Home / Berita / Mencegah Siswa Hanyut dalam Tsunami Digital

Mencegah Siswa Hanyut dalam Tsunami Digital

Rabu (18/7/2018) siang sejumlah siswa SMP Tarakanita 3 Jakarta mengisi jam istirahat dengan makan bersama di aula sekolah. Mereka duduk berkelompok, saling mengobrol dan bercanda.

Salah satu siswa, Putra Agung Jaya, kelas VIII, mengatakan, suasana seperti itu lebih menyenangkankan. Dia setuju sekolah melarang siswa membawa gawai. “Sekolah telah memfasilitasi gawai apabila diperlukan, jadi siswa tidak perlu membawa gawai,” kata Putra.

Sejak enam tahun lalu, SMP Tarakanita 3 Jakarta memang melarang siswanya membawa gawai ke sekolah. Pihak sekolah menyediakan lima gawai jika siswa ingin berkomunikasi dengan orangtua mereka, atau memesan ojek daring.

“Sekolah bukan menghindar dari permasalahan, namun menegaskan bahwa sekolah merupakan tempat untuk bersosialisasi. Biarlah dunia sekolah ini menjadi tempat bagi para siswa untuk saling berinteraksi,” kata Kepala SMP Tarakanita 3 Jakarta Bernardus Yudo Ismedi.

Sejak lima tahun lalu, SMP Negeri 76 Jakarta juga melarang siswanya membawa gawai. Aturan ini dibuat karena para guru menilai lebih banyak dampak negatifnya jika siswa membawa gawai ke sekolah.

DIONISIA GUSDA UNTUK KOMPAS–Murid SMP Negeri 229 Jakarta bermain gawai saat jam istirahat di sekolah mereka di Jakarta Barat, Rabu (18/7/2018). Aturan penggunaan gawai diperlukan agar konsentrasi siswa tetap terjaga selama kegiatan belajar.

“Sebelum ada aturan, pernah ada kasus siswa kelas sembilan menonton film pornografi beramai-ramai. Ada juga para siswi yang saling mengumpat di media sosial karena memperebutkan pacar,” kata Tugiman Taufik, Guru Bidang Kesiswaan SMP Negeri 76 Jakarta, Kamis (19/7/2018).

Temuan konten-konten negatif terutama pornografi di gawai para siswa juga membuat pihak SMK Negeri 2 Pariaman melarang siswanya membawa gawai. Pihak sekolah juga melihat keberadaan gawai mengganggu konsentrasi belajar siswa. Siswa tidak fokus belajar, di jam pembelajaran ada yang membuka media sosial dan main gim.

Meski ada larangan, masih ada siswa yang membawa gawai. Jika demikian, gawai disita dan siswa harus membuat pernyataan di atas kertas bermeterai yang dikirim kepada orangtua. “Sudah ada 10 gawai yang kami sita,” kata Wakil Kepala SMKN 2 Pariaman Bidang Kurikulum Hasnul Rizki.

Sejumlah sekolah lain tidak melarang siswanya membawa gawai, tetapi membatasinya. Di SMAN 24 Jakarta, siswa boleh menggunakan gawai saat jam pelajaran yang membutuhkan gawai untuk mengerjakan soal latihan, atau saat istirahat.

Di SMP Negeri 229 Jakarta, siswa juga boleh menggunakan gawai saat mata pelajaran tertentu. Itu pun penggunaannya diawasi guru dan jika kedapatan melanggar, gawainya disita.

Menurut Wakil Kepala SMP 229 Jakarta, Saul Tanjung, penggunaan gawai pada anak sekolah tidak dapat dihindari, seiring kemajuan teknologi, “Pada mata pelajaran tertentu, gawai dibutuhkan untuk mencari materi pelajaran,” kata Saul.

Di Sekolah Highscope Indonesia (SHI) Taman Alfa Indah, Jakarta, penggunaan gawai di sekolah dilarang untuk semua siswa tingkat sekolah dasar. Siswa tingkat menengah diperbolehkan membawa gawai, tetapi hanya boleh digunakan saat jam sekolah sudah usai. Selama jam pelajaran disimpan di loker (tempat penyimpanan).

“Bahkan untuk gawai dalam bentuk tablet, jam tangan dengan GPS (the global positioning system), atau jam tangan yang bisa digunakan untuk chatting, juga dilarang dibawa dan digunakan di sekolah,” ujar Caroline Mathilda, Kepada SHI Taman Alfa Indah.

Bimbingan
Kemajuan teknologi tak bisa dihindari, tsunami digital pun tak bisa dibendung. Karena itu, sejumlah sekolah pun memberikan bimbingan dan pemahaman kepada siswa bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik, termasuk gawai, agar siswa tidak hanyut dalam gelombang tsunami digital.

“Siswa tetap harus diajarkan tentang kemajuan teknologi, namun perlu diawasi,” kata Utami Dewi, guru Seni Budaya dan bahasa Inggris SD Negeri Kebon Jeruk 11 Pagi.

Sekolah ini menerapkan pembelajaran elektronik menggunakan aplikasi Edmodo untuk memberi penugasan bagi siswa kelas 4, 5, dan 6. Setiap guru, katanya, juga mengajarkan internet sehat kepada siswa yang disisipkan saat jam mengajar.

Untuk mengurangi ketergantungan siswa pada gawai, Wali Kelas VIII SMP Tarakanita 3 Jakarta, Swarny Silaban pernah membuat program “satu minggu tanpa elektronik”. Kegiatan ini mendapat dukungan orangtua siswa. Selama seminggu, waktu luang siswa di rumah diisi dengan kegiatan lain seperti membaca buku, latihan menari, dan sebagainya.

Kerja sama sekolah dan orangtua sangat penting untuk mengajari dan membimbing anak memanfaatkan teknologi dengan baik. Bagaimanapun, menurut dokter spesialis jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi, Bondowoso, Dewi Prisca Sembiring, anak bisa kecanduan gawai atau tidak kecanduan gawai karena guru dan orangtua.

“Internet dan gawai kalau dipergunakan dengan benar membawa dampak yang baik. Siswa harus dipersiapkan agar bisa membatasi dirinya sendiri dalam mengakses gawai,” ujarnya.

(Laraswati Ariadne Anwar/Dionisia Arlinta/Ester Lince Napitupulu/Angger Putranto/Ismail Zakaria/Cokorda Yudistira/Sharon Patricia/Dionisia Gusda Putri)–SONYA HELLEN SINOMBOR

Sumber: Kompas, 26 Juli 2018
———————

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: