Home / Berita / “Kesatria Baja” Menuju Langka

“Kesatria Baja” Menuju Langka

Layaknya kesatria berbaju zirah, seluruh permukaan tubuhnya, kecuali bagian bawah, ditutupi sisik-sisik superkeras. Faktanya, trenggiling sangat jinak. Tidak bergigi dan imut, bagi sebagian orang. Di balik itu, setiap tahun, ratusan hingga ribuan pengendali alami populasi semut dan rayap itu diselundupkan.

Di dunia terdapat delapan spesies trenggiling: empat di Asia (Manis javanica, M pentadactyla, M crassicaudata, dan M culionensis) serta empat di Afrika (M gigantea, M temmincki, M tricuspis, dan M tetradactyla). Trenggiling di alam Indonesia adalah M javanica, tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok. Juga ditemukan di Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), dokter hewan Chairun Nisa’, menjelaskan, sisik-sisik keras trenggiling yang membuatnya mirip reptil-padahal mamalia-memang untuk melindungi diri dari predator, yakni semua karnivora berbadan besar di hutan, seperti harimau. Trenggiling akan menggulung diri hingga serupa bola agar bagian tubuh lunaknya terlindung. Ekor panjang dan lebarnya akan menutup hingga bagian kepala.

Saking kuat gulungannya, harimau pun menyerah. “Namun, itu justru memudahkan pemburu karena tinggal bawa. Ya, manusia adalah predator utama trenggiling,” kata Nisa’ di Kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, Jumat (11/3).

Trenggiling tergolong jinak. Tak menggigit karena tak punya gigi. Keempat cakar berkuku tajam pun tidak untuk bertarung, tetapi mengorek sarang semut dan menggali. Bahkan, trenggiling “cuek” jika terbiasa dengan manusia. Papang, satu dari empat trenggiling peliharaan FKH IPB, misalnya, tak menggulung diri saat Nisa’ memegang ekor dan mengangkatnya. Meski tubuhnya disentuh-sentuh, tetap saja dia asyik mencari sarang semut.

Bobot dan panjang trenggiling tergantung umur. Di kandang FKH IPB, trenggiling yang ada berbobot 2-5,5 kilogram. Panjang tubuh juga menyesuaikan umur dan besar hewan. Papang memiliki panjang tubuh 40-50 cm dan panjang ekor kira-kira sama panjang tubuh.

jadi-bahan-pembuat-sabu-harga-trenggiling-meroket-1lSvb8Cx6fHewan ini tergolong nokturnal, yakni beraktivitas malam hari. Makanannya serangga, seperti semut, telur semut, dan rayap. Lidahnya seperti katak, bisa dijulurkan hingga 60 cm, bisa meliuk-liuk, dan basah oleh ludah yang pekat dan lengket.

Cakar membantu trenggiling memanjat pohon. Ekor lebar dan panjang juga akan membelit dahan sehingga tubuh seimbang saat memanjat. Trenggiling hidup di dalam sarang hasil menggali, kedalaman 1 meter.

Soal pasangan hidup, trenggiling pemilih. Meski jantan berdekatan dengan betina, perkawinan tak akan pernah terjadi jika keduanya belum cocok. Masa kehamilan trenggiling lima bulan. Rata-rata melahirkan satu anak per tahun, sangat jarang lahir dua anak sekaligus.

Setelah lahir, anak trenggiling diasuh induknya 3-5 bulan. “Anak trenggiling akan bertengger di pangkal ekor induknya hingga dua bulan, ikut ke mana pun induk pergi,” ujar Nisa.

Jika tidur, induk trenggiling melindungi anak dalam gulungan tubuhnya, mengingat sisik-sisik anak belum berkembang. Setelah mampu mandiri, induk dan anak akan berpisah. Sifat dasar trenggiling adalah soliter (penyendiri).

Eksploitasi
Trenggiling, kata Nisa, salah satu satwa dilindungi paling banyak dijual secara ilegal. Dagingnya dimakan, sisiknya bahan obat. Bayi trenggiling yang masih lunak juga banyak dipesan untuk menu santapan.

Tiongkok negara tujuan utama penjualan ilegal trenggiling. Budaya mengonsumsi trenggiling berkembang lama di Tiongkok. Namun, karena ketersediaan trenggiling tiongkok (M pentadactyla) langka, pedagang ilegal menyasar M javanica, khususnya dari Indonesia, untuk memastikan sajian daging tetap ada di Tiongkok.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, trenggiling tergolong satwa dilindungi. Menurut Daftar Merah IUCN (Lembaga Konservasi Dunia), M javanica berstatus kritis, satu tahap menuju punah di alam liar dan dua tahap sebelum punah dari muka bumi. Namun, status berdasarkan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tanaman dan Hewan Liar Terancam Punah (CITES) masih longgar. Trenggiling dimasukkan dalam Appendix II (bisa diperdagangkan dengan kuota ketat).

Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2008, sebanyak 49.662 trenggiling diselundupkan keluar Indonesia pada 2001-2007. Itu hanya fenomena gunung es. Kenyataannya, lebih banyak lagi. Pemberitaan Kompas, setelah kurun waktu itu, penyelundupan trenggiling tidak berhenti.

Pada 2010, setidaknya tiga kasus penggagalan penyelundupan trenggiling: 106 ekor menuju Malaysia, penyitaan 72 trenggiling di Jambi, dan penangkapan penadah kulit. Penggagalan penyelundupan tercatat empat kali pada 2011, yaitu 7,4 ton trenggiling tanpa sisik di Tanjung Priok, Jakarta; lebih dari 1,1 ton trenggiling (trenggiling hidup, sisik, daging, dan jeroan) di Lampung; 75 ekor di Lampung; dan 144 ekor di Sumatera Utara.

Pada 2012, sebanyak 228 trenggiling disita di Surabaya. Pada 2013, Liem Shi Mong divonis 8 bulan penjara dan denda Rp 10 juta, salah satunya karena memiliki 27,3 kg sisik trenggiling. Selain itu, penggagalan penyelundupan kembali dilakukan, yakni terhadap 29 trenggiling di Pontianak, Kalimantan Barat, dan 16 ekor di Banyuwangi, Jawa Timur.

Pada 2014, penyelundupan 300 kg daging dari 90 trenggiling beku digagalkan di Kalimantan Tengah dan dua karung sisik di Lampung. Selama 2015, lembaga Protection of Forest and Fauna mencatat, ada tiga kasus perdagangan dan perburuan liar trenggiling yang diungkap penegak hukum. Salah satunya upaya penyelundupan 455 trenggiling beku (1,3 ton) ke Singapura.

Eksploitasi besar-besaran itu menggerus populasi trenggiling Nusantara. Kajian ekologi dan populasi di Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah oleh Nisa’ dan timnya, populasi trenggiling di wilayah itu sangat rendah, berkisar 3-80 ekor. Bahkan, di beberapa lokasi termasuk langka (kurang dari 3 ekor). Punahnya trenggiling di alam bisa memuluskan langkah ledakan populasi semut dan rayap.–J GALUH BIMANTARA
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “”Kesatria Baja” Menuju Langka”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: