Kecemasan Berlebihan Bisa Memicu Depresi

- Editor

Jumat, 13 November 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kecemasan yang terus terjadi bisa memicu depresi dan gangguan jiwa lainnya. Untuk mengendalikan gangguan kecemasan, seseorang dianjurkan melihat masalah dalam hidup apa adanya dan tidak berlebihan.

Hal itu terungkap dalam forum kelas jurnalis bertema “Mengendalikan Kecemasan untuk Hidup Lebih Berkualitas” di Jakarta, Rabu (11/11).

Ahli kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Omni, Tangerang, Andri, mengatakan, tidak memersepsikan masalah berlebihan bisa mencegah cemas dan stres berlebihan. “Persepsi pada masalah berlebihan berdampak pada kesehatan jiwa. Karena terbiasa melihat masalah berlebihan, kadang muncul serangan panik tanpa sebab,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cemas atau stres bisa memicu sistem saraf otonom teraktivasi. Akibatnya muncul gejala fisik seperti jantung berdebar-debar, diare, pusing, sesak napas, dan mual. Namun, karena gejala yang dominan terkait fisik, pasien kerap menanti terlalu lama untuk dilayani dokter spesialis kedokteran jiwa. Padahal, dengan diagnosis tepat dan cepat, gangguan jiwa bisa disembuhkan agar mutu hidup pasien membaik.

Kemampuan adaptasi
Menurut Andri, seseorang sebenarnya mampu beradaptasi dengan masalah. Kemampuan itu dibangun sejak dalam keluarga ataupun dengan cara belajar dan mengubah cara pandang.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan, 6 persen atau sekitar 16 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan mental emosional seperti cemas, depresi, dan psikosomatik.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Danardi Sosrosumiharjo menambahkan, seseorang yang sehat jiwanya ialah mereka yang bisa menerima apa adanya kondisi sekitarnya. “Kalau muncul rasa menerima apa yang terjadi, itu berarti sudah menapak, sehat jiwanya,” ujarnya.

Danardi menambahkan, kecemasan merupakan hal manusiawi. Namun, itu bisa jadi gangguan saat terus terjadi dan mengganggu kehidupan pribadi serta sosial penderita.

Kecemasan merupakan masalah terkait dengan gejala sistem otonom tubuh. Biasanya, kecemasan ditandai gejala fisik dan psikologis. Gejala psikologis meliputi khawatir, gugup, atau ketakutan, sedangkan gejala fisik antara lain jantung berdebar, pusing, dan diare.

Persoalannya, gangguan kecemasan kerap dianggap masalah biasa dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan dinamis dan gaya hidup urban serba cepat menjadi contoh penyebab kecemasan. Kondisi fisik, faktor genetika, kepribadian seseorang juga terkait kecemasan.

Danardi menambahkan, ada perbedaan antara cemas dan takut. Takut biasanya bersifat fisiologis, dan muncul pada sesuatu atau obyek yang amat jelas. Adapun cemas bersifat patologis dan kadang muncul tanpa sebab yang jelas. (ADH)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Kecemasan Berlebihan Bisa Memicu Depresi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB