Home / Berita / Kembalikan ketertarikan perempuan pada riset

Kembalikan ketertarikan perempuan pada riset

Empat peneliti perempuan Indonesia dapat penghargaan di FWIS

L’Oreal Indonesia dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) serta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan penghargaan kepada empat peneliti perempuan Indonesia dalam perhelatan L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS) yang ke-12.

Seiring dengan Deklarasi UNESCO tahun 2015 yang menyatakan bahwa Tahun 2015 adalah Tahun Cahaya, program L’Oréal-UNESCO FWIS tidak hanya bertujuan untuk menyorot hasil kerja para peneliti perempuan yang luar biasa, tetapi juga memberikan perhatian khusus terhadap kepribadian, perjalanan karier, semangat, tantangan dan kebahagian yang dirasakan oleh para peneliti.

Data dari UNESCO menunjukkan hanya terdapat 30% perempuan peneliti di dunia dan hanya 3% peraih penghargaan Nobel di bidang sains adalah perempuan. Indonesia juga mengalami kondisi yang sama, dimana perempuan peneliti belum terwakilkan dengan cukup.

“Dari jumlah total 22,950 peneliti, hanya terdapat kurang lebih 11,000 perempuan peneliti di Indonesia. Dimana dalam mengembangkan Indonesia untuk menjadi sebuah negara yang berbasis penelitian adalah tantangan yang harus kita hadapi bersama dengan bantuan dari para peneliti, termasuk para perempuan tangguh ini. Kami harapkan keberhasilan dari para perempuan peneliti dapat diapresiasi oleh berbagai pihak, termasuk mereka yang ada di sektor swasta, sehingga dapat memacu semangat para peneliti untuk membuat bangsa kita menjadi bangsa yang hebat,” kata Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kepada Lensa Indonesia.com di Gedung A,Kementerian Pendidikan danh Kebudayaan, Jakarta, Kamis (3/12/2015)

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa hanya 7% perempuan lulusan S1 yang meneruskan ke jenjang S2 dan hanya 3% dari perempuan lulusan S2 menempuh program doktoral. Sepanjang tahun 2010 hingga 2015, angka pertambahan perempuan peneliti justru turun, dari 6% menjadi 3%.

uploads--1--2015--12--44039-inilah-4-perempuan-peneliti-indonesia-yang-menjadi-pemenang-loreal-unesco“Oleh karena itu, kami memiliki harapan yang besar agar program L’Oréal-UNESCO FWIS dapat mengaspirasi perempuan peneliti untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi Indonesia,” imbuh praktisi pendidikan nasional Prof. Dr. Arief Rachman, Mp.d.

Untuk mengubah angka jumlah perempuan peneliti di Indonesia, L’Oréal Indonesia memperkenalkan sebuah kampanye digital yang diusung oleh L’Oréal Foundation, bertajuk ‘#ChangeTheNumbers’. Kampanye ini bertujuan untuk mengubah persepsi publik terhadap perempuan di bidang sains dan menarik lebih banyak perempuan untuk memilih karier di bidang sains.

“Kami melihat bahwa ini adalah saatnya kami mengembalikan ketertarikan terhadap dunia riset dan inovasi. Sudah bukan rahasia lagi jika sains membutuhkan lebih banyak kontribusi perempuan karena dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan,”kata Vismay Sharma, Presdir PT. L’Oreal Indonesia.

Adapun peneliti perempuan yang terpilih mendapatkan dana sebesar Rp 80 juta yang dapat digunakan untuk penelitian mereka. Keempat perempuan ini adalah

Kategori Life Sciences:
a.Sastia Prama Putri, Ph.D dari Osaka University, dengan proposal penelitian berjudul “Establishment of quality evaluation standard and authentication method of Kopi Luwak and various Indonesian specialty coffees by gas chromatography-based metabolomics”.
b.Dr. rer. nat Aluicia Anita Artarini daru Institut Teknologi Bandung, dengan proposal penelitian berjudul “Development of Reporting System with Colorimetric to Screen Candidate of Polymerize Influenza Virus”.

Kategori Material Sciences:
a.Dr. Anawati , PhD dari Universitas Teknologi Sumbawa, dengan proposal penelitian berjudul “Fabrication of Anodic Alumina Oxide (AAO) Membrant Applied on Ready To Drink Filter in Sumbawa”.
b.Kiky Corneliasari Sembiring, M.Eng dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), dengan proposal penelitian berjudul “Heterogeneous Catalysts Ni0Cu0Mg-Al in the hydrogen production process of biodiesel production waste for renewable application”.

Di tingkat yang lebih junior, L’Oreal Indonesia meluncurkan program untuk mendukung para remaja perempuan yang memilih sains di tingkat univesitas. Dukungan ini diberikan lewat beasiswa ‘L’Oréal Sorority in Science’. Beasiswa ini, tahun ini untuk pertama kalinya diberikan kepada 5 mahasiswi dari Universitas Hasanudin, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Andalas. @Rudi

Editor: Nani Mashita

Sumber: LENSAINDONESIA.COM;Jumat, 04 Desember 2015
———-
4 Ilmuwan Perempuan Indonesia Terima Penghargaan Sains

4 Perempuan Indonesia mendapat penghargaan di bidang sains dalam perhelatan L’Oréal-UNESCO For Women in Science (FWIS). Penghargaan tersebut diberikan L’Oréal Indonesia dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KNIU).

Untuk kategori Life Sciences, penghargaan diberikan kepada 2 peneliti.

Pertama adalah Sastia Prama Putri, Ph D dari Osaka University, dengan proposal penelitian berjudul “Establishment of quality evaluation standard and authentication method of Kopi Luwak and various Indonesian specialty coffees by gas chromatography-based metabolomics”.

Penerima penghargaan kedua adalah Dr rer nat Aluicia Anita Artarini dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan proposal penelitian berjudul “Development of Reporting System with Colorimetric to Screen Candidate of Polymerize Influenza Virus”.

Sementara, penerima penghargaan kategori Material Sciences adalah Dr Anawati, PhD dari Universitas Teknologi Sumbawa, dengan proposal penelitian berjudul “Fabrication of Anodic Alumina Oxide (AAO) Membrant Applied on Ready To Drink Filter in Sumbawa”.

Juga, Kiky Corneliasari Sembiring, M Eng dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI), dengan proposal penelitian berjudul “Heterogeneous Catalysts Ni0Cu0Mg-Al in the hydrogen production process of biodiesel production waste for renewable application”.

4 Perempuan luar biasa tersebut akan mendapatkan dana Rp 80 juta yang dapat digunakan untuk penelitian mereka.

Vismay Sharma, President Director, PT L’Oréal Indonesia mengatakan, pemberian penghargaan tersebut memiliki tujuan besar: mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk memilih karier di bidang sains dan ilmu pengetahuan.

“Sebagai perusahaan yang berakar di bidang sains, kami melihat bahwa masih banyak stigma yang melekat pada perempuan yang memilih karier di bidang sains,” kata dia dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Kamis 3 Desember 2015.

Gejala ini tak hanya ditemukan di Indonesia. Survei Opini yang dilaksanakan L’Oreal Foundation pada 2015 menunjukkan, 67% orang Eropa berpikir perempuan tidak memiliki keahlian cukup untuk menjadi seorang peneliti ulung.

Di sisi lain, kata Vismay, sains tak lagi jadi bidang studi yang menarik bagi para remaja putri di tingkat SMP dan SMA. “Ini adalah saatnya kami mengembalikan ketertarikan terhadap dunia riset dan inovasi,” kata dia.

“Sudah bukan rahasia lagi jika sains membutuhkan lebih banyak kontribusi perempuan karena dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan,” tambah Vismay.

L’Oréal Indonesia juga meluncurkan program untuk mendukung para remaja perempuan yang memilih sains di tingkat univesitas. Dukungan ini diberikan lewat beasiswa ‘L’Oréal Sorority in Science’.

Sebuah kampanye digital juga diluncurkan, yang diusung L’Oréal Foundation, bertajuk ‘#ChangeTheNumbers’. Tujuannya, untuk mengubah persepsi publik terhadap perempuan di bidang sains dan menarik lebih banyak perempuan untuk memilih karier di bidang sains.

Jumlah Peneliti Perempuan Minim
Data UNESCO menunjukkan hanya 30% perempuan peneliti di dunia dan hanya 3% peraih penghargaan Nobel di bidang sains adalah perempuan.

Fakta menunjukkan, jumlah peneliti perempuan di Indonesia juga belum maksimal.

“Dari jumlah total 22,950 peneliti, hanya terdapat kurang lebih 11,000 perempuan peneliti di Indonesia,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan.

Menteri Anies mengimbau agar keberhasilan dari para perempuan peneliti, dapat diapresiasi berbagai pihak, termasuk mereka yang ada di sektor swasta.

“Sehingga dapat memacu semangat para peneliti untuk membuat bangsa kita menjadi bangsa yang hebat,” sambung dia.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi juga menyatakan, hanya 7% perempuan lulusan S1 yang meneruskan ke jenjang S2 dan hanya 3% dari perempuan lulusan S2 menempuh program doktoral.

Sepanjang 2010 hingga 2015, angka pertambahan perempuan peneliti justru turun, dari 6% menjadi 3%.

By Elin Yunita Kristantion

Sumber: Liputan6.com, Jakarta -04 Des 2015

——–

Jumlah peneliti perempuan di Indonesia sedikit

Jumlah peneliti perempuan di Indonesia dinilai masih sangat kalah jumlah dibanding peneliti pria, hanya sekitar 31 persen dibanding peneliti pria.

“Jumlah peneliti kita relatif sedikit, hanya 22.950-an artinya hanya 90 peneliti untuk satu juta penduduk, proporsi peneliti perempuan sangat rendah yakni cuma 31 persen,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Jakarta pada Kamis.

Meski jumlah peneliti perempuan masih di atas rata-rata dunia yakni 28 persen, Anies mengatakan angka peneliti perempuan harus lebih besar dari itu.

“Ini menunjukkan stereotype pemilihan karir, karena perempuan yang mengambil doktoral pun tampaknya banyak yang memilih untuk tidak jadi peneliti. Peneliti perempuan cenderung memilih bekerja di institusi akademik atau pemerintahan sementara kalau laki-laki memilih bekerja di sektor swasta,” katanya.

Anies berharap para peneliti bisa bekerja di sektor swasta yang menyediakan potensi pengembangan yang besar. “Bangsa yang maju adalah bangsa yang bisa meraih kesejahteraan dengan memberi perhatian yang cukup pada bidang penelitian dan pendidikan, maka kita harus memajukan dan mendukung para peneliti Indonesia.”

Sementara itu, berdasarkan survei opini yang dilakukan oleh L’Oreal Foundation pada 2015 di Eropa, sebanyak 67 persen orang menilai perempuan tidak memiliki keahlian yang cukup untuk menjadi seorang peneliti ulung. Akibatnya, sains dipandang sebagai sesuatu yang tidak menarik dan jumlah peneliti
perempuan pun semakin sedikit. 7 persen perempuan lulusan S1 yang meneruskan jenjang S2, dan hanya 3 persen lulusan S2 yang menempuh program doktoral.
Pada 2014 saja, hanya ada 239.339 mahasiswi yang meraih gelar S1 dan 18.560 mahasiswi yang meraih gelar S2 di tahun 2014. Dari angka itu, hanya 516 mahasiswi yang tergerak untuk menempuh gelar doktoral. Artinya hanya ada 0,2 persen mahasiswi S2 yang melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Salah satu peneliti perempuan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga peneliti dari Osaka University Sastia Prama Putri mengatakan sebenarnya menjadi peneliti perempuan tidaklah sesulit yang dibayangkan orang.

“Science is fun. Dengan menjadi peneliti, saya bisa keliling dunia dan memecahkan pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan rasa penasaran saya adalah hal-hal yang menarik dari menjadi seorang peneliti,” kata Sastia.
Editor: Desy Saputra

Pewarta: Ida Nurcahyani

Sumber: Antara, Kamis, 3 Desember 2015
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: