Home / Berita / Lompatan China, dari Imitasi Menuju Inovasi

Lompatan China, dari Imitasi Menuju Inovasi

Perubahan di China berlangsung begitu cepat, bahkan melebihi impian penduduknya. Negeri yang empat puluh tahun lalu masih dilanda kelaparan, kini menjelma digdaya di bidang ekonomi dan belakangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perubahan di China dimulai dari kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (Gaige Kaifang) ekonomi yang dirintis Deng Xiaoping pada tahun 1978. Mengandalkan keberlimpahan tenaga kerja dan stabilitas politik dalam negeri, China menawarkan buruh murah dengan keterampilan dan jam kerja tinggi. Inilah yang kemudian membuat hampir seluruh industri massal berbondong-bondong membangun pabriknya di China.

Tak hanya memenuhi pesanan perusahaan asing, pelaku usaha di China pun membuat merk sendiri, dengan harga lebih murah. Hingga sepuluh tahun lalu, China masih dikenal sebagai pembuat barang murah dengan kualitas murahan.

“Hanya langit dan bumi yang diciptakan Tuhan, selebihnya made in China,” ucapan Kancha Sherpa, pemandu Gunung Everest saat menemani jalan di pusat perbelanjaan barang untuk pendakian di Thamel, Nepal tahun 2011, itu masih membekas.

AP PHOTO/NG HAN GUAN, FILE–Dalam foto bertanggal 26 April 2018, sebuah robot yang membantu resepsionis dipamerkan di sebuah stan pabrik otomotif China dalam pameran otomotif China 2018 di Beijing, China.

Tak hanya di negara-negara dunia ketiga, barang-barang murah produksi China membanjiri negara maju. Mulai dari toko-toko “100 Yen” di Jepang, hingga lapak penjual pernak-pernik di berbagai lokasi wisata Eropa.

Setelah menguasai pasar barang murah secara global, kini, negara ini mulai mendominasi barang berteknologi canggih.

Misalnya, drone (pesawat nirawak) dari China yang diproduksi Da-Jiang Innovations Science and Technology atau populer sebagai DJI kini telah menguasai pasar global. Laporan Interact Analysis menyebutkan, DJI telah menguasai 70 persen pasar drone global hingga akhir 2017.

Majalah Fortune edisi November 2017 menyamakan DJI sebagai “Aple untuk produk drone.” Bedanya, jika Aple di desain di Amerika dan diproduksi di China, DJI didesain dan diproduksi di China dan dijual ke Amerika.

Beberapa merk telepon genggam China yang beberapa tahun lalu dikenal murahan kini mulai diperhitungkan kualitasnya. Kini, mereka sangat serius mengembangkan sepeda motor dan mobil listrik, selain industri energi bersih.

Tak hanya itu, China kini berambisi mendominasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI). Tahun lalu, China’s State Council telah mengeluarkan cetak biru untuk menjadikan negeri itu sebagai “negara utama pusat inovasi AI” pada 2030.

Ambisi ini didukung oleh dana besar dan infrastruktur. Misalnya, survei yang dilakukan oleh Top500 pada November tahun 2017 menyebutkan, China memiliki superkomputer terbanyak di dunia dengan 202 unit, menggeser Amerika Serikat yang memiliki 169 unit, Jepang 35 unit, dan Jerman 20 unit.

Padahal, survei pada Juni di tahun yang sama, China baru memiliki 160 unit superkomputer, masih di bawah Amerika yang sudah punya 169 unit. Jadi, tidak sampai setahun, mereka menambah 42 unit superkomputer, sementara negara lain cenderung stagnan.

Superkomputer biasanya dicirikan dengan puluhan ribu prosesor yang dibutuhkan untuk penghitungan skala besar dan cepat untuk studi perubahan iklim dan prediksi cuaca, simulasi senjata nuklir, industri minyak, pengurutan DNA dan berbagai pemodelan biomolekuler, serta industri AI.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Peserta pertukaran mahasiswa dari Indonesia ke China, mengamati kemajuan teknologi digital di perusahaan game online (permainan daring) Netdragon, Fuzhou, Provinsi Fujian, Jumat (20/4). China saat ini berambisi mendominasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI).

Laporan McKinsey Global Institute tentang inovasi di China pada tahun 2015 mengidentifikasi empat kategori, yaitu yang berorentasi pasar seperti belanja online (daring) dan pembayaran dengan digital, berorientasi manufaktur seperti produksi elektronik, berorientasi permesinan seperti konstruksi kereta cepat, dan dipicu riset seperti pengembangan semikonduktor dan farmasi.

Disimpulkan, China sudah menjadi pemimpin global pada dua kategori pertama, dan siap menguasai dua sektor terakhir.

Riset dan teknologi
Sebagian kecil dari kemajuan China itu dipamerkan kepada para mahasiswa Indonesia yang tengah melakukan pertukaran pemuda ke Provinsi Fujian pada 14 – 20 April 2018. Kampus-kampus yang didatangi berlomba memoderniasi sistem pendidikan mereka dan menyiapkan diri mengundang mahasiswa internasional.

Selain diajak ke kampus-kampus, mereka juga di bawa ke sejumlah pusat industri teknologi di Fujian, misalnya ke San’an Optoelectronic dan Netdragon. San’an Optoelectronic awalnya merupakan penghasil lampu LED, sedangkan Netdragon merupakan industri game online. Kedua perusahaan itu kini fokus pada implementasi teknologi AI untuk pengembangan sensor berbasis semikonduktor dan digital.

Untuk melepaskan diri dari citra sebagai negara penyedia buruh murah dan pengimitasi, China telah berinvestasi besar-besaraan di bidang pendidikan. Untuk mendorong publikasi di jurnal ilmiah, mereka menawarkan bonus besar jika sukses menerbitkan kajian di jurnal internasional Barat.

Investigasi Wei Quan dari Wuhan University dan tim 2017 menyebutkan, penulis pertama untuk setiap artikel yang berhasil dipublikasikan di jurnal Nature dan Science pada tahun 2016 dibayar 43.783 dollar AS. Sedangkan jika dipublikasikan di jurnal PNAS pada tahun yang sama sebesar 3.513 dollar AS (MIT Technology Review, 2017).

Sedangkan laporan dari United States National Science Foundation (NSF) tahun 2017, China kini sudah menjadi negara dengan produksi publikasi ilmiah tertinggi di dunia, menggeser posisi Amerika Serikat. Menurut data ini, pada 2016 China telah memublikasikan lebih dari 426.000 paper ilmiah atau sekitar 18,6 persen dari total paper yang terindeks di Elsevier’s Scopus. Pada saat yang sama, Amerika Serikat memublikasikan 409.000 paper ilmiah.

Padahal, laporan nature.com, pada 2014 China masih menempati peringkat ketiga dalam hal publikasi ilmiah, di belakang Uni Eropa dan Amerika Serikat. Data NSF, pertumbuhan jumlah publikasi ilmiah di China meningkat rata-rata 15 persen dan merupakan yang terpesat di dunia.

Tak hanya produksi paper ilmiah, pada tahun 2017 China telah mendaftarkan paten melebihi negara lain di dunia. Pada tahun itu, lebih dari 42 persen aplikasi paten global didaftarkan China. Dengan kemajuan ini, hanya soal waktu China akan menjadi penguasa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Impian China
Perubahan cepat yang terjadi di China tak hanya mengejutkan negara lain, bahkan juga bagi penduduk negeri itu sendiri. Jack Jiang, pengajar di Department International Exchange & Cooperation Sanming University, Provinsi Fujian, mengaku tak pernah mengira perubahan drastis bisa terjadi hanya dalam kurun 40 tahun terakhir.

“Saya lahir 1973 dari keluarga petani. Waktu kecil saya masih merasakan susahnya hidup di desa. Jalanan masih buruk, sangat jarang melihat mobil. Sehari-hari kami kelaparan,” kata Jack Jiang.

Perubahan yang paling awal dirasakannya adalah pembangunan infrastruktur hingga ke desa-desa. “Tetapi, saya kira kunci kemajuan kami dimulai setelah kami fokus di ekonomi dan menjadi negara yang semakin terbuka, setelah tahun-tahun yang sulit akibat pergolakan politik di masa lalu,” kata dia.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Sejak 30 tahun terakhir, China memodernisasi infrastrukturnya, termasuk membangun kereta cepat yang kini menghubungkan hampir ke seluruh kota besar nya, seperti terlihat di Stasiun Sanming, Fujian, Rabu (18/4/2018). Setelah menguasai teknologi kereta cepat, China kini mulai membangunnya di banyak negara lain, termasuk yang direncanakan untuk dibangun di Indonesia untuk rute Jakarta-Bandung.

Jack mengaku kini menikmati perubahan di China yang lebih terbuka. Sekalipun demikian, menurut dia, kemajuan di China tidak bisa disamakan dengan Amerika misalnya.

“Di China ada batasan-batasan, misalnya keterbatasan untuk mengakses internet seperti google atau facebook. Kami bukan negara yang berbasis pada kebebasan individu. Kalau di sana ‘American dream’, di negara kami ‘China dream’, bukan ‘Chinese dream’,” kata dia.

Kemajuan di China memang bukan tanpa pengorbanan. Selain sensor dan pembatasan, China dikenal mengorbankan kualitas lingkungan dan kesehatan warganya demi mengejar pertumbuhan.

Studi dari Bank Dunia, WHO, dan Akademi China untuk Perencanaan Lingkungan mengenai efek polusi dan kesehatan menyimpulkan bahwa polusi udara di negeri ini menyebabkan sekitar 350.000 hingga 500.000 orang meninggal dini setiap tahun. Laporan ini dipaparkan mantan Menteri Kesehatan China Chen Zhu dalam jurnal kesehatan The Lancet pada Desember 2013.

KOMPAS/AHMAD ARIF–Asap industri dan PLTU batu bara terlihat mengepul dari pinggiran Kota Sanming, Provinsi Fujian, China pada Rabu (18/4/2018). Kemajuan industri dan ekonomi China banyak ditopang oleh penggunaan energi batubara, namun seiring dengan dampak buruk pencemaran mereka mulai menggantinya dengan energi bersih, seperti solar panel. Namun, China kini menjadi investor utama PLTU batubara di Indonesia.

Namun, kebijakan itu mulai diubah. Beijing yang dahulu dikenal sebagai salah satu kota paling kotor udaranya, memutuskan menutup pembangkit listrik batubara terakhirnya, 18 Maret 2017.

Dengan demikian, Beijing sebagai ibu kota China yang berpenduduk 30 juta jiwa menjadi kota pertama China yang seluruh kebutuhan energinya, 11,3 juta kilowatt, ditopang oleh pembangkit energi ramah lingkungan, seperti gas alam, panel surya, dan angin.

Inilah bagian dari kebijakan energi bersih dari Pemerintah China, sebagaimana dikampanyekan Perdana Menteri China Li Keqiang untuk membuat ”langit kita menjadi biru lagi” (China Daily, 2017). Penutupan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batubara selain industri semen yang dianggap paling mencemari lingkungan, secara bertahap sejak 2013.

Masalahnya, sebagian industri kotornya itu kemudian dikirim ke negara lain, termasuk Indonesia. China saat ini menjadi investor utama PLTU batubara dan pabrik semen di Indonesia. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari China, namun tentu tidak semuanya bisa ditiru….–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 13 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: