Lembaga Eijkman: Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia Rampung pada 2021

- Editor

Selasa, 9 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penemuan vaksin Covid-19 terus dikerjakan. Vaksin buatan Indonesia diprediksi rampung pada 2021. Diperkirakan pada Februari 2021 vaksin masuk ke skala industri.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memprediksi vaksin Covid-19 siap diproduksi massal di Indonesia pada 2021. Sementara itu, penelitian vaksin serupa diperkirakan rampung pada Oktober 2020.

Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, sekaligus anggota tim peneliti vaksin Covid-19 Eijkman, Herawati Sudoyo mengatakan, pembuatan vaksin bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero). Setelah penelitian selesai, vaksin akan diserahkan kepada Bio Farma pada November 2020-Januari 2021.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Kami harap pada Februari 2021 vaksin masuk ke skala industri (diproduksi massal). Mengenai daya beli publik terhadap vaksin, kita harus mencari cara agar harganya bisa ditekan. Setidaknya hingga 1 dollar (Amerika Serikat),” kata Herawati pada webinar berjudul ”Adaptasi Normal Baru dari Perspektif Sains, Kesehatan, dan Psikologi”, Senin (8/6/2020).

Sementara itu, sejumlah negara kini berlomba menemukan vaksin. Presiden AS Donald Trump menjanjikan vaksin Covid-19 tersedia di negaranya pada akhir 2020. Pemerintah AS disebut telah menunjuk lima perusahaan untuk memproduksi vaksin itu.

Adapun China juga sedang mengembangkan vaksin Covid-19. Pemerintah China menjanjikan vaksin akan dibagikan ke negara-negara lain dengan harga terjangkau.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 2 Juni 2020, ada 10 calon vaksin pada tahap evaluasi klinis. Dari angka itu, tiga di antaranya ada di tahap evaluasi klinis fase kedua.

Adapun WHO mencatat sebanyak 123 calon vaksin terdaftar dalam fase penelitian. Calon-calon vaksin tersebut berasal dari berbagai platform.

”Herd immunity”
Penemuan vaksin diharapkan membentuk kekebalan komunitas atau herd community. Untuk mencapai kekebalan itu, sebanyak 80-90 persen individu di suatu populasi harus menerima vaksin (Kompas, 5/5/2020). Populasi yang mencapai kekebalan akan menekan lanju infeksi suatu penyakit.

”Semakin tinggi angka reproduksi penyakitnya (Ro), jumlah yang terpapar (oleh vaksin) pun harus tinggi hingga 95 persen,” kata Ketua Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Pratiwi Pudjilestari Sudarmono.

Ro menunjukkan tingkat penularan virus dari satu orang yang terinfeksi. Ro di DKI Jakarta pada 27 Mei 2020 dinyatakan berada di bawah 1. Artinya, Jakarta memenuhi syarat untuk masuk ke tahap normal baru.

Kendati demikian, pertumbuhan kasus Covid-19 di Jakarta belum melandai. Pratiwi mengatakan, kekebalan imunitas baru bisa tercapai jika ada penurunan jumlah kasus.

”Pemerintah harus berusaha mengontrol transmisi virus. Normal baru hanya bisa tercapai jika pertumbuhan kasus rendah. Jika kita sudah siap masuk ke normal baru, pembatasan bisa diangkat perlahan. Di sisi lain, protokol kesehatan harus dilakukan dan dikontrol ketat oleh otoritas kesehatan, bukan TNI/Polri,” kata Pratiwi yang juga Tenaga Ahli Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Pembatasan sosial
Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman mengatakan, Presiden Joko Widodo belum menerapkan pengurangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurut Fadjroel, yang dilakukan pemerintah sekarang adalah persiapan menuju kehidupan normal baru.

”Masih persiapan menuju normal baru. Ada 102 kabupaten/kota zona hijau yang akan diuji coba. Daerah dengan zona merah dan kuning belum akan diuji coba,” kata Fadjroel.

PSBB diterapkan oleh Presiden pertama kali pada akhir Maret 2020. DKI Jakarta adalah provinsi pertama yang menerapkannya sejak 10 April 2020.

PSBB di Jakarta diperpanjang hingga 30 Juni 2020. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada awal Juni mengatakan, masa ini sekaligus menjadi kesempatan masyarakat untuk bertransisi menuju era normal baru.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 8 Juni 2020

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB