Home / Berita / Materi Ajar Lewat Medsos

Materi Ajar Lewat Medsos

Media sosial memiliki potensi besar bagi pendidikan jika dimanfaatkan dengan benar. Pembelajaran metode kelas terbalik (flipped classroom) cocok dengan kebutuhan belajar masa kini serta mudah dilaksanakan apabila guru piawai.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada tahun 2017 mengungkapkan bahwa 143,26 juta penduduk Indonesia aktif berinternet. Sebanyak 70 persen orang masih memakainya sebatas mengakses media sosial (medsos).

“Daripada siswa cuma membaca informasi yang tidak jelas, lebih baik medsos dipakai untuk berbagi materi pembelajaran dan diskusi,” kata guru mata pelajaran produktif pembuatan produk SMKN 2 Sewon Yogyakarta Arifah Suryaningsih pada Simposium Internasional Pembelajaran Terbuka dan Jarak Jauh (Isodel) 2018 pada awal bulan Desember di Badung, Bali.

Terdapat berbagai situs maupun aplikasi media sosial yang bisa dipakai sebagai wadah pembelajaran seperti Office 365, Pintaria, dan Google Classroom. Arifah memilih yang paling praktis, yaitu Whatsapp. Semua siswa sudah memiliki aplikasi ini dan sudah memiliki grup untuk kelas masing-masing.

Ia memberi siswa bacaan ataupun tautan kepada situs internet maupun video di Youtube yang sesuai dengan materi pembelajaran untuk diakses di luar jam sekolah. Setelah itu, ia memoderatori diskusi di grup Whatsapp. Pertanyaan-pertanyaan pertama dilontarkan oleh Arifah guna memancing pendapat siswa. Agar diskusi bergulir, ia juga menyebut nama siswa-siswa tertentu yang terindikasi kurang aktif di grup dan meminta mereka mengemukakan pendapat. Hal ini dilakukan supaya guru bisa melihat tingkat pemahaman setiap siswa.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (tengah, berpeci) mendengar penjelasan salah satu pengelola stan pameran pendidikan di Simposium Internasional Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (Isodel) 2018 di Badung, Bali pada hari Senin (3/12/2018).

“Pertemuan di kelas digunakan untuk mempraktikkan. Waktu mengajar lebih efektif dan fokus karena siswa ketika masuk kelas sudah memiliki pengetahuan mengenai praktikum yang akan dilakukan,” ujarnya.

ANTARA/YUSUF NUGROHO–Sejumlah wartawan dan warga membentangkan poster saat kampanye anti hoax di Alun-alun Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/4). Kampanye anti hoaks yang di selenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia Kudus tersebut bertujuan untuk mengajak serta mengedukasi masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak menyebarkan informasi tidak benar yang dapat memicu keresahan di masyarakat.

Kapasitas TIK
Direktur Pusat Pengembangan Pendidikan Terbuka dan jarak Jauh se-Asia Tenggara (SEAMOLEC) Abi Sujak menjelaskan, mayoritas siswa di Asia Tenggara masih pasif dalam pembelajaran, mereka menunggu diberi materi oleh guru. Hanya sedikit siswa berinisiatif membuka internet untuk mengakses konten pembelajaran.

Oleh sebab itu, setiap pertemuan tatap muka di kelas juga membangun kemampuan siswa memiliki inisiatif dan kreativitas untuk mengakses konten secara mandiri. Kembangkan kemampuan mereka membuat konten sendiri yang kemudian bisa dibagikan kepada komunitas sekolah ataupun terbuka untuk publik. Guru menjadi penyaring informasi yang beredar di internet sekaligus mengarahkan siswa ke situs ataupun kanal yang memiliki materi positif.

Kemampuan guru menakhodai media sosial untuk menjaring konten positif bagi siswa merupakan tantangan tersendiri. Dapat dilihat dari data Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018 yang mengadakan pemilihan Duta Rumah Belajar Kemendikbud 2018 dan diikuti 6.809 guru. Terungkap baru 40 persen guru mengetahui cara memakai teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bahkan, hanya 14 persen yang bisa memanfaatkan TIK untuk pembelajaran.

Kepala Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Laksmi Dewi menjabarkan, para calon guru sudah dilatih untuk memanfaatkan media sosial sebagai wadah pembelajaran bagi diri sendiri dan kelak bagi siswa mereka nanti. “Tantangan utamanya ialah mengubah persepsi dan kebiasaan mereka ketika mengakses media sosial. Umumnya, begitu membuka media sosial yang langsung diakses adalah konten hiburan yang bisa berlangsung selama berjam-jam. Setelah itu, mahasiswa terlalu jenuh untuk mengakses konten pembelajaran. Pendekatan diubah dengan membiasakan mereka langsung mengakses konten pembelajaran begitu membuka media sosial,” tuturnya.

Untuk guru, UPI membangun jejaring dengan sekolah-sekolah di Jawa Barat guna meningkatkan kemampuan guru memanfaatkan media sosial. Laksmi yang juga pengurus Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia mengatakan, ada 37 perguruan tinggi dengan prodi teknologi pendidikan yang juga memberi pembekalan kepada guru agar mereka cakap berteknologi dan juga bisa membuat konten sarat ilmu.–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 30 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: