Kemandirian Nasional; Iptek Belum Perkuat Industri

- Editor

Rabu, 8 Juli 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia rentan pelemahan ekonomi global karena mengandalkan ekspor bahan mentah dibandingkan produk industri manufaktur bernilai tambah. Hal itu menunjukkan ilmu pengetahuan dan teknologi kurang berkontribusi bagi penguatan industri dalam negeri.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto menyatakan hal itu, Senin (6/7), di Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Hal itu disampaikan sebelum penandatanganan nota kesepakatan bersama penelitian, pengembangan, kerekayasaan, standardisasi produk alat, peralatan pertahanan dan keamanan, serta produk strategis demi mendukung kemandirian bangsa.

Acara itu dihadiri Kepala Staf Kepresidenan Luhut B Pandjaitan, serta Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Indonesia kurang bisa memanfaatkan industri manufaktur sehingga rentan defisit transaksi berjalan saat harga minyak dunia turun,” kata Unggul. Contohnya, harga batubara sebagai substitusi minyak dan minyak sawit mentah sebagai bahan biodiesel turun akibat kondisi itu, padahal itu adalah komoditas ekspor utama Indonesia.

e8103f812a3e44289347aa4021390265Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan mengunjungi ruang kontrol terowongan angin di Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (6/7). Kunjungan itu dalam rangkaian penandatanganan nota kesepakatan bersama tentang penelitian, pengembangan, kerekayasaan, standardisasi produk alat, peralatan pertahanan dan keamanan, serta produk strategis. Kerja sama dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Institut Teknologi Bandung, dan sejumlah BUMN strategis nasional.–KOMPAS/YUNIADHI AGUNG

Penyebab industri manufaktur lemah, dari aspek desain, rekayasa teknologi, dan merek, antara lain tak optimalnya kontribusi iptek nasional seperti pada sektor produksi dan pengembangan produk. Pemicunya antara lain kebijakan iptek tak sinergis, terutama terkait minimnya belanja riset dan belum ada insentif agar industri menggalakkan riset.

Untuk itu, perlu sinergi semua pihak untuk mendorong industri manufaktur nasional. Pihaknya siap bersinergi dan memperkuat industri manufaktur di Indonesia dengan kapasitas teknologi.

Salah satunya, penyediaan layanan teknologi untuk menguji produk industri guna menjamin keamanan bagi konsumen. Kemarin, BPPT menunjukkan tiga fasilitas pengujian produk di Pusat Penelitian Iptek, Serpong, antara lain Laboratorium Aero Gasdinamika dan Getaran (LAGG).

Kepala Unit Pelaksana Teknis LAGG Fariduzzaman mengatakan, LAGG mempunyai fasilitas terowongan angin pada kecepatan angin subsonik untuk menguji kekuatan struktur, antara lain pada pesawat, jembatan, dan gedung bertingkat.

Menurut Luhut, kunci peningkatan komponen dalam negeri ialah membangun industri. Jadi, pemerintah perlu memberikan subsidi guna menurunkan bunga pinjaman bagi industri. (JOG)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juli 2015, di halaman 14 dengan judul “Iptek Belum Perkuat Industri”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB