas 10 meter x 20 meter dibangun di halaman percetakan tersebut. Beberapa mesin baru pun didatangkan dan jumlah karyawan ditambah menjadi 20 orang.

Menurut catatan majalah St Claverbond, pada 1924 percetakan ini sudah mampu mencetak buku dengan tiras hingga lebih dari 20.000 eksemplar. Memasuki tahun 1928 ketika semangat pergerakan nasional mulai menggeliat, Canisius Drukkerij turut berperan serta mencetak dan menerbitkan koran-koran berbahasa Jawa, seperti Tamtama Dalem dan Swara Tama.

Canisius Drukkerij terus bertumbuh. Pada kepemimpinan Bruder Baldewinus FIC tahun 1934, percetakan ini pindah ke Jalan P Senopati 24 yang lebih luas, yakni sekitar 1.200 meter persegi. Kapasitas mesin-mesin baru pun ditingkatkan, bahkan percetakan ini mulai berani menerima pesanan percetakan dari luar.

Sebuah surat yang disampaikan Bruder Baldewinus FIC untuk pimpinannya tanggal 19 November 1937 berisi: “Terima kasih atas surat dan persetujuannya. Saya juga menerima surat dari Pater Superior yang mengatakan bahwa pembelian dobel mesin liner dan pencetak otomatis disetujui pimpinan. Itu dua kabar gembira,” tulisnya (B uku Bersiaplah Sewaktu-waktu Dibutuhkan, Penerbit dan Percetakan Kanisius, 2003).

Setelah permintaan disetujui, berturut-turut datang mesin percetakan, mulai dari satu linotype, snelpers besar, degelpers otomatis, mesin garis, mesin potong, mesin jahit untuk buku tulis, dan dua pers tangan. Dengan mesin-masin baru itu, Canisius Drukkerij bisa mencetak ribuan buku tulis dan buku bacaan yang kemudian disebarkan ke seluruh Nusantara.

Memasuki tahun 1942, pendudukan Jepang ke Indonesia merupakan masa keterpurukan bagi Canisius Drukkerij. Percetakan ini diawasi kantor Teisan, kemudian digabungkan Gunseikanbu Kanri dengan Yogyakarta Insatu Koojoo. Pimpinannya, Bruder Baldewinus FIC, diasingkan dan seluruh asetnya dikuasai dengan jumlah karyawan tinggal 40 orang.

“Tahun kegelapan” Canisius Drukkerij berlalu setelah Indonesia merdeka pada 1945. Didukung pemerintah, para karyawan membentuk dewan pimpinan Canisius Drukkerij untuk menjalankan percetakan. Pada 8 Mei 1946, Canisius Drukkerij resmi diserahkan oleh Pemerintah RI kepada Pastor A Djajaseputra SJ selaku wakil uskup.

Mencetak uang
Pasca-kemerdekaan, Canisius Drukkerij kembali berjaya. Hasil cetakannya kian dikenal luas. Tak heran, pada 1946, percetakan ini dipercaya Pemerintah Republik Indonesia mencetak Oeang Repoeblik Indonesia (ORI).

DOKUMENTASI PT KANISIUS/SUMBER BUKU BERSIAPLAH SEWAKTU-WAKTU DIBUTUHKAN,–Suasana Canisius Drukkerij (Percetakan Kanisius) pada masa-masa awal didirikan tahun 1922 di sebuah gudang bekas pabrik besi di Jalan P Senopati 16, Yogyakarta. Percetakan ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan buku-buku sekolah bagi kaum pribumi dan buku-buku rohani.

Pada Mei 1946, pencetakan uang ORI di Jakarta terpaksa dihentikan. Pekerjaan itu kemudian dipindahkan dan dilanjutkan ke daerah pedalamam yang tersebar di Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo, dengan memanfaatkan berbagai percetakan swasta, yang pada waktu itu memang tergolong relatif modern. Selama Oktober-Desember 1946 tercatat, Pemerintah RI telah lima kali menerbitkan mata uang kertas.

Pada saat itu, TNI berusaha keras membendung arus peredaran uang NICA, dengan menyebarluaskan ORI ke kantong-kantong gerilya RI. Emisi pertama uang ORI itu disusul dengan emisi ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5, yang semuanya dicetak Percetakan Kanisius di Jalan Gondomanan, Yogyakarta (Kompas, 1 November 1991).

Dalam peringatan 25 tahun berdirinya Canisius Drukkerij, 27 April 1947, Mgr A Soegijapranata SJ menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada karyawan: “Yang membela, mempertahankan, dan melindungi percetakan sebagai milik misi pada waktu yang pahit dan sulit, pada saat yang penting dan genting buat keselamatannya, tidak memedulikan rintangan dan kesukaran yang mungkin menimpa diri mereka, karena mereka yakin bahwa Republik Indonesia sungguh-sungguh menjadi hak milik partikelir”.

Buku berbahasa Indonesia

Pada 27 Desember 1949, kedaulatan Indonesia mendapatkan pengakuan melalui Konferensi Meja Bundar. Sejak itu, Pemerintah Indonesia membutuhkan buku-buku pelajaran berbahasa Indonesia. Canisius Drukkerij pun turut serta menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Indonesia, seperti Sari Ilmu Hayat, Ilmu Pengetahuan Alam, Kewarganegaraan, Sejarah Dunia, dan Bahasa Inggris.

Seiring makin tegaknya pemerintahan, bisnis Canisius Drukkerij pun terus berkembang. Percetakan ini mulai membeli mesin-mesin baru serta tanah di kawasan Sleman untuk memperluas usaha.

Pada 1967, tampillah pemimpin baru, Pater J Lampe SJ, yang kemudian mengantar percetakan ini pada dunia percetakan yang semakin profesional. Setahun kemudian, Canisius Drukkerij mulai bergabung dengan Ikatan Penerbit Indonesia dengan nama Penerbit Percetakan Kanisius.

Pertengahan 1989, percetakan ini pindah ke lokasi baru di Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Gedung lamanya di Jalan P Senopati 24, Yogyakarta, yang telah ditempati selama 50 tahun dihibahkan kepada Keuskupan Agung Semarang.

Sebagai perusahaan yang tergolong sehat pada masa itu, Penerbit Percetakan Kanisius sudah mampu menyediakan fasilitas kredit rumah bagi karyawannya. Untuk memperluas pemasaran, Kanisius juga membuka kantor-kantor pemasaran di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Sumatera.

Wajah baru
Sama seperti bisnis penerbitan dan percetakan pada umumnya, memasuki 2010 Kanisius juga menghadapi tantangan yang makin berat. Sejumlah revitalisasi dan reorganisasi dilakukan, salah satunya dengan perubahan wajah baru Penerbit Percetakan Kanisius menjadi PT Kanisius di tahun 2014.

“Kami mulai menjajaki pasar luar negeri, salah satunya dengan ikut mewakili Indonesia dalam Frankfurt Book Fair dalam dua tahun terakhir. Beberapa produk buku kami telah dialihbahasakan dan didistribusikan ke sejumlah negara, seperti Lebanon, Tiongkok, Australia, Filipina, dan Pakistan. Beberapa produk digital juga kami kembangkan, seperti buku elektronik dan aplikasi game berbasis buku anak,” kata Kepala Departemen Buku-buku Rohani PT Kanisius Robertus Peter Satriyo Sinubyo, Minggu (22/1).

Selain hadir di Frankfurt Book Fair, PT Kanisius juga berpartisipasi menghadirkan literatur anak dalam ajang Asian Festival of Children Content (AFCC), sebuah pergelaran bagi para peminat, pemerhati, pengembang, dan kontributor terbitan buku-buku anak di Singapura. “Tahun ini, Indonesia menjadi country of focus AFCC dan kami akan kembali mengambil peran di dalamnya,” ucap Direktur Eksekutif PT Kanisius Mg Sulistyorini.

Menurut Sulistyorini, pengalaman Kanisius mencetak koran-koran pergerakan serta ORI pada awal masa kemerdekaan bukanlah romantisme sejarah belaka, melainkan sebuah pengalaman berkualitas yang terus dihidupi dan menjadi kekuatan PT Kanisius dalam persaingan masa kini.

Tiga hari lagi, percetakan kecil yang dulu memulai usaha hanya dengan dua mesin dan tiga karyawan ini menapak usia 95 tahun. Kini, karyawan PT Kanisius telah mencapai sekitar 350 orang dengan jangkauan pasar hingga mancanegara.(ALOYSIUS B KURNIAWAN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 23 Januari 2017, di halaman 12 dengan judul “Menuju Seabad Canisius Drukkerij”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: