Home / Berita / Membaca Pergerakan Gunung Agung

Membaca Pergerakan Gunung Agung

Memasuki hari kelima sejak ditetapkan statusnya menjadi Awas pada 22 September lalu, Gunung Agung di Bali masih bergeming. Gempa-gempa memang terus terjadi, tetapi letusan gunung setinggi 3.014 meter dari permukaan laut ini masih menjadi tanda tanya.

Sementara itu, gelombang pengungsian terus bertambah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Rabu (27/9), jumlah pengungsi mencapai 96.086 jiwa yang tersebar di 430 tempat pengungsian di 9 kabupaten/kota. Jumlah ini diperkirakan akan terus membesar.

Dalam sejarah masyarakat Bali, evakuasi besar-besaran sebelum letusan ini juga pertama kali. Letusan Gunung Agung sebelumnya terjadi tanpa peringatan pemerintah. Perhatian pun kini terpusat pada para ahli gunung api dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang memiliki otoritas untuk menentukan naik-turunnya status Gunung Agung.

Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devi Kamil Syahbana mengatakan, peningkatan status Gunung Agung menjadi Awas karena dari berbagai parameter amatan mengarah pada terjadinya letusan. Parameter itu terutama dari meningkatnya kegempaannya.

Pergerakan aktivitas Gunung Agung awalnya terdeteksi dari meningkatnya kegempaan sejak awal Juli. Aktivitas kegempaan terus naik, ditambah dengan kemunculan gempa-gempa vulkanik dangkal yang terus bertambah. Peningkatan gempa, terutama vulkanik dangkal, ditafsirkan sebagai adanya pergerakan cairan magma ke atas.

Parameter amatan lainnya, citra satelit ASTER TIR menunjukkan anomali panas di daerah kawah sejak Juli 2017 dan mulai teramati semakin luas sejak pertengahan Agustus 2017. Intensitas titik panas juga meningkat yang dianggap mengindikasikan bahwa transfer energi melalui fluida magmatik ke permukaan intensitasnya semakin tinggi. Jika dorongan cairan magma ini terus terjadi, dikhawatirkan dapat melemahkan lapisan penutup sisa letusan 1963 dan dapat diikuti oleh letusan.

Data deformasi atau perubahan tubuh gunung yang diperoleh melalui analisis data satelit dalam periode Agustus- September 2017 juga menunjukkan adanya indikasi inflasi atau penggembungan. Ini dianggap menandai adanya pergerakan magma mendekati permukaan.

Namun, dari tiga parameter amatan ini, tidak diterangkan adanya hasil pemantauan tiltmeter dan EDM (electronic distance measurement) yang lazimnya dipakai untuk mengukur deformasi gunung api secara lebih presisi. Itu karena satu-satunya tiltmeter baru dipasang pada 22 September di sekitar Pura Besakih. Keterbatasan alat membuat PVMBG terpaksa memprioritaskan pemasangan tiltmeter ke gunung lain. Persoalan lainnya, 3 dari 9 seismograf di sekitar Gunung Agung dan Batur ternyata rusak sehingga akurasi perekaman data kegempaan berkurang.

Ahli gunung api Surono mengatakan, hingga kini PVMBG harus bekerja dengan keterbatasan alat pemantauan. “Untuk Gunung Agung, sebenarnya saat saya masih menjabat di PVMBG pada 2012 sudah mendapat tambahan seismograf dari USGS (United States Geological Survey),” kata Surono.

Menurut Surono, minimal tiltmeter yang harus ditanam di gunung ada tiga, yaitu di bawah, lereng, dan dekat puncak. Ini untuk mendeteksi proses pembengkakan gunung ada di posisi mana sehingga bisa mengetahui pergerakan magma. Semakin rapat seismografnya semakin baik. Tanpa alat yang memadai, akurasi pemantauan menjadi berkurang, bahkan bisa meleset.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah 3 Denpasar, yang juga mengoperasikan seismograf di sekitar Pulau Bali, mencoba berkontribusi memberikan data kegempaan di sekitar Gunung Agung. Terlihat sebaran gempa bergerak dari sumber sangat dalam di sekitar bawah Gunung Batur, ke arah Gunung Agung di sisi tenggara. Berikutnya, pada 14-26 September mulai mengarah ke sumber lebih dangkal, yaitu sekitar 0-20 km.

Dari sebaran data kegempaan ini, kata Surono, bisa saja dimaknai bahwa saat ini masih dalam tahap pengisian dapur magma dalam milik bersama Gunung Agung dan Gunung Batur. Pergerakannya memang mengarah pada Gunung Agung, tetapi dengan keterbatasan data menjadi sulit dipastikan apakah yang bergerak ke permukaan adalah magmanya atau hanya gasnya. Jika itu yang terjadi, peluang terjadinya letusan saat ini bisa mengecil.

Meskipun demikian, Devi meyakini bahwa arah pergerakan magma terfokus ke Gunung Agung. “Buktinya, dari pemantauan satelit ada perubahan energi panas di kawah Gunung Agung, sementara di Gunung Batur belum teramati,” katanya.

Melihat kondisi ini, Devi menyimpulkan, peluang letusan Gunung Agung masih lebih tinggi daripada tidak terjadi letusan. “Tapi dalam statistik aktivitas vulkanik di dunia, ada beberapa kasus di mana rentetan gempa besar tidak diakhiri letusan dan tentunya itu yang kita harapkan semua,” katanya.

Riwayat letusan
Geolog Indyo Pratomo mengatakan, untuk memprediksi pergerakan gunung api, selain pemantauan intensif, juga diperlukan pengetahuan tentang karakter letusan gunung ini sebelumnya. Misalnya, berapa lama fase kritis atau kegempaan Gunung Agung sebelum terjadi letusan pada 1963 atau pada periode-periode sebelumnya.

“Perlu dilihat pula bahwa Gunung Agung dan Gunung Batur memiliki irisan letusan pada masa lalu. Setelah Gunung Agung meletus tahun 1963, Gunung Agung kemudian menyusul. Data kegempaan yang terlacak saat ini mungkin bisa jadi pertimbangan skenario ke depan,” katanya.

Masalahnya, data letusan Gunung Agung pada masa lalu sangat terbatas karena sebelum terekam meletus pertama pada 18 Februari 1963, gunung ini sama sekali tak terpantau. Di antara minimnya data ini, kita bisa mengacu pada laporan MT Zen dan Djajadi Hadikusuma (1963). Disebutkan, awal keaktifan Gunung Agung dikisahkan oleh penduduk di Jehkori, desa di sisi selatan lereng Gunung Agung, di ketinggian 928 meter. “Gempa tremor itu dirasakan pada sore hari 18 Februari 1963. Berikutnya, penduduk di Tianyar, di pantai utara, mendengar bunyi bergemuruh menjelang tengah malam itu hingga pukul 01.00 keesokan harinya,” kata MT Zen.

Data ini masih sulit menjadi patokan. Jadi, kapan Gunung Agung meletus? Tak ada yang bisa menjawabnya pasti. Namun, yang jelas, gunung ini akan kembali meletus. Bisa dalam hitungan detik, jam, hari, bulan atau bahkan tahun. Untuk saat ini, mengikuti rekomendasi PVMBG adalah pilihan yang terbaik. (AHMAD ARIF)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 September 2017, di halaman 13 dengan judul “Membaca Pergerakan Gunung Agung”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: