Home / Berita / Kuliah di Selandia Baru; Menikmati ”Lord of The Rings” di Negeri Aslinya

Kuliah di Selandia Baru; Menikmati ”Lord of The Rings” di Negeri Aslinya

SEBAGAI negara tujuan menuntut ilmu, Selandia Baru belum sepopuler tetangganya, Australia, di mata mahasiswa Indonesia. Padahal, dari sisi kenyamanan, negeri yang letaknya tak terlampau jauh dari Indonesia ini tak kalah mengasyikkan. Pengelolaan dan mutunya pun baik.

Menurut laporan Peringkat QS World University tahun 2012-2013, Selandia Baru memiliki beberapa universitas kelas dunia yang menawarkan berbagai disiplin ilmu khusus dan memiliki salah satu dari sistem pendidikan kecil terkemuka di dunia. Selain itu, Selandia Baru juga memiliki persentase yang lebih tinggi untuk universitas yang tercantum di Times Higher Education Top 500 dibanding dengan negara lain yang berbahasa Inggris.

Anda pernah menonton film The Hobbit dan Lord of the Rings? Lanskap alam yang megah dan indah serta teknologi animasi dalam film itu adalah salah satu latar film yang mampu membuat siapa pun terkesan. Lokasi film fantasi yang diadaptasi dari novel itu dibuat di Selandia Baru. Teknologi efek spesialnya juga dibuat oleh beberapa tenaga desainer dari Sekolah Desain Yoobee di Selandia Baru.

Tak hanya sekolah desain animasi, tetapi universitas di Selandia Baru juga memiliki keunggulan di bidang program studi tertentu, seperti kedokteran, teknik, hukum, pertanian, penelitian lingkungan, dan pendidikan. Bahkan, ada pula sekolah kuliner. Ada delapan universitas negeri berbasis riset yang menawarkan studi sarjana dan pascasarjana dengan kualitas tingkat dunia.
Kampus internasional

Universitas Victoria di Wellington memiliki sekolah hukum yang terkenal dan mendapat peringkat ke-25 di dunia menurut QS World Rankings Subjects 2012. Kampus ini memiliki program orientasi khusus untuk semua pelajar internasional baru, beserta International Buddy Programme untuk membantu pelajar internasional baru berteman dengan pelajar lainnya.

Perpustaan Ramah Lingkungan”Meskipun mahasiswa Indonesia di Selandia Baru (New Zealand atau NZ) tak sebanyak di Australia, bukan berarti di sini sulit cari teman. Dengan program sahabat internasional, kami mudah berteman. Apalagi, rata-rata mahasiswa di NZ itu lebih ramah, termasuk kepada orang Asia. Mungkin karena jumlah penduduk mereka yang sedikit kali ya,” tutur Frenky Simanjuntak (36), mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Universitas Victoria untuk program pascasarjana jurusan kebijakan publik ini, beberapa saat lalu.

Wakil Rektor Universitas Victoria Roberto Rabel mengungkapkan, kemajuan pendidikan di Wellington tak lepas dari tata kota ibu kota Selandia Baru itu sejak dikembangkan pada akhir abad ke-19. Selain sebagai ibu kota negara, kota ini juga merupakan ibu kota kewirausahaan yang dinamis dan menawarkan kesempatan bermanfaat bagi mahasiswa karena dekat dengan industri, pemerintah, dan organisasi penelitian.

”Pusat kotanya lengkap, mudah, dan aman untuk berjalan kaki, sementara itu pinggiran kota bisa dicapai dengan layanan bus umum dan kereta api, lengkap dengan berbagai fasilitas dan kegiatan kreatif,” ujarnya.

Salah satu kota destinasi belajar yang juga bisa dituju adalah Auckland, yang merupakan kota ketiga terbaik di dunia untuk kualitas hidupnya sekaligus kota terbesar di Selandia Baru. Di sini terdapat Universitas Auckland yang merupakan perguruan tinggi tertua (dirintis tahun 1883) dan salah satu yang terbaik negeri ini. Tahun 2012 kampus ini berada pada peringkat ke-83 di QS World University Rankings dari 700 universitas.

Dari sekitar 600 mahasiswa asal Indonesia yang berkuliah di Selandia Baru, hampir 40 persennya berada di kota terbesar di Selandia Baru bagian utara ini. Universitas Auckland merupakan kampus yang paling banyak dihuni mahasiswa Indonesia.

Ketua perkumpulan mahasiswa Indonesia di Auckland, Mardian (32), mengungkapkan, selain terdapat perguruan tinggi tertua, temperatur Auckland juga relatif ramah bagi orang Indonesia. ”Kalau musim panas tak terlalu panas, mungkin sekitar 25 derajat gitu, tapi kalau pas musim dingin juga tak terlalu dingin seperti di selatan, paling rendah 14 derajat celsius,” ujar mahasiswa asal Kalimantan Timur yang kuliah ke Selandia Baru dengan beasiswa New Zealand Aid ini.
Ibu kota petualangan dunia

Bayangkan jika kota tak berarti gedung berjejalan, kemacetan lalu lintas, dan kampus yang hiruk-pikuk di tengah bising kota. Melainkan bangunan kampus yang berdiri di tengah kota yang dipagari barisan pegunungan, hutan rimbun, sungai jernih berkelok, dan langit bersih tanpa polusi. Inilah gambaran kota-kota di Selandia Baru yang membuat lingkungan suasana belajar semakin nyaman.

Selain mutu, asyiknya lingkungan belajar seperti ini tentu ditunjang juga oleh beberapa hal, seperti tingkat keamanan, kesejahteraan, kebebasan individu, lingkungan hidup yang terjaga, dan tata kelola pemerintahan yang baik. Bahkan, kota Dunedin dinobatkan oleh ASB Bank sebagai kota terbaik untuk ditempati karena perasaan keterikatan yang kuat dengan komunitas, kaya akan keragaman hasil karya seni dan budaya, hingga rendahnya tingkat vandalisme dan volume sampah. Dunedin juga disebut sebagai pusat belajar utama karena menjadi rumah dari 25.000 pelajar yang merupakan seperlima penduduknya. Dari jumlah itu, lebih dari 2.800 pelajar di antaranya adalah pelajar internasional. Di kota ini terdapat Universitas Otago yang terkenal dan menyediakan kuliah jurusan bisnis, humaniora, sains, kesehatan, dan administrasi.

Nyamannya Selandia Baru untuk ditempati sebenarnya ditentukan oleh perasaan bahagia para penduduknya terhadap lingkungan tempat tinggal mereka. Di antara faktornya adalah kelestarian alam yang masih sangat terjaga. Contoh lainnya yang tak kalah seru adalah kota Queenstown yang terletak di Central Otago karena dianggap sebagai ibu kota petualangan dunia. Di kota ini tersedia kegiatan, seperti bungee jumping, hiking, dan trekking dengan medan yang indah dan menantang.

Petualangan juga tak berarti harus berkelana di padang rumput dan hutan seperti para hobbit. Sebagai negara maju dan modern, kota-kota besar di negeri ini menyediakan sarana hiburan yang beragam untuk kehidupan malam, kafe?, teater, dan pusat belanja. Kampus-kampus yang ada juga dekat dengan akomodasi yang terjangkau dan lingkungan yang berkualitas. Jadi, tidak perlu khawatir akan terisolasi dari dinamika perkotaan.
Kuliah sambil bekerja

Kuliah di Selandia Baru juga bisa dilakukan sembari bekerja paruh waktu dengan gaji 13 dollar Selandia Baru per jam. Jam kerjanya maksimal 24 jam tiap minggu. Kerja paruh waktu yang banyak diambil oleh mahasiswa internasional di Selandia Baru umumnya mulai dari karyawan toko, rumah makan, perpustakaan, pemotongan daging, peternakan, pabrik anggur, industri jasa, hingga tukang pos.

Agung menuturkan, mahasiswa yang bekerja paruh waktu dalam seminggu bisa mendapatkan 300 dollar. Gaji itu cukup untuk membayar ongkos flat (rumah kos) yang besarnya berkisar 175 hingga 250 dollar. Tak heran, hampir rata-rata mahasiswa asal Indonesia memilih bekerja paruh waktu di sela waktu belajarnya. ”Kalau ada beasiswa, tentu lumayan kalau juga kerja. Karena ada uang untuk ditabung. Beasiswa rata-rata 1.400 dollar per bulan. Pengeluaran untuk flat paling 400 sampai 600 dollar per bulan. Untuk biaya hidup kalau sendiri biasanya rata-rata cuma 600-700 dollar sebulan, tergantung orangnya juga sih. Sisanya bisa ditabung,” ujar Agung yang memilih kerja paruh waktu di rumah desain di Wellington.

Heidi Stedman dari Education New Zealand menuturkan, bekerja paruh waktu memang dianjurkan bagi mahasiswa di Selandia Baru. Asalkan mahasiswa tersebut disiplin dan dapat membagi waktu dengan baik. Kehadiran mahasiswa-mahasiswa internasional tersebut dalam dunia kerja membantu kebutuhan ketersediaan tenaga kerja di Selandia Baru yang hanya berpenduduk 4,5 juta jiwa dengan luas wilayah 267.707 kilometer persegi atau hampir tiga kali Pulau Jawa. Bandingkan dengan Pulau Jawa dengan luas wilayah hanya sepertiganya, tapi berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa.

”Pelajar dengan student visa dapat bekerja sampai 20 jam per minggu, dan bahkan diberi kesempatan untuk bekerja setelah lulus jika berminat mengajukan permohonan work visa,” katanya.

Selandia Baru adalah contoh dari negara yang berhasil memajukan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakatnya dengan mempromosikan keharmonisan ekologi. Alih-alih mengeksploitasinya, Selandia Baru menjadikan lanskap alam mereka sebagai aset pariwisata terbaik, yang berdampak positif bagi tingkat kepuasan dan kesejahteraan penduduknya. Salah satu daya tarik utamanya tentu adalah jajaran perguruan tingginya yang terbuka ramah bagi mahasiswa internasional. (Mohamad Burhanudin)

Sumber: Kompas, 29 November 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

NASA Luncurkan Wahana Pencari Tanda Kehidupan di Mars

Mars kini menjadi tujuan eksplorasi sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir. Setelah UEA dan China, ...

%d blogger menyukai ini: