Home / Berita / Mencari Bibit-bibit Pemasar Unggul dari SMK

Mencari Bibit-bibit Pemasar Unggul dari SMK

Afit Piago bersama rekan setimnya, Noviana Adesty, siswa kelas III SMK Negeri 14 Jakarta, bersemangat mempresentasikan sebuah produk telepon pintar merek Advan seri G1. Mereka bergantian memaparkan keunggulan teknologi telepon pintar itu.

Afit pun tanpa canggung turun dari panggung presentasi, menjajal kemampuan kamera telepon itu untuk swafoto maupun berfoto bersama audiens pada ajang final kompetisi Advan SMK Sales Awards 2017 di Solo, Jawa Tengah, Selasa (16/5). Keduanya ceriwis merayu audiens seperti layaknya tenaga penjual profesional. Penampilan meyakinkan keduanya diganjar Juara I Advan SMK Sales Awards 2017.

“Saya ingin jadi pengusaha bidang makanan. Untuk itu, saya perlu belajar banyak tentang bagaimana menjual produk dan menimba pengalaman sebagai sales,” ujar Afit.

Tak kalah bersemangat, Natalia dan Putri, siswa kelas III SMKN 2 Jayapura, Papua, mempresentasikan kain batik Papua. Kekhasan motif batik, seperti komoro, burung cendrawasih, dan honai (rumah tradisional) diangkat sebagai keunggulan produk yang tidak ada di daerah lain sehingga layak dibeli. “Kualitas batik asal Papua tidak kalah dengan batik-batik lain. Motifnya menggambarkan budaya dan alam Papua,” kata Natalia.

Natalia dan Putri juga menawarkan tas perempuan berbahan kain batik asal Papua. Seusai presentasi, beberapa orang membeli produk yang mereka tawarkan seharga Rp 175.000-Rp 240.000. SMKN 2 Jayapura berhasil menyabet juara kedua.

Sebanyak 10 tim SMK negeri ataupun swasta dari 10 provinsi berkompetisi dalam babak final Advan SMK Sales Awards di Solo. Mereka adalah tim SMKN 14 Jakarta, SMKN 2 Jayapura, SMK Bina Cipta Palembang (Sumatera Selatan), SMKN 1 Pekanbaru (Riau), SMKN 7 Medan (Sumatera Utara), SMKN 1 Pengasih (Kulon Progo, DI Yogyakarta), SMKN 1 Surabaya (Jawa Timur), SMK Motivasi Insani (Jawa Barat), SMK Batik 2 Solo (Jateng), dan SMKN 1 Padang Panjang (Sumatera Barat).

Kreativitas
Dedy Budiman, Ketua Panitia Advan SMK Sales Award 2017, yang juga pendiri Komunitas Sales Indonesia (Komisi), mengatakan, kompetisi ini diikuti 135 tim SMK dari sejumlah daerah. Tiap tim beranggotakan lima siswa SMK kelas III. Dalam kompetisi ini kreativitas menjual dari siswa diuji.

Mereka diberi tugas menjual produk sponsor, yaitu produk Advan, baik tablet maupun telepon pintar, produk-produk Stabilo, dan produk lokal setempat di daerah masing-masing. Sebelum memulai kompetisi penjualan, mereka mengikuti kelas pelatihan secara daring, kemudian didampingi mentor.

Dedy mengatakan, peserta dipilih kelas III SMK. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan dan memiliki pengalaman dari kompetisi ini, mereka lebih mudah diserap dunia kerja sebagai tenaga penjualan yang andal.

“Kami ingin mendukung kebijakan Presiden melaksanakan program revitalisasi SMK. Ini menjadi upaya mendekatkan SMK dengan dunia industri,” kata Dedy.

Ketua Sales Director Indonesia Sally Taher mengatakan, sales merupakan tulang punggung perusahaan. Semua industri, apa pun bidangnya, dipastikan memerlukan tim penjualan. Tanpa tim penjualan, produk-produk yang dibuat bagian produksi tidak akan bisa dijual kepada konsumen sehingga perusahaan itu pun tidak dapat memperoleh keuntungan.

Meskipun begitu, selama ini telanjur terbangun citra profesi sales kurang menjanjikan dibandingkan bidang pekerjaan lainnya. Tak heran, kata Dedy, di SMK, jurusan pemasaran bukanlah jurusan favorit dibandingkan jurusan lain, seperti jurusan bidang keahlian teknologi.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016, jumlah siswa SMK terbanyak di bidang keahlian teknologi dan rekayasa, yaitu 1.513.713 siswa. Kedua, bidang keahlian bisnis dan manajemen di mana ada bidang pemasaran, sebanyak 1.172.091 siswa. (RWN)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Mei 2017, di halaman 12 dengan judul “Mencari Bibit-bibit Pemasar Unggul dari SMK”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: