Kotak Pandora

- Editor

Kamis, 18 Juli 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Burung camar bermain di dinding es yang terbentuk di tepi Sungai Kemijoki, Rovaniemi, Finlandia, Senin (1/5). Meski sudah masuk musim semi, hujan salju masih turun di kawasan lingkar Akrtika atau lingkar kutub utara.

Kompas/M Zaid Wahyudi (MZW)
01-05-2017

Burung camar bermain di dinding es yang terbentuk di tepi Sungai Kemijoki, Rovaniemi, Finlandia, Senin (1/5). Meski sudah masuk musim semi, hujan salju masih turun di kawasan lingkar Akrtika atau lingkar kutub utara. Kompas/M Zaid Wahyudi (MZW) 01-05-2017

CATATAN IPTEK
Pemanasan global dan perubahan iklim kini membuat para ahli mikrobiologi waswas. Akibat pemanasan global, lapisan permafrost di Kutub Utara mulai mencair—yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka khawatir itu akan membuka pintu untuk kembalinya penyakit-penyakit lama, bahkan penyakit purba yang belum pernah kita kenal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/M ZAID WAHYUDI–Burung camar bermain di dinding es yang terbentuk di tepi Sungai Kemijoki, Rovaniemi, Finlandia, Senin (1/5/2017). Meski sudah masuk musim semi, salju masih turun di kawasan lingkar Arktika atau lingkar Kutub Utara.

Lapisan permafrost itu dingin, gelap, tak ada oksigen, dan netral seperti air tawar—tak asam dan tidak basa. Ahli biologi mikro, Michel Claverie, dari Aix-Marseille University di Perancis, mengatakan, lapisan ini cocok untuk ”tidur panjang” (dormant) mikroba, benih-benih, virus, dan spora.

Beberapa riset membuktikan sejumlah makhluk yang membeku ribuan tahun hidup kembali saat es tempat hidup mereka mencair. Pada 2005, Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) membangkitkan bakteri Carnobacterium pleistocenium berusia 32.000 tahun dan hidup pada era Pleistosen.

Dua tahun kemudian, riset lain membangkitkan bakteri berusia 8 juta tahun. Bakteri itu ditemukan di Lembah Beacon dan Mullins di Antartika. Riset lainnya menggiatkan bakteri ”beku” di lapisan es berusia 100.000 tahun. Begitu kembali hidup, bakteri-bakteri itu memiliki sifat infektifnya.

Pada Juli-Agustus 2016, sekitar 2.000 rusa kutub mati. Mereka mati karena terinfeksi bakteri antraks (Bacillus anthracis), seperti yang dikenal sekarang. Selain rusa, 20 orang dirawat karena terinfeksi dan satu orang meninggal. Dari permafrost yang mencair ditemukan jejak kehidupan bakteri penyebab campak dan pes yang menghilang puluhan tahun.

Penelitian lain menemukan, permafrost di Arktika, Kanada, mencair 70 tahun lebih cepat dari prediksi. Vladimir Romanovsky, ahli geofisika dari tim peneliti University of Alaska Fairbanks, mengatakan, ”Iklim saat ini lebih hangat dari iklim sepanjang 5.000 tahun atau lebih.” Dampak sepenuhnya belum diketahui.

Namun, permafrost yang mencair, selain menghidupkan bakteri dan virus, juga akan melepas gas rumah kaca, seperti metana dan gas karbon. Dan, kini ditemukan, radiasi nuklir juga akan terlepas ke atmosfer.

Bencana akibat mencairnya permafrost hanya satu dari deretan panjang bencana yang berawal dari pemanasan global. Manusia bak gadis Pandora yang diberi kotak berisi barang indah oleh Dewa Zeus. Sayang kotak tak boleh dibuka.

Pandora digambarkan cantik, pintar, dan penuh rasa ingin tahu.

Rasa ingin tahu dan keinginan memiliki barang indah dalam kotak itu mendorong Pandora membuka kotak. Maka, semua hal buruk terlepas: penyakit, kematian, dan beragam penderitaan. Hanya harapan (hope) tersimpan di dalam kotak.

Kita, manusia, adalah pandora-pandora. Diawali rasa ingin tahu, dengan mengembangkan sains-teknologi, manusia menemukan harta karun luar biasa di Planet Bumi, kotak hadiah dewa, yaitu batubara—bahan bakar fosil. Hidup jadi lebih mudah. Benda-benda indah diciptakan.

Hal itu mengakibatkan semua hal buruk terlepas: pemanasan global, perubahan iklim, diikuti bencana: kelaparan, kehilangan tempat tinggal, panen gagal, dan seterusnya. Dan, ”harapan” tinggal di kotaknya. Semua konferensi dan kesepakatan global demi mengatasi perubahan iklim ialah harapan. Sekali lagi, harapan itu masih dalam ”kotak”.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 Juli 2019

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB