Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

- Editor

Sabtu, 19 September 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah limbah masyarakat menjadi produk bermanfaat serta bernilai jual.

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah limbah masyarakat menjadi produk bermanfaat serta bernilai jual.

Inovasi tersebut dilakukan mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) di Desa Sutojayan, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar selama beberapa waktu lalu. Kegiatan dilakukan dalam rangka Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah salah satu perwakilan tim, Wakhidatul Fitriyah, mengatakan bahwa Desa Sutojayan memiliki potensi limbah batok kelapa cukup banyak, yaitu mencapai 15 ton per tahun. Namun, sebagian masyarakat hanya memanfaatkannya untuk kerajinan tangan, bahan bakar gamping, dan sisanya dibuang ke tempat pembuangan akhir.

”Padahal, batok kelapa memiliki kandungan lignin, selulosa, hemiselulosa, dan sumber karbon yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan asap cair. Itu sebabnya kami mengajak mereka untuk bisa mengubah limbah menjadi berkah,” kata Wakhidatul dalam siaran pers yang dikirim Tim Humas Universitas Brawijaya Malang, Jumat (18/09/2020).

Program sosialisasi dan pelatihan yang dinamakan LIKE-TOK tersebut bertujuan memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat guna memproduksi asap cair serta produk samping berupa briket. Sosialisasi dilakukan bertahap secara daring.

”Prosesnya dilakukan dengan alat pirolisis. Dengan alat ini, akan dilakukan proses pembakaran batok kelapa dengan suhu kurang lebih 400 derajat celsius selama 3-6 jam. Setelah proses pembakaran akan terjadi destilasi uap dan terjadi proses kondensasi lalu terbentuklah asap cair. Asap cair inilah nanti yang akan digunakan untuk bahan pestisida,” tutur Wakhidatul.

Kegiatan dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan mendampingi warga Desa Sutojayan untuk membuat produk pestisida cair tersebut. Produk dikemas baik sehingga bisa langsung dipasarkan.

Adapun tim mahasiswa yang melakukan inovasi tersebut, selain Wakhidatul Fitriyah, ada Maulana A’inul Yaqin, Bakti Pertiwi, Yohana Christine Tiurma Manurung, dan Muhammad Usman Sihab. Para mahasiswa itu dibimbing dosennya, Dr Dodyk Pranowo.

Wakhidatul menambahkan, program LIKE-TOK akan terus berlanjut dan dikembangkan untuk mencapai peningkatan kesejahteraan dan mengurangi permasalahan limbah Desa Sutojayan. ”Melalui program ini, LIKE-TOK dapat mengurangi limbah batok kelapa sebanyak 98,8 persen setiap bulannya,” kata mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Selain bisa mengurangi pencemaran lingkungan, program tersebut menurut Wakhidatul diyakini bisa memberdayakan dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

”Rencana tahapan berikutnya dari program LIKE-TOK adalah melakukan penjualan secara daring dengan menggunakan e-commerce untuk menjangkau pasar yang lebih luas, serta bekerja sama dengan toko penjualan bahan pertanian dan dinas pemerintahan terkait. Ini harapannya akan memberikan manfaat ekonomi langsung ke masyarakat Desa Sutojayan,” papar Wakhidatul.

Adapun Wakil Dekan III FTP UB Yusuf Hendrawan mengatakan bahwa inovasi mahasiswa Universitas Brawijaya tersebut cukup terkendala selama pandemi Covid-19. Sebab, tim mahasiswa tidak bisa berkumpul sehingga koordinasi dengan sesama anggota tim, koordinasi dengan dosen pembimbing, pelatihan dengan mitra masyarakat, serta mitra pengusaha dilakukan secara daring.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI—Suasana di Universitas Brawijaya Malang, Sabtu (14/03/2020).

”Hal ini yang membuat mahasiswa harus berpikir lebih keras dan cerdas dalam menyiasati kondisi Covid-19. Mereka harus lebih rajin berkoordinasi, lebih rajin membaca jurnal, dan harus lebih sabar dalam mengerjakan PKM. Ini yang membuat mahasiswa yang ikut PKM tahun ini pasti menjadi mahasiswa tangguh dan hebat,” tutur Yusuf.

Fakultas, menurut Yusuf, mendukung penuh kreativitas mahasiswanya dengan menyediakan berbagai platform komunikasi, seperti Zoom, dan kebutuhan daring lain. FTP juga telah melakukan pelatihan penulisan narrative review, pelatihan pembuatan video profil dan animasi, pelatihan paten, dan lain-lain. Dengan demikian, untuk PKM tahun ini, FTP diharapkan masih tetap berjaya mewakili Universitas Brawijaya.

Oleh DAHLIA IRAWATI

Editor: AUFRIDA WISMI WARASTRI

Sumber: Kompas, 18 September 2020

Informasi terkait

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB