Home / Artikel / Kenali saat Anak-Anak Terserang Leukemia

Kenali saat Anak-Anak Terserang Leukemia

SI kecil tampak pucat dan lesu? Jika iya, Anda perlu waspada. Itu salah satu pertanda buah hati Anda mengalami anemia (kekurangan darah). Selanjutnya, jika ada gejala berupa bintik merah dan memar-memar di beberapa bagian tubuh, sebaiknya Anda segera menghubungi tim medis. Mengapa?

Beberapa gejala tersebut dialami Muhammad Balya Alfain (12), bocah asal Pati Jawa Tengah. Bintik-bintik merah di kaki serta memar di beberapa bagian tubuh dialami bungsu dari tiga bersaudara itu tanpa sebab terkena benturan. Hasil pemeriksaan tim medis dari RSUP Dr Kariadi Semarang menyebutkan, Balya menderita Leukemia ALL (Acute Lymphoblastic leukemia).

Leukemia atau kanker darah tak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak pun bisa terkena penyakit ini. Jenis yang menyerang anak-anak dibagi menjadi dua tipe, yaitu leukemia akut dan dan kronik. Leukemia akut dibagi menjadi dua jenis, yaitu ALL(Acute Lymphoblastic leukemia) dan AML(Acute Myelogenous Leukemia). Sedangkan jenis kronik adalah CML (Chronic Myelogenous Leukemia).

Gejala-gejala leukemia yang bisa terlihat oleh orangtua adalah seperti pusing, badan lemas, mimisan dalam waktu sering, mudah memar, gusi berdarah, demam selama berhari-hari, tidak punya nafsu makan, badannya kurus, terdapat benjolan di sekitar kelenjar seperti di leher, ketiak, pangkal paha atau perut.

Anak dengan gejala leukemia juga sering berkeringat di malam hari, ketika tidur maupun saat masih terjaga. Selain itu, perasaannya mudah tersinggung dan mudah marah. Hal ini disebabkan karena fungsi sel darah yang terganggu. Anak yang berada di tahap awal leukemia mungkin saja menunjukkan gejala-gejala seperti di atas tadi. Meskipun gejalanya mirip gejala penyakit flu tetapi gejala leukemia bisa bertahan selama beberapa hari.

”Jika orang tua mendapati buah hati mereka mengalami gejala tersebut di atas, sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit. Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengecek kondisi pasien,” terang dr Bambang Sudarmanto, Sp AK, Konsultan Hematologi dan Kanker Anak di RSUP Dr Kariadi Semarang.

Setelah pemeriksaan darah dilakukan, akan diketahui gambaran darah pada pasien. Dan, untuk memastikan lebih lanjut apakah jenis sel kanker yang ada pada anak, dilakukan BMP(Bone Marrow Puncture), yaitu pemeriksaan sumsum tulang belakang.

Leukemia adalah kanker sel pembentuk darah di dalam tubuh. Kebanyakan berupa kanker darah putih tetapi beberapa leukemia mulai menyebar di berbagai sel darah. Leukemia bermula dari sumsum tulang, bagian lembut dari tulang belakang dimana sel darah dibentuk dan menyebar ke seluruh tubuh. Darah merah, darah putih dan jenis darah lainnya dibuat di sumsum tulang belakang. Jika ada gangguan di organ tubuh maka tes sumsum tulang belakang akan sangat membantu diagnosa dokter.

Darah merah membawa oksigen dari paru-paru ke semua jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru. Sel darah putih membantu tubuh memerangi bakteri dan kuman yang mencoba masuk. Ada beberapa jenis darah putih yang masing-masing memiliki peran tersendiri dalam melindungi tubuh melawan infeksi. Mengetahui jenis darah ini membuat kita bisa mewaspadai leukemia pada anak.

Darah putih sendiri terdiri dari tiga jenis yaitu limfosit, granulosit dan monosit. Limfosit adalah sel darah utama yang memproduksi jaringan limfoid, bagian terbesar dari sistem kekebalan tubuh manusia. Granulosit bertugas untuk membasmi kuman dan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Monosit juga membunuh kuman dengan cara mengelilingi dan memakannya.

Penyebab

Kemajuan perkembangan industri yang paling berperan disertai perubahan gaya hidup masyarakat, hampir semua makanan saat ini menggunakan MSG, monosodium glutamat, perasa yang berbahan kimia.

Selain itu adanya pewarna tekstil (rhodamin) yang digunakan untuk mewarnai jelly dan minuman agar menarik minat anak-anak untuk dikonsumsi. Sayuran dan buah-buahan sudah tidak semurni dulu lagi, sudah tercemar bahan kimia, akibat pemupukan dan insektisida, sebelum sampai ke tangan konsumen.

Paparan bahan kimia selain melalui makanan dan minuman, juga melalui pernapasan, seperti bensin, timah hitam (Pb), carbon tetrachloride(CCl4), atau asbes. Merupakan beberapa penyebab munculnya leukemia. Namun, stigma leukemia sebagai penyakit kanker ganas yang selama ini menjadi momok bagi pasien dan keluarga pasien perlahan mulai memudar. Pasalnya, kini teknologi pengobatan pada anak sudah maju. Dengan pengobatan yang sesuai dengan protokol, angka harapan hidup anak-anak penderita cukup tinggi, yaitu 90 persen untuk penderita jenis ALLdan sekitar 30 persen untuk jenis AML.

”Ada dua jenis pengobatan leukemia pada anak, yaitu pengobatan suportif dan kausatif. Pengobatan suportif untuk mengatasi keluhan anemia dengan transfusi darah, infeksi dengan pemberian antibiotik.

Sedangkan pengobatan kausatif dengan protokol kemoterapi selama dua tahun,” imbuh dokter yang menjabat sebagai Direktur Medis dan Keperawatan di RSUP Dr Kariadi itu.

Proses kemoterapi selama dua tahun yang harus dijalani pasien anak leukemia mempunyai beberapa efek samping, seperti mual dan kerontokan rambut (alopecia).

Hingga kini, penyebab pasti penyakit ini belum diketahui. Namun, ada beberapa hal yang diduga menjadi faktor pemicu, antara lain: paparan zat kimia (limbah maupun makanan), paparan radiasi, virus, serta faktor genetik.

Meski angka harapan hidup penderita leukemia jenis ALL cukup tinggi, menurut dr Bambang, kehati-hatian tetap diperlukan agar proses kemoterapi berjalan lancar.

”Selain kepatuhan terhadap protokol kemoterapi, makanan yang dikonsumsi pasien wajib diawasi. Tidak boleh mengandung pengawet, pewarna, serta perasa. Lebih bagus jika banyak mengosumsi sayur dan buah karena mengandung zat antioksidan yang tinggi,” tambah suami dari Kastri Wahyuni, SPd, MM itu.

Peran orang tua amat besar untuk memberi dukungan dan pengawasan penuh terhadap anak yang mengidap leukemia.  Komunikasi efektif perlu dibangun, agar orang tua tanggap dengan keluahan anak, sekecil apapun keluhan itu.

Oleh Miftahun Nikmah

Sumber: Suara Merdeka, 18 November 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: