Home / Berita / Kelud Rajin Membentuk Kubah Lava

Kelud Rajin Membentuk Kubah Lava

Gunung Sinabung masih terus terbatuk-batuk. Kini, Kelud menyusul. Statusnya ditingkatkan menjadi Waspada. Belajar dari sejarah letusannya, para pengamat gunung api dan berbagai referensi menyebutkan, Kelud biasanya membangun kubah lava sebelum sampai pada fase letusan eksplosif yang bersifat menghancurkan.

Tanpa terjadi letusan besar, gunung yang dinyatakan berstatus Siaga pada awal September 2007 itu dinyatakan aman lagi pada awal Agustus 2008. Tempat wisata yang semula ditutup, dibuka kembali.

”Kelud ini karakternya adalah adanya proses pembentukan kubah. Ini mirip Gunung Welirang dan Gunung Sumbing. Kalau kubah meletus akan membentuk danau kawah,” ujar Igan Supriatman Sutawidjaja, penyelidik bumi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, saat dihubungi Selasa (4/2).

Saat ini terdapat kubah lava di bekas danau kawah gunung tipe strato tersebut. Dari informasi pada referensi Data Dasar Gunung Api Indonesia 2011 Kementerian ESDM, kubah lava muncul 4 November 2007 di tengah danau kawah. Air danau kini tersisa sedikit. Aktivitas kegempaan tidak meningkat lagi. Penurunan aktivitas kegempaan telah terjadi sejak 17 Oktober 2007.

Pada saat itu tidak terjadi letusan eksplosif yang ditandai lontaran material magma dengan energi besar. Erupsi—yaitu keluarnya magma dari tubuh bumi—Kelud waktu itu bersifat efusif, tanpa letusan besar.

Ada tiga ciri letusan gunung api. Pertama, letusan eksplosif atau letusan magmatik yang ditandai keluarnya material magma berupa lava, terjadi jatuhan bahan-bahan piroklastik yang dilontarkan, terdapat aliran piroklastik, disertai letusan yang biasanya dipengaruhi oleh tekanan gas vulkanik dan energi panas yang menjadi energi letusan.

Jenis kedua, yaitu letusan bersifat efusif. Pada saat magma mengalir ke permukaan yang kemudian membentuk kubah lava atau mengalir terus ke lereng. ”Letusan tidak keras lagi karena gas sudah keluar merembes melalui rekahan-rekahan kubah lava sehingga tekanannya tidak besar lagi. Tidak eksplosif,” kata Igan.

Ketiga, yaitu letusan semimagmatik. Ini letusan freatik yang banyak mengandung uap air akibat penguapan air danau kawah yang merembes melalui rekahan dasar kawah yang secara serentak diembuskan ke atas permukaan. Jenis ini biasanya mengawali aktivitas Gunung Kelud, terutama memicu letusan magmatik (Data Dasar Gunung Api 2011).

Sejarah dan statistik
Kelud bisa dikatakan sebagai gunung teraktif setelah Gunung Merapi. Sejarah letusan bisa dikatakan panjang karena melebihi batas waktu untuk menetapkan, apakah sebuah gunung dikatakan aktif atau tidak.

Dari referensi Data Dasar Gunung Api Indonesia tercatat, tahun 1000 terjadi erupsi terpusat. Setelah itu, terdapat 24 data letusan Gunung Kelud. Baru pada 1901 muncul rincian tentang apa yang terjadi. Tidak tercantum ada korban jiwa atau tidak.

Letusan demi letusan terjadi pada 1919, 1920, 1951, 1966, 1984, 1990, dan terakhir tujuh tahun lalu, 2007. Letusan yang menjadi bencana terbesar di abad ke-20 adalah letusan pada 1919. Dentuman amat keras terjadi pada 19-20 Mei 1919 yang terdengar hingga Kalimantan.

PrintKirbani Sri Brotopuspito, dosen geofisika dari Universitas Gadjah Mada, melakukan penelitian dengan mengolah data letusan Gunung Kelud sejak 1973. ”Saya mengamati data kegempaan antara tahun 1973 dan 1990 serta antara tahun 1990 dan tahun 2007. Tahun-tahun itu terjadi erupsi Kelud,” ujarnya.

Ia menghitung jumlah gempa tektonik yang muncul sebelum terjadi erupsi Gunung Kelud, lalu mengelompokkan besar magnitudonya untuk menghitung besar ”b-value”.

Dari hasil penghitungannya, dengan melihat aktivitas gunung Kelud, kata Kirbani, menjelang letusan eksplosif tahun 1990, besaran angka ”b-value” adalah kurang dari 1. Sementara, menjelang tahun 2007—saat terjadi letusan efusif—angka ”b-value” lebih besar dari 1.

”Dalam ilmu seismologi, jika ’b-value’ lebih kecil dari 1, akan terjadi event besar, sedangkan kalau ’b-value’ lebih besar dari 1, tidak akan terjadi event besar,” ujar Kirbani.

Pengambilan data ia lakukan sekitar 111 kilometer (satu derajat bujur) ke arah barat dan timur dari Gunung Kelud. Ke utara pada posisi sekitar 3 derajat Lintang Selatan dan ke selatan pada sekitar 20 derajat Lintang Selatan.

Artinya, ada kesesuaian antara hasil penelitian Kirbani dan apa yang terjadi saat erupsi Kelud pada 1990, yang berupa letusan eksplosif, serta tahun 2007 ketika terjadi erupsi bersifat efusif.

”Hasil ini juga menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara fenomena gunung api dan fenomena gempa bumi,” ujarnya. ”Ada hipotesis bahwa ada korelasi antara gunung api dan gempa bumi. Kalau di Indonesia, sudah positif ada korelasi antara gunung api dan fenomena gempa bumi,” Kirbani menegaskan.

Ia mengatakan, ”Hubungan ini memang bukan deterministik, didukung dengan data langsung.”
Pelit gempa

Kirbani menyebutkan, Gunung Kelud adalah gunung ”pelit gempa”, tidak seperti Merapi. Gunung Kelud bisa berperilaku seolah-olah ”tiba-tiba meletus”. Gunung Kelud juga tidak terlalu lama memberikan tanda-tanda seperti gempa, tremor, vulkanik dangkal—yang menjadi tanda signifikan peningkatan aktivitas gunung api.

Sementara itu, Hanik Humaida, penyelidik bumi dari PVMBG, mengatakan, letusan efusif ditandai dengan tingkat keasaman yang rendah pada fluida (air dan gas), sedangkan letusan eksplosif ditandai tingkat keasaman tinggi pada fluida yang terdapat di kawah. Zat-zat yang bersifat asam, antara lain asam karbonat (H2CO3) dan asam sulfat (H2SO4).

Mitigasi bencana letusan gunung api sebenarnya bukan hal yang mustahil dilakukan. Selain ketaatan masyarakat pada status bencana, pendekatan berbagai bidang ilmu amat dibutuhkan agar kesimpulan yang dihasilkan kian bisa diandalkan. Yang dibutuhkan hanya satu: runtuhkan ego sektoral bidang-bidang ilmu.

Oleh: brigitta isworo laksmi

Sumber: Kompas, 5 Februari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: