Home / Berita / Keselarasan dan Keterasingan

Keselarasan dan Keterasingan

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan selama ini dipandang sebagai masalah praksis belaka. Padahal, dari sorotan agama-agama, kerusakan lingkungan merupakan persoalan moral dan etika.

Dari pendekatan ilmu, perubahan iklim terbukti merupakan akibat dari aktivitas manusia modern yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Pembahasan ilmiah terus berlangsung seiring dengan peningkatan emisi gas rumah kaca dan kondisi yang terus memburuk secara cepat.

Catatan terakhir menunjukkan, konsentrasi gas rumah kaca menembus angka 410 bagian per sejuta, tertinggi selama sekitar 800.000 tahun terakhir! Sementara pergeseran perilaku manusia dan kebijakan pembangunan hanya beringsut.

Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan selalu dipandang sebagai masalah praksis belaka. Penanggulangan didekati semata pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek.

Padahal, dari sorotan agama-agama, kerusakan lingkungan merupakan soal moral dan etika. Manusia tak lagi hirau pada kesejahteraan sesama dan lingkungan alamnya. Menurut prinsip Hindu, Tat Twam Asi, pada dasarnya semua makhluk adalah sama dan tak saling menyakiti. Aku adalah kamu, kamu adalah aku.

Pergeseran Waktu Tanam – Jumadi (53) melubangi mulsa yang digunakan untuk menutup tanah yang akan ditanami seledri di Desa Kaponan, Pakis, Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/11/2015). Perubahan iklim yang berdampak antara lain pada pergeseran musim membuat petani tradisional harus semakin mencermati kondisi alam untuk menentukan awal masa tanam karena aturan Pranata Mangsa semakin sukar digunakan sebagai patokan. Pranata Mangsa merupakan penunjuk waktu tanam yang ilmunya diwariskan secara turun temurun oleh leluhur.–Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA)

Secara perlahan, perspektif agama—sebagai salah satu dasar moral dan etika—dalam perubahan iklim semakin sering diangkat. Dalam Musyawarah Nasional ke-3 dan Seminar Lingkungan Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku) bertema ”Atur Ulang Tata Ruang Bumi Nusantara”, Sabtu (28/4/2018), di Jakarta, prinsip-prinsip ajaran agama terkait relasi manusia-alam diungkap.

Perubahan iklim, dari pandangan empat agama, Islam, Hindu, Khonghucu, dan Katolik, merupakan indikasi terganggunya keselarasan relasi antara manusia dan alam. Dalam ajaran agama-agama itu disebutkan, kebahagiaan dan kedamaian akan tercipta jika terdapat keselarasan dalam relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.

Pada ajaran Hindu, hal itu tertuang dalam konsep Tri Hita Karana: keharmonisan dalam relasi manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).

Sementara prinsip Yin-Yang menggambarkan prinsip keseimbangan sesuai hukum Tuhan, yang tidak hitam-putih. ”Di hitam ada putihnya, di putih ada hitamnya,” kata Ketua Umum Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Uung Sendana.

Ketidakselarasan terjadi karena manusia tidak menjalankan kewajibannya menebarkan benih-benih kebajikan terhadap manusia, alam, dan terhadap Pencipta. ”Manusia adalah rekan kerja Allah dalam menata, menjaga, memelihara, dan mengembangkan seluruh alam semesta, menciptakan hubungan yang harmonis dengan seluruh ciptaan,” ungkap Maria Ratnaningsih
dari Bidang Lingkungan Hidup Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau Konferensi Waligereja Indonesia.

Prinsip-prinsip itu termuat dalam ensiklik Paus Fransiskus, Juni 2015, Laudato Si, On Care for Our Common Home (Pujian Bagimu, tentang Perawatan Rumah Kita Bersama).

–Masyarakat menyalakan lilin saat dilakukan pemadaman lampu dalam program Earth Hour di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu (26/3/2018) pukul 20.30-21.30. Earth Hour adalah kegiatan global World Wide Fund for Nature setiap tahun untuk mengajak pemilik rumah dan perkantoran memadamkan lampu dan peralatan listrik selama satu jam.

Menyakiti diri
Meski agama mengajarkan prinsip-prinsip keselarasan, kenyataannya manusia tak merasa sebagai bagian dari alam. Manusia justru cenderung memisahkan diri dari entitas lain di luar dirinya, terutama dengan alam. Ajaran Tat Twam Asi, ajaran etika dan moral dalam agama Hindu, tak mendapat pemaknaan.

Ajaran itu menekankan prinsip tidak menyakiti sesama makhluk. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Maka, setiap kali seseorang menyakiti orang lain atau alam ciptaan Tuhan, dia sebenarnya menyakiti Tuhan dan menyakiti diri sendiri. Sebab, keduanya adalah sama. Serupa. Manusia adalah mikrokosmos, sementara alam adalah makrokosmos. Beragam sistem yang ada di alam semesta terdapat di dalam diri manusia.

Ironisnya, manusia justru memosisikan diri sebagai penakluk alam. Padahal, konsep penaklukan melawan relasi yang harmonis. ”Kalau kita berhasil menaiki puncak Everest, sebetulnya itu bukan kita menaklukkan Everest, tetapi Everest yang mendukung kita menjadi yang terpilih bisa mencapai itu,” kata Uung.

Kalau kita berhasil menaiki puncak Everest, sebetulnya itu bukan kita menaklukkan Everest, tetapi Everest yang mendukung kita menjadi yang terpilih bisa mencapai itu.

Untuk memperbaiki kondisi lingkungan, institusi-institusi agama berupaya membawa ajarannya ke tataran praksis. Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Gatot Supangkat menegaskan pentingnya edukasi untuk mengubah pola pikir atau mindset karena apa yang ada
di pikiran manusia adalah akar dari perilaku merusak selama ini.

Institusi agama Khonghucu mulai membangun sekolah ramah lingkungan. Sementara Nahdlatul Ulama (NU) melakukan edukasi dengan memakai pendekatan terhadap kearifan lokal komunitas. Kearifan lokal bisa berupa, antara lain, ritual, cerita rakyat, ungkapan, permainan, arsitektur, kesenian, dan pakaian, berisi pengetahuan tentang alam setempat.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA–Keindahan bawah air menjadi daya tarik industri pariwisata yang terus menarik wisatawan seperti Pulau Cilik, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (28/4/2018). Meningkatnya kunjungan wisata bawah air tersebut juga menjadi ancaman kerusakan bagi kawasan terumbu karang. Faktor kerusakan ditimbulkan oleh perubahan iklim, perilaku pengunjung dan tertabrak kapal tongkang.

Muatan lingkungan
Direktur Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama Abdul Latif Bustami mengatakan, kini ajaran agama harus diturunkan ke tapak, tak lagi di ”atas bukit”. Khotbah-khotbah pun diberi muatan tematis lingkungan.

Sementara dalam Gereja Katolik, ajaran tentang alam dan manusia sebagai ciptaan Tuhan terdapat pada Kitab Kejadian hingga Laudato Si. Ajaran berusaha dibumikan melalui kebijakan ekopastoral: melibatkan semua orang yang berkehendak baik dengan bertindak benar untuk lingkungan.

Meski banyak hal dilakukan institusi agama, rupanya semua baru dipahami sebatas pengetahuan oleh sebagian besar orang. Internalisasi sampai ke kesadaran moral hingga aksi praksis adalah proses panjang yang membutuhkan keterbukaan, kemauan, dan tekad keras.

Upaya mengubah perilaku konsumtif-destruktif menjadi konsumtif-beretika sungguh tak mudah saat manusia masih dalam kondisi keterasingan. Terasing dari dirinya sendiri.–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 12 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: