Home / Berita / Mendulang Rupiah melalui Sampah Plastik

Mendulang Rupiah melalui Sampah Plastik

Pemilahan dan pengolahan sampah di rumah, sekolah, dan instansi menjadi kunci upaya pengurangan volume sampah. Tak hanya itu, pemilahan dan pengolahan sampah juga bisa memberi tambahan nilai ekonomi bagi warga.

Bank Sampah Induk (BSI) Satu Hati Jakarta Barat telah memanfaatkan peluang dari sampah warga sejak satu tahun lalu. Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat Edy Mulyanto mengatakan, pemilahan dan pengolahan sampah penting untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Umum (TPU) Bantar Gebang, Bekasi.

SHARON UNTUK KOMPAS–Bank Sampah Induk (BSI) Satu Hati Jakarta Barat terletak di Jalan Kemuning Raya RT 005 RW 005 Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, menerima 4 ton hingga 7 ton sampah anorganik per hari, Kamis (29/11/2018).

”Pada awalnya tahun 2016, Jakarta Barat memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari. Setelah kami membuat BSI, pada 2017, produksi sampah berkurang menjadi 1.300 ton per hari,” kata Edy saat dihubungi di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Pada awalnya tahun 2016, Jakarta Barat memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari. Setelah kami membuat BSI, pada 2017, produksi sampah berkurang menjadi 1.300 ton per hari.

Melalui BSI, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat juga mampu menghasilkan omzet hingga Rp 275 juta per bulan. Besaran omzet tersebut dihasilkan melalui penjualan sampah anorganik dengan total sampah sekitar 100 ton per bulan.

Berada di bawah naungan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, BSI bekerja sama dengan tim 3 reuse, reduce, recycle (3R) dan BNI. Kerja sama dengan tim 3R untuk membantu sosialisasi pemilahan dan pengolahan sampah. Sementara Bank BNI membantu transfer uang hasil jual beli sampah anorganik.

Menurut pemantauan Kompas, pada siang hari BSI dengan luas lahan sekitar 500 meter persegi dipenuhi karung-karung berisi botol plastik. Ada sekitar 100 karung yang tersusun di wilayah BSI. Petugas timbang, Dennis, mengatakan, penumpukan ini terjadi dalam dua hari.

SHARON UNTUK KOMPAS–Penimbangan sampah untuk dijual kepada penampung di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

”Setiap hari BSI menerima 4 hingga 7 ton sampah anorganik yang berasal dari sekitar 10 bank sampah unit (BSU) di delapan kecamatan di Jakarta Barat. Sampah ini didominasi botol plastik dan kardus,” kata Dennis.

Sampah plastik yang ditampung di BSI memiliki nilai jual mulai dari Rp 2.000 hingga Rp 8.500 per kilogram. Wilayah BSI terbagi menjadi tujuh zona, yaitu kardus, gelas, kertas, ember, besi, botol, dan plastik. Dennis mengatakan, jika dipilah kembali, sampah-sampah tersebut dapat dibagi menjadi 53 jenis.

SHARON UNTUK KOMPAS–Zona Plastik di Bank Sampah Induk (BSI) Satu Hati Jakarta Barat, Kamis (29/11/2018).

SHARON UNTUK KOMPAS–Zona Besi di Bank Sampah Induk (BSI) Satu Hati Jakarta Barat, Kamis (29/11/2018).

Edy mengatakan, selain ada 12 petugas unit pengelola kebersihan yang bertugas di BSI, ada juga lima warga yang diperbantukan untuk memilah sampah-sampah anorganik. ”Untuk kelima warga, kami menggaji mereka Rp 700.000-Rp 800.000 per minggu per orang,” ucapnya.

Pengembangan pengolahan sampah anorganik juga terus dilakukan. Edy menyampaikan, para petugas UPK juga diberdayakan untuk membuat kerajinan tangan berbentuk ondel-ondel yang dijual sebagai suvenir.

”Kerajinan tangan ini terbuat dari botol bekas minuman teh yang kami jual seharga Rp 50.000 per pasang. Kami memasarkan ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), koperasi, bahkan nanti mau mencoba merambah ke hotel,” kata Edy.

SHARON UNTUK KOMPAS–Kerajinan tangan berbentuk ondel-ondel yang dijual sebagai suvenir terbuat dari botol bekas minuman teh.

Siap jual
Petugas administrasi dan keuangan, Dewi Lestari, mengatakan, sampah-sampah yang datang ke BSI sudah dalam kondisi siap jual. ”Ketika ada BSI, warga menjadi semangat mengumpulkan sampahnya. Secara jumlah, ada lebih dari 770 BSU yang tersebar di delapan kecamatan Jakarta Barat,” katanya.

Dewi menyampaikan, di lokasi BSI terdapat dua rusun yang masing-masing dihuni sekitar 100 kepala keluarga. Setiap rusun memiliki BSU dan mesin composting sendiri. Warga rusun biasanya akan menjual sampahnya kepada BSI setiap Sabtu.

Dalam kesempatan yang sama, Kompas diajak mengelilingi Rusun Blok A Kompleks Lingkungan Hidup. Warga Rusun Lingkungan Hidup Blok A Misem menyampaikan, melalui pemilahan sampah anorganik, kini sampah rumah tangganya tidak sebanyak dahulu.

”Kalau dulu, satu tong sampah bisa penuh dalam sehari. Tetapi, setelah ada BSI dan saya memisahkan sampah, sekarang tong sampah baru penuh setelah dua hari,” kata Misem.

SHARON UNTUK KOMPAS–Rusun Lingkungan Hidup Blok A

Sampah bukan organik
Rina Siskawati Purba, Ketua Bank Sampah Rusun Lingkungan Hidup Blok A, mengatakan, melalui penjualan sampah anorganik, tak hanya warga, pihaknya pun dapat memperoleh uang.

”Warga di sini biasanya botol plastik dan kardus. Mereka bisa dapat Rp 10.000 hingga Rp 50.000 sekali penjualan. Biasanya kami bayarkan tunai. Sementara pemasukan bersih bagi BSU bisa hingga Rp 500.000 per dua minggu yang ditransfer melalui rekening bank BNI,” katanya.

Saat ini, dari 100 kepala keluarga yang tinggal di Rusun Lingkungan Hidup Blok A, baru 44 kepala keluarga yang menjadi penabung sampah. ”Kami terus berupaya menyosialisasikan hal ini agar sampah dapat terus berkurang. Warga juga bisa mendapat pemasukan tambahan,” kata Rina.

Selain itu, Misem juga menceritakan, sejak bulan lalu, warga mulai diajak memisahkan sampah organik. Sampah kulit buah, sayur, ranting, kayu, nasi, lauk-pauk, rumput, dan sisa makanan kini dapat ditampung di mesin composting yang terbuat dari drum plastik berwarna biru dengan muatan hingga 300 liter.

SHARON UNTUK KOMPAS–Warga Rusun Lingkungan Hidup Blok A Misem menunjukkan mesin composting.

”Sampah-sampah organik ini dicacah kemudian disemprotkan cairan effective microorganisms 4 (EM4) untuk mempercepat proses pembusukan dan mengurangi bau pembusukan sampah. Setelah dua minggu, cairan dari sampah organik bisa digunakan sebagai pupuk,” kata Misem.

Rusun yang terdiri atas lima lantai ini memiliki tiga drum di setiap lantai untuk menimbun sampah organik yang akan dijadikan pupuk kompas. Ada pula tempat sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) di setiap lantai rusun.

Edy menyampaikan, pola pemilahan dan pengolahan sampah organik dan anorganik telah terbukti mengurangi jumlah sampah. ”Kalau masyarakat se-DKI Jakarta melakukan ini, saya yakin ini merupakan suatu gerakan masif dan persoalan di hulu bisa kita tangani,” ujarnya. (SHARON PATRICIA)–EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: