Home / Berita / Astronomi / Menjaga Bosscha, Menjaga ‘Kota Bentang’

Menjaga Bosscha, Menjaga ‘Kota Bentang’

Lembang identik dengan Observatorium Bosscha. Di masa lalu, kota kecil di utara Bandung, Jawa Barat itu dijuluki sebagai Kota Bentang yang berarti kota bintang, dalam bahasa sunda. Namun perkembangan kota dan pengembangan wisata yang tak terkontrol membuat bintang-bintang makin sulit diamati dari Lembang.

Polusi cahaya membuat langit Lembang makin terang. Akibatnya, medan pandang pengamatan di peneropongan bintang yang pernah menjadi salah satu observatorium penting di belahan Bumi selatan itu, makin sempit.

KOMPAS/JOHNNY TG–Bangunan Observatorium Bosscha di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Observatorium yang dibangun tahun 1923 itu pernah menjadi salah satu observatorium penting di belahan Bumi selatan. Kini, polusi cahaya dan masifnya pengembangan wisata di Lembang mengancam eksistensinya.

Hakim L Malasan, salah satu peneliti senior Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan di tahun 1980-an, galaksi Awan Magellan Kecil bisa diamati dengan mata telanjang di dekat ufuk selatan.

Padahal, ketinggian maksimum galaksi katai di dekat Bimasakti itu hanya 24 derajat di atas horison. Itu menunjukkan langit bagian selatan Lembang masih cukup bersih. Polusi cahaya dari arah Kota Bandung belum separah sekarang.

“Awan Magellan kecil terlihat sebagai bulatan kecil yang mengapung dan samar,” kata Hakim, Sabtu (20/4/2019).

Kini, lebih 30 tahun berlalu. Langit Lembang jelas berubah. Polusi cahaya dari selatan makin menguat sehingga hanya obyek langit dengan ketinggian lebih dari 30 derajat yang bisa diamati. Jumlah bintang-bintang redup yang bisa dipotret dengan baik pun berkurang.

“Di tahun 2000an, Bimasakti cukup mudah dilihat saat ada di dekat horison. Kini, makin sulit,” tambah M Yusuf, staf Observatorium Bosscha. Polusi cahaya membuat pengambilan citra makin tidak mudah karena kontras antara obyek langit dan latar belakangnya kian menyempit.

Situasi itu juga menghambat mahasiswa Program Studi Astronomi ITB melakukan pengamatan dan penelitian. Dhimaz Gilang Ramadhan, mahasiswa magister yang mengamati bintang B emisi atau Be untuk thesisnya mengaku, dari sejumlah bintang yang ditargetkan diamati, hanya sebagian kecil yang bisa diobservasi.

KOMPAS–Refraktor Ganda Zeiss sumbangan KAR Bosscha di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung Barat.

Bijak dengan lampu
Meluasnya permukiman dan pengembangan obyek wisata membuat polusi cahaya kini tak hanya dari arah Kota Bandung, tapi seluruh penjuru. Bahkan, lingkungan sekitar observatorium yang pada awal 2000an masih berupa ladang dan peternakan sapi, kini jadi permukiman dan lokasi wisata.

Kepala Observatorium Bosscha Premana W Premadi mengatakan untuk menyelamatkan observatorium, mengatasi polusi cahaya dan menjaga kawasan sekitar observatorium mutlak diperlukan.

“Menjaga langit tetap gelap penting untuk menjaga keterhubungan manusia dengan langit malam,” katanya.

Di masa lalu, langit malam yang bagus membuat Observatorium Bosscha banyak didatangi peneliti asing untuk melakukan pengamatan. Terlebih, observatorium yang dibangun pada 1923 itu hingga kini masih jadi satu-satunya observatorium di Indonesia.

Beberapa tahun lagi, Indonesia punya Observatorium Astronomi Lampung, Institut Teknologi Sumatera dan Observatorium Nasional Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Namun, keberadaan Bosscha tetap penting sebagai observatorium pendidikan mahasiswa Astronomi ITB dan benda cagar budaya.

“Lembang masih bagus untuk pengamatan spektroskopi astronomi,” kata Hakim.

Belum lagi, pengamatan hilal yang kini gencar dilakukan pemerintah. Karena itu, meski ada observatorium baru, Bosscha tetap harus dipertahankan.

Menurut Premana, polusi cahaya di sekitar observatorium bisa dikurangi dengan pemakaian lampu secara bijak. Penggunaan tudung lampu atau mematikan lampu reklame setelah jam-jam tertentu bisa mengurangi hamburan cahaya ke langit.

Penggunaan jenis lampu juga perlu diperhatikan. Lampu neon, merkuri atau LED (light-emitting diode) yang memancarkan emisi bisa menganggu pengamatan spektroskopi astronomi. Namun pemakaian lampu pijar yang lebih baik diakui tidak mudah karena mahal, daya tahan rendah, dan jarang industri yang masih memproduksinya.

Antropogenik
Tak hanya cahaya, polusi udara yang kian parah juga menganggu observasi. Meningkatnya aktivitas manusia di sekitar Lembang, mulai dari kemacetan, pembersihan lahan dengan pembakaran, hingga maraknya berbagai kegiatan ekonomi membuat kian banyak jelaga di udara.

Peningkatan aktivitas antropogenik sulit dicegah. Meski hanya kota kecamatan, Lembang dihuni 196.000 jiwa pada 2018. Perkembangan Lembang juga tak bisa dipisahkan dari perkembangan sekitarnya, khususnya Bandung Raya. Pada 1980, Bandung Raya dihuni 4,8 juta jiwa, tapi pada 2018 jumlahnya jadi 9,7 juta jiwa.

Sektor wisata yang jadi andalan Lembang juga mendatangkan jutaan wisatawan tiap tahun. Pengembangan destinasi wisata yang masif membuat banyak kawasan hijau, tebing, hingga aliran sungai disulap jadi lokasi wisata. Penduduk pun kian tersisih ke pinggiran, mengokupasi lahan hijau atau daerah berbahaya untuk permukiman dan berladang.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Bentang patahan atau sesar Lembang yang membentuk garis tengah yang membatasi antara kawasan perkotaan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/2/2012). Patahan ini memiliki dampak yang berbahaya jika terjadi gerakan atau pergeseran tanah pada patahan tersebut.

Ketua Program Studi Magister Pariwisata Berkelanjutan Universitas Padjadjaran Bandung Evi Novianti mengingatkan pengembangan wisata harus memerhatikan keberlanjutannya. Namun, keberlanjutan itu bukan hanya untuk destinasi wisata, tapi juga manfaatnya bagi penduduk sekitar.

“Sikap dan pandangan penyelenggara wisata dan wisawatan yang berkunjung ke Lembang juga perlu diperbaiki hingga tidak merusak lingkungan, termasuk menjaga keberlanjutan Observatorium Bosscha,” katanya.

Jika tidak, julukan Lembang sebagai Kota Bentang hanya akan jadi kenangan.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 22 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: