Kesiapan Menghadapi Tsunami Dievaluasi

- Editor

Jumat, 15 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim gabungan dari sejumlah lembaga memulai kajian dan evaluasi sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Kajian difokuskan di Sumatera Barat menyusul gempa berkekuatan M 7,8 yang melanda Samudra Hindia, Rabu (2/3), yang memicu kepanikan.

Beberapa penggiat kebencanaan yang terlibat berasal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT); Institut Teknologi Bandung (ITB); Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB); Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG); UNESCO; serta sejumlah LSM. Fokus kajian pada kinerja sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS), kesiapan pemda, serta respons masyarakat dan media.

Kamis (14/4), anggota tim menyurvei Pulau Sipora dan sebagian di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Sebagian lagi survei di Padang. “Tim akan berada di Kepulauan Mentawai selama sepekan untuk menggali informasi dari masyarakat dan kelembagaan terkait operasi sistem InaTEWS,” kata Rahma Hanifa, peneliti gempa dari ITB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut dia, kajian awal dan laporan sejumlah media massa, respons masyarakat, serta kelembagaan di Sumatera Barat terkait gempa bulan lalu belum sesuai harapan. Sebagian sirene tsunami dinyalakan, sebagian tidak. “Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab menyalakan sirene itu,” ucap Rahma.

Dilaporkan Kompas (3/3), hingga pukul 22.00, banyak warga menuju pengungsian menggunakan mobil dan motor. Seluruh ruas jalan menuju daerah lebih tinggi di Kota Padang macet. Padahal, sesuai prosedur saat pelatihan, evakuasi harus jalan kaki.

“Hasil kajian ini diharapkan memperbaiki sistem mitigasi dan jadi dasar bagi perbaikan cetak biru tsunami di Indonesia,” kata Irina Rafliana, peneliti kebencanaan LIPI.

Berbeda dengan di Padang, sebagian masyarakat Mentawai di pesisir telah mengungsi sesaat seusai gempa. Masyarakat di Dusun Peipei, Desa Taileleu, Kecamatan Mentawai Barat Daya mengungsi sekalipun tidak ada perintah.

“Sirene tsunami baru dibunyikan 15 menit setelah gempa. Saat itu sebagian besar warga sudah mengungsi. Banyak yang bertahan sampai pagi di pengungsian. Mereka menonton televisi yang menayangkan gempa berpotensi tsunami,” kata Kepala Dusun Peipei, Bonipasius Sakarouna.

Kepala Desa Taileleu, Safrizal, menambahkan, desanya memiliki tim pengurangan risiko bencana. Begitu gempa, mereka memantau situasi dan mulai menyuruh warga mengungsi setelah dapat informasi dari BPBD Mentawai melalui radio. (AIK)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 April 2016, di halaman 13 dengan judul “Kesiapan Menghadapi Tsunami Dievaluasi”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB