Home / Berita / Mengendalikan Panik Saat Bencana Datang

Mengendalikan Panik Saat Bencana Datang

Indonesia ibarat ”toko serba ada bencana”, segala jenis bencana ada. Namun, kemampuan menghadapi bencana sangat kurang. Akibatnya, saat bencana datang, reaksi kepanikan lebih sering terjadi dibandingkan evakuasi yang terukur dan terencana.

Panik adalah reaksi normal atas peristiwa yang tidak normal. Namun, panik bagai pisau bermata dua. Perpaduan rasa takut, cemas, bingung, dan pikiran kalut itu bisa menyelamatkan jiwa, tetapi juga bisa menjerumuskan diri dalam bahaya. Karena itu, panik harus dikendalikan hingga pikiran rasional tetap menguasai.

Panik muncul sebagai insting manusia untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya. Namun, panik yang terlalu menguasai diri akan mengacaukan pikiran rasional. Akibatnya, manusia tidak bisa mengambil keputusan secara tepat.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Tim sukarelawan mengevakuasi warga yang terjebak saat banjir melanda kawasan Pasar Labuhan, Kalanganyar, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (26/12/2018). Banjir terjadi karena meluapnya Sungai Cipunten Agung pada saat air laut pasang.

”Kepanikan bisa membuat seseorang yang seharusnya lari menjauhi sumber bencana justru malah mendekati bahaya,” kata psikolog kebencanaan dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fuad Hamsyah, Rabu (26/12/2018).

Saat panik, napas seseorang jadi lebih pendek, detak jantung jadi lebih cepat hingga dada berdebar, dan mata terbelalak. Semua reaksi itu akan membuat tubuh cepat lelah. Karena itu, kondisi kejiwaan yang tenang akan membuat fisik ikut tenang, demikian pula sebaliknya.

Psikolog di Center for Trauma Recovery Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Kuriake Kharismawan, menambahkan, panik sebagai alarm saat bahaya mengancam manusia itu dikendalikan oleh bagian otak yang disebut amigdala.

Saat ancaman yang datang berupa bencana, mekanisme umum otak manusia untuk menghadapinya adalah flight atau lari menjauh. Mekanisme itu membuat manusia akan lari secepat mungkin.

Persoalannya adalah, untuk berlari ke arah yang tepat dan terukur, manusia butuh kemampuan berpikir rasional yang dikendalikan oleh bagian otak yang disebut neokorteks. ”Jika amigdala atau kepanikan terlalu menguasai, kemampuan seseorang berpikir rasional melemah,” tambah Kuriake.

Selain itu, alarm amigdala sering menyala pada waktu dan momen yang tidak pas. Meski ancaman bahaya bersifat palsu, respons yang diberikan amigdala tetap optimal hingga mendorong seseorang bisa melakukan sesuatu di luar kewajaran.

Sebagai contoh, saat ada orang lain teriak tsunami datang, seseorang bisa lari kencang dan melompati tembok tinggi yang sulit dilakukan saat pikiran jernih. Padahal, informasi tsunami itu belum terverifikasi kebenarannya atau belum ada informasi arah datangnya air.

Karena itu, amigdala harus dikendalikan agar tidak mematikan kemampuan manusia berpikir logis. Saat kemampuan berpikir rasional melemah, keputusan yang diambil tidak akan tepat sehingga bisa menjerumuskan seseorang dalam bahaya.

”Meski insting menyelamatkan diri itu berguna, manusia tetap harus punya rencana bagaimana, ke mana, dan kapan waktu terbaik menyelamatkan diri,” kata Kuriake.

Meski insting menyelamatkan diri itu berguna, manusia tetap harus punya rencana bagaimana, ke mana, dan kapan waktu terbaik menyelamatkan diri.

DANIAL ADE KURNIAWAN–Sebuah mobil SUV terempas hingga 200 meter dari bibir Pantai Carita, Pandeglang, Banten, dan masih belum terevakuasi, Senin (24/12/2018). Evakuasi masih terkendala oleh ketersediaan alat berat dan guyuran hujan. Tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam telah menerjang kawasan wisata Pantai Carita dan meluluhlantakkan sektor pariwisata di kawasan tersebut.

Menular
Selain untuk menjaga rasionalitas, kata Fuad, panik harus dikendalikan karena bisa menular. Saat seseorang panik, orang di sekitarnya bisa ikut panik.

Kepanikan dalam proses evakuasi bencana itu membahayakan. Evakuasi bisa berjalan kacau dan akhirnya bisa membuat orang lain jatuh, terinjak, luka, bahkan meninggal.

Sejumlah hal bisa dilakukan untuk mengendalikan panik dan mengembalikan penuh kesadaran diri. Salah satunya adalah dengan menghirup napas panjang dan dalam. Jika sulit, proses menghirup udara, menahannya dalam perut dan mengeluarkan udara itu bisa dilakukan bertahap, makin lama makin panjang.

Cara lain adalah dengan berbicara pada diri sendiri tentang hal-hal positif. Perkataan ”saya akan baik-baik saja”, ”saya akan selamat”, ”saya akan bertemu keluarga”, atau ”saya akan diselamatkan orang lain” akan membentuk pola pikir positif. Ucapan itu bisa dilakukan sambil menepuk dada atau pipi.

Teknik lainnya adalah mengganti label buruk dalam diri dengan sesuatu yang positif. Namun, pikiran positif ini akan sangat bergantung pada kebiasaan sehari-hari. ”Jika sehari-hari terbiasa berpikir positif, maka saat bencana datang pun akan lebih mudah berpikir positif,” kata Fuad.

Rasa panik itu juga bisa terjadi pada anak. Menurut Kuriake, jika itu terjadi, orang dewasa di sekitarnya harus tenang. Dia bisa membangkitkan kemampuan berpikir anak dengan menanyakan siapa namanya, nama ibunya, umurnya, atau hari dan tanggal saat itu. Itu bisa dilakukan sembari menjejakkan kaki ke tanah atau mencubit diri.

Namun, Fuad mengingatkan, semua teknik membangkitkan kesadaran atau berpikir rasional agar panik tidak menguasai itu baru bisa dilakukan ketika dalam posisi sudah aman atau lepas dari bahaya utama. Jika masih dalam fase bertaruh nyawa, maka teknik bertahan hidup yang lebih dibutuhkan.

Dalam kasus tsunami, teknik bertahan hidup yang sering dipraktikkan adalah mengapung dengan berpegangan pada sesuatu sembari mengikuti arus. Bergerak melawan arus justru menghabiskan energi dan bisa memicu bahaya lebih besar.

Dilatih
Kemampuan untuk mengendalikan panik dan mengutamakan pola pikiran rasional itu, menurut Kuriake, hanya bisa dilakukan dengan pelatihan. Makin sering dilatih, hal itu akan terpola di dalam otak. Dengan demikian, saat menghadapi bencana apa pun, di mana pun, dan kapan pun akan selalu siap.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Warga mengikuti pelatihan dan pengenalan mitigasi bencana yang dikemas dengan lomba dayung getek di Kampung Kemijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (31/7/2016). Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Hysteria tersebut merangkul warga yang setiap saat harus menghadapi banjir dari pasang air laut atau rob. Warga juga diajak untuk memetakan potensi ekonomi, sosial, dan budaya di lingkungannnya.

Meski Indonesia terletak di daerah bencana, pelatihan untuk memampukan warganya siap siaga menghadapi bencana sangat kurang. Bahkan, kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan itu belum banyak tumbuh.

Kesadaran untuk menghadapi bencana biasanya muncul sesudah bencana datang. Namun, beberapa bulan kemudian, orang mulai lupa. Akibatnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak tertanam di otak.

”Agar tertanam di pikiran, pelatihan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dilembagakan, seperti upacara bendera atau olahraga rutin di kantor-kantor pemerintah,” kata Kuriake.

Kesadaran itu harus dimunculkan di sekolah, kantor, hotel, ataupun lingkungan perumahan. Hanya dengan itu, risiko bencana bisa diminimalkan.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: kompas, 27 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: