KRL Commuter Line Segera Terapkan E-Money

- Editor

Selasa, 29 Oktober 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terus berbenah menjadi lebih modern, itulah yang sedang diupayakan oleh pihak Kereta Api Indonesia, khususnya untuk KRL Commuter Line yang melintasi kawasan Jabodetabek. Penerapan sistem tiket elektronik (e-ticketing) dan tarif progresif sudah dilakukan. Hasilnya, penambahan jumlah penumpang secara signifikan. Ke depan, ada rencana untuk menerapkan penggunaan e-money bekerja sama dengan sejumlah pihak perbankan. Diharapkan, hal ini bakal membuat penumpang kereta api semakin nyaman.

“Jadi, gini kalau e-ticketing ini kami sedang dalami untuk penggunaan e-money. Jadi, (kerja sama) dengan beberapa bank, seperti BRI, Mandiri, BNI, Bank DKI, Bank Mega, BCA, terus menyusul Bank Bukopin,” terang Makmur Syaheran, Direktur Komersial PT Jakarta Commuter Jabodetabek, usai penandatanganan kerja sama antara KAI dengan CIMB Niaga mengenai fasilitas pembayaran tiket melalui e-commerce payment dan merchant, di Jakarta, Senin (28/10/2013).

Menurut dia, pihak Jakarta Commuter Jabodetabek sedang menjajaki sisi teknisnya mengingat perbankan pasti mempunyai sistem keamanannya masing-masing. “Semuanya pasti punya security. Ini kami gabungkan dalam satu transaksi. Kan pada saat nasabahnya itu menggunakan kartunya untuk melakukan perjalanan dengan KRL, saat tap-in atau tap-out itu terkoneksi dengan kartu mereka,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jenis kartunya sendiri itu dilimpahkan ke pihak perbankan. Bisa saja dengan kartu debit maupun kartu kredit, atau dengan kartu prabayar yang sudah banyak beredar. “Sebenarnya yang lebih pas, yang sudah dikeluarkan seperti BRI Brizz, (BCA) Flazz, atau semacam itu. Yang jelas kami ini, dari sisi kartunya sendiri basisnya sudah teknologi yang terakhir,” ungkap Makmur.

0Pihaknya pun mengaku persiapan dilakukan sudah lama. Setelah itu, harus dilakukan juga penyesuaian ke penumpang. “Kalau lihat penumpang sebanyak 600 ribu orang per hari ini kan pemahaman orang terhadap TI tidak semua bisa menyesuaikan dengan cepat.”

Sekalipun demikian, Jakarta Commuter Jabodetabek berkeyakinan tahun ini merupakan tahun yang tepat untuk menerapkan layanan pembayaran tiket dengan e-money. Ia mengatakan, “Sekarang ini waktunya untuk merilis satu produk lagi yang nantinya akan memudahkan penumpang juga.”

Gebrakan apa lagi yang akan dilakukan Jakarta Commuter Jabodetabek? Makmur berujar, kartu multi-trip nantinya akan dijual di tempat-tempat di luar stasiun, seperti di minimarket. Lalu, berapa banyak kartu yang bakal di jual perusahaan di luar stasiun? Ia mengutarakan, perusahaan bakal menyiapkan kartu dalam jumlah banyak. Sekarang ini saja masih ada stok kartu sekitar 200 ribu kartu yang siap dilepas.

Penambahan atau pengisian dana dalam kartu atau top-up nantinya juga bisa dilakukan di sebuah mesin ataupun di mana saja, seperti di minimarket. “Tinggal datang ke stasiun, kami sediakan semacam mesin khusus, mereka tinggal menempelkan, status keluar, teraktivasi,” jelas Makmur.

Mengenai jumlah kartu multi-trip sekarang ini, ia menyebutkan, “Sesuai dengan jumlah penumpang dari sekitar 600 ribu itu sudah lebih dari 50 persen menggunakan kartu multi-trip.” Sedangkan untuk kartu single trip atau tiket harian berjaminan, itu sudah 80 persen tidak refund setiap hari. Maksudnya, terang dia, penumpang sudah memakai kartu itu untuk transaksi setiap hari. “Kalau yang 20 persen itu setiap hari ke loket untuk refund. Sehingga sebenarnya kalau dijumlah dengan kartu multi-trip, penggunaaan kartu itu sudah hampir 80 persen dari total transaksi.”

Apakah kartu multi ataupun single trip dengan prabayar akan bentrok? Ditekankan Makmur, kartu-kartu tersebut sifatnya akan saling melengkapi dengan satu tujuan untuk melayani para pengguna kereta api. “Jadi, jangan khawatir kalau namanya roti berapa porsi atau bagiannya, ini terserah masing-masing operator. Itu kompetisi yang biasa saja,” pungkas dia. (EVA)

Sumber: SWA, October 29, 2013 by Ester Meryana

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB