Home / Berita / Listrik Hasil Olahan Limbah

Listrik Hasil Olahan Limbah

PT Lontar Papyrus Pulp and Paper menawarkan pasokan listrik yang diproduksi dari limbah industri bubur kertas di Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Pasokan itu diharapkan dapat memperbaiki rasio kelistrikan di kabupaten tersebut yang baru mencapai 42 persen.
Kuasa Direktur PT Lontar Papyrus Pulp and Paper (LPPP) Wiman Soetijoso mengatakan, pihaknya memproduksi 105 megawatt (MW) listrik dari hasil pengolahan limbah kayu di pabrik bubur kertas itu. Sejak tahun lalu, listrik yang diproduksi menjadi berlebih setelah dilakukan penambahan tiga turbin baru (recovery boiler) yang bekerja mengubah limbah kayu menjadi energi listrik.

Sebagian besar produksi listrik telah dimanfaatkan untuk memenuhi energi kelistrikan bagi pabrik tisu dan usaha lain. ”Namun, masih ada energi berlebih sekitar 10 MW. Ini akan kami tawarkan untuk menyuplai listrik bagi masyarakat sekitar,” katanya, pekan lalu. Pihaknya telah menyampaikan usulan penyaluran listrik kepada Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat, tetapi hingga Sabtu (24/1) belum ada kesepakatan.

Menurut Kepala Bidang Humas Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat Teguh, usulan itu masih dikaji. ”Energi listrik yang masih tersisa dari produksi itu memang cukup besar dan bermanfaat mendorong rasio kelistrikan daerah,” ujarnya.

Saat ini baru 42 persen masyarakat di kabupaten itu mendapat pasokan listrik dari PLN. Berdasarkan data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Tanjung Jabung Barat, kebutuhan listrik di kabupaten ini mencapai 60 MW, tetapi yang dapat dipenuhi baru 20 MW. Pemenuhan itu berasal dari 17 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Jabung Power dan 4 MW dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin dan Gas (PLTMG) Sungai Keruh.

Tenaga surya
Kepala Dinas ESDM Tanjung Jabung Barat Yon Heri mengatakan, pihaknya terus mengupayakan ketersediaan pasokan listrik, termasuk bagi sebagian masyarakat yang tinggal di perairan. Kebutuhan listrik di wilayah itu dipenuhi melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). ”Saat ini ada 3 PLTS dan akan dibangun 4 PLTS lagi tahun ini,” ujar Yon Heri.

[media-credit id=1 align=”alignleft” width=”122″]9c2f5c5cec2145ddab88099ec9865a07[/media-credit]

Dia melanjutkan, penyediaan energi listrik dari PLTS tak sebesar sumber energi lain. Satu PLTS hanya dapat memasok listrik bagi sekitar 150 rumah. Namun, upaya itu merupakan yang terbaik pada saat pembangunan infrastruktur masih sulit menjangkau wilayah perairan. ”Jaringan kelistrikan sulit dibangun di sana karena biayanya sangat besar,” ujarnya lagi. (ITA)

Sumber: Kompas, 25 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: