Home / Berita / Mahar Saling Untung di Hutan

Mahar Saling Untung di Hutan

Mikroba di bawah tanah berinteraksi dengan akar-akar vegetasi hutan menghasilkan simbiosis mutualisme. Relasi alami ini membantu tanaman pokok tumbuh lebih cepat dan dimanfaatkan untuk rehabilitasi lahan.

Di balik rerimbunan pepohonan hutan tropis nan lembab, mikroba jamur berkembang biak di lantai hutan. Jamur itu tak sekadar hidup, tetapi juga berinteraksi dengan si tanaman inang dalam relasi saling menguntungkan.

Si inang memberi pasokan karbon berupa cairan glukosa dan jamur membalasnya dengan menyediakan nutrien, seperti fosfor, nitrogen, kalsium, dan mangan. Relasi saling menguntungkan bagi tiap individu yang saling membutuhkan.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, relasi ini untuk memacu pertumbuhan tanaman berkayu, terutama tanaman industri. Contohnya, akasia dan eukaliptus.

Dalam percobaan terbaru bersama divisi riset korporasi raksasa hutan tanaman industri di Indonesia, media tanam yang diberi jamur menghasilkan pertumbuhan lebih cepat daripada media tanam tanpa jamur. Dalam tiga bulan, akasia yang diberi jamur mikoriza setinggi 40 sentimeter. Ini lebih cepat dibandingkan media kontrol (tanpa jamur dan pupuk tambahan) yang punya tinggi separuhnya.

Saat memindahkan akasia hasil kultur jaringan dari botol ke media tanam, bakal bibit ini butuh penyesuaian lingkungan. Seperti bayi yang biasa mendapat asupan makanan lengkap di laboratorium, akar akasia masih lemah mengambil unsur hara dari media tanam barunya.

Begitu spora jamur dari jenis mikoriza arbuskular dimasukkan dan tumbuh di media tanam, ada interaksi jamur dan tanaman inang. Hifa seperti akar-akar pada jamur ukuran mikron ini mengenai akar akasia, terjadilah kontak mahar. Benang-benang hifa mendapat glukosa (karbon) dari si inang dan jamur memberi nutrien pada inang.

”Interaksi jamur dan tanaman inang ini adalah solusi mengurangi pupuk kimia,” kata Maman Turjaman, peneliti pada Pusat Litbang Hutan Badan Litbang dan Inovasi KLHK, Rabu (17/1), dalam Festival Iklim 2018, di Jakarta.

Pupuk kimia berdampak ketergantungan dan memiskinkan tanah, serta proses pembuatannya butuh energi besar. Itu termasuk satu dari beberapa jenis pabrik yang disasar pada Industri Hijau di Kementerian Perindustrian.

Manfaat lain, mikoriza yang melepaskan enzim fosfatase bisa dimanfaatkan pada remediasi bekas tambang bersifat asam. Enzim itu memisahkan mineral logam seperti aluminium (Al) dengan fosfat.

Simbiosis mikoriza
Simbiosis mutualisme disebut simbiosis mikoriza dilakukan kelompok jamur Basidiomycetes dan Ascomycetes. Dua kelompok ini termasuk jamur yang bersimbiosis mutualisme dengan 95 persen vegetasi hutan tropis.

Saat tanaman kian dewasa, interaksinya perlu lebih banyak jamur. Maman menyebut lebih dari 10 jenis jamur berinteraksi pada akar tanaman dewasa. Sebab, jamur punya kecocokan dengan setiap inang untuk menentukan efisiensi pertukaran mahar. Contohnya riset oleh ahli biologi tanah, Florian Walder (2012), pada jamur Glomus intraradices dan G mosseae pada tanaman jenis rerumputan (flax atau Linum usitatissimum) dan sorgum.

Hasilnya, interaksi G intraradices dengan flax ”keuntungan” tanaman inang lebih besar karena efisiensi mendapat fosfor 94 persen, nitrogen 80 persen, dan efisiensi jamur mendapat glukosa 30 persen. Sebaliknya, saat G intraradices berinteraksi dengan sorgum, jamur lebih diuntungkan dengan efisiensi 70 persen glukosa dan efisiensi tanaman inang 6 persen fosfor dan 20 persen nitrogen.

Pada simbiosis G mosseae dengan flax, efisiensi penyerapan fosfor 48 persen, nitrogen 52 persen, dan efisiensi jamur mendapat glukosa 29 persen. Saat G mosseae dipertemukan dengan sorgum, efisiensi jamur mendapat glukosa 71 persen, efisiensi di sorgum mendapat fosfor 52 persen, dan nitrogen 48 persen.

Perubahan iklim
Saat dihadapkan pada perubahan iklim, mikroba hutan tropis bisa memitigasi pemanasan global. Contohnya, jamur jenis ektomikoriza Pisolithus arhizus yang bersimbiosis dengan tanaman pinus (Pinus merkusii) mengalami perubahan pola musim produksi tubuh buah. Sebelum tahun 2005, buah bermunculan di awal musim hujan (Oktober-Desember). Setelah 2005, tren produksi dalam satu tahun menjadi 2-3 kali.

Maman juga menunjukkan jamur Hemiopora retisporus yang bersimbiosis dengan jenis pohon pelawan (Tritaniopsis obovata) di Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, pun mengalami perubahan periode produksi. Ada pula produksi jamur morel di dataran tinggi Taman Nasional Gunung Rinjani. Jamur yang biasanya tumbuh Maret-Mei 2012, tetapi pada 2017 jamur morel tumbuh Mei-Agustus.

Selain pada tanaman mungil, perubahan iklim berdampak pada penyerapan karbon hutan tropis berskala lebih luas. Riset Haruni Krisnawati dari Puslitbang Hutan dan kawan-kawan yang diterbitkan Nature Communications, 19 Desember 2017 menunjukkan hutan Borneo selama 50 tahun terakhir mengalami peningkatan biomassa (di atas permukaan tanah) periode rata-rata 1988-2010.

Di sisi lain, hutan alam primer sebagai penyerap karbon ini rentan perubahan iklim dan penggunaan lahan. Kekeringan panjang akibat El Nino 1997- 1998 sempat menghentikan serapan karbon secara temporer karena meningkatnya kematian pohon.

Sementara hutan yang disebut membantu memitigasi perubahan iklim ternyata kapasitas penyerapan karbon bisa turun. Padahal, vegetasi secara alami menyerap emisi karbon, pemicu perubahan iklim.(Ichwan Susanto)

Sumber: Kompas, 19 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: