Home / Berita / Kecanduan Gawai Mengancam Anak-Anak

Kecanduan Gawai Mengancam Anak-Anak

Gawai yang terhubung sistem daring dengan berbagai fitur, ibarat pisau bermata dua yang bisa bermanfaat tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami “gangguan jiwa” akibat kecanduan gawai.

Selain menjadi alat komunikasi dan sumber informasi, gawai yang dilengkapi berbagai fitur juga menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengakses media sosial, gim, dan fitur lainnya secara daring yang belum sesuai untuk usianya. Bahkan, penggunaan gawai yang terus menerus tanpa mengenal waktu, berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak serta membuat anak kecanduan atau adiksi gawai.

Fenomena anak-anak yang kecanduan gawai setidaknya semakin terlihat dalam lima tahun terakhir. Meskipun belum ada angka pasti berapa persentase dan jumlah anak yang mengalami gejala kecanduan atau kecanduan gawai, dari sejumlah kasus yang terungkap di publik, hasil kajian, survei, dan penelitian menunjukkan fenomena kecanduan gawai pada anak saat ini berada pada situasi mengkhawatirkan. Tak hanya menjadi korban, anak-anak terlibat dalam sejumlah kasus yang masuk kategori tindak pidana.

DIONISIA GUSDA UNTUK KOMPAS–Murid SMP Negeri 229 Jakarta bermain gawai saat jam istirahat, di Gedung SMP Negeri 229, Jakarta Barat, Rabu (18/7/2018). Aturan penggunaan gawai diperlukan agar konsentrasi siswa tetap terjaga selama kegiatan belajar.

“Anak kecanduan gawai menjadi tantangan serius. Hanya saja, tidak semua orangtua mengetahuinya jika anaknya terindikasi kecanduan gawai,” ujar Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, Minggu (22/7/2018), di Jakarta.

Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Kristiana Siste Kurniasanti mengatakan, tidak semua anak yang bermain gim langsung disebut mengalami adiksi atau kecanduan gim. Namun, penggunaan gawai pada anak dan remaja lebih dari 3 jam sehari menyebabkan mereka rentan kecanduan gawai.

Penggunaan gawai pada anak dan remaja lebih dari 3 jam sehari menyebabkan mereka rentan kecanduan gawai.

“Adiksi gim daring itu terjadi ketika gejala yang dialami sudah mengganggu fungsi diri dan berlangsung selama 12 bulan. Adapun fungsi diri itu seperti fungsi relasi, pendidikan, pekerjaan, dan kegiatan rutin lainnya,” ujarnya.

KOMPAS/RIZA FATHONI (RZF)–Anak-anak bercengkerama dengan gawai di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (18/7/2018). Penggunaan gawai oleh anak-anak memerlukan pengawasan, panduan dan pembatasan dari orangtua untuk mencegah dampak negatif dari paparan media sosial dan gim daring.

Kristiana mencontohkan, dirinya merawat seorang pemuda berusia 18 tahun yang terancam drop out karena tidak pernah berangkat kuliah. Sehari-hari, pemuda itu lebih sering bermain gim daring, bisa 18 jam sehari. Agar bisa tetap terjaga saat main gim, pemuda itu mengkonsumsi sabu dan metafetamin. Dari riwayatnya, pemuda itu memiliki gawai sejak usia 6 tahun, main gim daring sejak usia 13 tahun, dan mulai kecanduan di usia 17 tahun, dan sangat kecanduan di usia 18 tahun.

Dari sisi usia, anak yang rentan mengalami kecanduan gawai berada di rentang usia 13-18 tahun. Pada usia anak, bagian otak yaitu dorsolateral prefrontal cortex yang berfungsi untuk mencegah seseorang bersikap impulsif sehingga seseorang bisa merencanakan dan mengontrol perilaku dengan baik belum matang.

“Ketika bagian ini sudah terganggu, maka seseorang rentan bersikap impulsif, termasuk pada penggunaan gawai,” kata Kristiana.

Gangguan kesehatan jiwa
Penggunaan gawai pada anak dan remaja yang lebih dari 3 jam dalam sehari dapat menyebabkan mereka rentan pada kecanduan gawai. Kecanduan gim pada gawai saat ini mendapat perhatian dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum lama ini mengeluarkan International Classification of Disease (ICD) edisi ke-11 yang menyebutkan kecanduan main gim sebagai gangguan kesehatan jiwa, yang masuk sebagai gangguan permainan atau gaming disorder.

Januari lalu, Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur merawat dua remaja, pelajar SMP dan SMA, yang kecanduan gawai. Tingkat kecanduannya parah sehingga mereka mengalami guncangan jiwa, hingga ada keinginan membunuh orangtuanya karena dilarang menggunakan gawai.

Fenomena anak kecanduan gawai, menurut dr Tjhin Wiguna, psikiater anak dan remaja di Departemen Medik Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM mulai meningkat dalam tiga tahun terakhir.

Jumlah orangtua yang datang meminta konsultasi ke lembaga-lembaga perlindungan anak atau membawa anaknya ke psikolog dan psikiatri juga meningkat. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi menyatakan sejak 2013 lembaganya menangani 17 kasus anak kecanduan gawai. Begitu juga Komisi Nasional Perlindungan Anak sejak 2016 sudah menangani 42 kasus anak yang kecanduan gawai.

Kecenderungan meningkatnya kasus anak kecanduan gawai tersebut terkait dengan tingginya penetrasi internet di Indonesia. Berdasarkan Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, sebanyak 143,26 juta orang atau 54,68 persen dari populasi Indonesia. Penetrasi pengguna internet terbesar berada pada usia 13-18 tahun (75,50 persen). Gawai adalah perangkat yang paling banyak dipakai untuk mengakses internet (44,16 persen).

SATRIO NUSANTORO–Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam acara Internet Aman untuk Anak di Jakarta 6 Februari 2018 juga mengungkapkan sebanyak 93,52 persen penggunaan media sosial oleh individu Indonesia berada di usia 9-19 tahun dan penggunaan internet oleh individu sebanyak 65,34 persen berusia 9-19 tahun. Umumnya anak-anak menggunakan internet untuk mengakses media sosial, termasuk Youtube, dan gim daring.

Berdasarkan Kajian Pengunana Media Sosial oleh Anak dan Remaja yang diterbitkan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia 2017, anak -anak dan remaja tertarik mengakses media sosial karena dapat mempertemukan kembali diri mereka dengan teman-teman dan keluarga yang terpisah jarak, untuk berbagi pesan. Media sosial juga memberikan wadah bagi mereka untuk bergabung dalam sebuah komunitas. Adapun mereka mengakses gim daring untuk memenuhi hasrat mereka dalam bermain di dunia maya.

Konten negatif
Bukan hanya menimbulkan adiksi atau kecanduan gawai, anak-anak juga rentan terpapar konten-konten negatif saat mengakses internet, antara lain konten pornografi. Dalam beberapa kasus, anak-anak yang terpapar konten pornografi menjadi rentan melakukan kekerasan seksual.

Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS) Kementerian Sosial dan End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia tahun 2017, terhadap anak-anak di lima kota besar (Jakarta, Magelang, Yogyakarta, Mataram, dan Makassar) menemukan, konten pornografi (43 persen) merupakan faktor determinan yang memengaruhi anak melakukan kekerasan seksual. Konten pornografi paling banyak diakses anak-anak melalui gawai (28 persen) disusul komputer, gambar, dan lainnya.

konten pornografi merupakan faktor determinan yang memengaruhi anak melakukan kekerasan seksual. Konten pornografi paling banyak diakses anak-anak melalui gawai disusul komputer, gambar, dan lainnya.

Selain perilaku berubah menjadi kasar dan temperamental, pendidikannya terganggu, sejumlah anak yang kecanduan gawai terutama karena gim daring, media sosial, dan konten negatif, anak-anak melakukan tindakan-tindakan yang mengancam jiwa orang lain.

Mengenai fenomena anak kecanduan gawai, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menegaskan kondisi tersebut tidak terlepas dari pola pengasuhan orangtua. Bahkan pola pengasuhan orangtua menjadi hal yang sangat penting dan mendasar dalam tumbuh kembang anak.

“Jadi, kalau bicara kecanduan sebenarnya kita harus mengakui parenting tidak jalan secara ideal. Itulah kata kuncinya. Artinya orangtua seharusnya mengenali sikap dan perilaku anak-anak yang mengarah kecanduan sehingga bisa diantisipasi sejak awal,” kata Anung.

orangtua seharusnya mengenali sikap dan perilaku anak-anak yang mengarah kecanduan sehingga bisa diantisipasi sejak awal

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Anung Sugihantono

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengingatkan kepada orangtua untuk serius memperhatikan berbagai dampak dari kecanduan gawai. “Yang paling parah, jika anak-anak sampai kecanduan pornografi. Karena ini akan membutuhkan trauma healing seumur hidup agar anak tidak menjadi pelaku kejahatan seksual,” papar Yohana.

Yohana mengingatkan kepada orangtua untuk mewaspadai bahaya kecanduan gawai, menyusul mencuatnya berbagai kasus anak-anak yang kecanduan gawai. Bahkan, sejumlah anak yang kecanduan gawai terpaksa harus dibawa ke psikolog, psikiater, tempat rehabilitasi khusus karena pikiran dan jiwa anak sudah terganggu.

(Sharon Patricia/Dionisia Gusda Primadita Putri/Regina Rukmorini/Deonisi Arlinta/Angger Putranto/Laraswati Ariadne Anwar/Cokorda Yudistira/Ismail Zakaria/Ester Lince Napitulu)

SONYA HELLEN SINOMBOR

Sumber: Kompas, 23 Juli 2018
——————–
“Candu Gawai” nan Membius

KOMPAS/ALIF ICHWAN (AIC)–Sejumlah siswa dan siswi sedang mendapat arahan dari guru pembimbingnya, bapak Salmon Simarmata (kanan), di sekolah Sang Timur, Jakarta Barat, Rabu (19/3), dalam penggunaan gadget. Umumnya sejumlah sekolah memliiki aturan dalam pengguna gadget bagi siswanya baik tertulis maupun tidak tertulis.

Meski baru 7 tahun, M sangat lincah memainkan berbagai macam gawai, mulai dari ipad, apple tv, dan telepon pintar. Dia menggunakan gawai tersebut untuk main gim daring, mengakses media sosial seperti Youtube. Akun Youtube yang diaksesnya pun akun para gamers yang sedang memainkan gim kesukaannya.

Saat libur sekolah, M bisa bertahan menggunakan gawai selama lebih dari 7 jam. Saat dilarang dan diambil gawainya, M langsung berteriak dan menangis. Dalam sehari-hari, perilaku M pun berubah. “Ucapan anak saya menjadi kasar. Ucapan itu didapat dari gamers yang sering dia lihat di Youtube,” kata ibu M, warga Tangerang, Banten, kepada Kompas akhir pekan lalu.

Ibu M mengatakan, dirinya mengenalkan gawai kepada M sejak M berusia 2 tahun. Dirinya mengenalkan permainan anak-anak seperti puzzle, angka, dan huruf agar M diam (tenang) saat disuapi.

Kasus yang lebih berat lagi terjadi pada dua remaja, usia SMP dan SMA, yang dirawat di Poli Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, akhir Januari 2018. Kedua remaja itu dibawa ke rumah sakit tersebut karena orangtua mereka masing-masing kewalahan menghadapi perubahan perilaku kedua remaja tersebut semenjak keduanya kecanduan gim daring melalui gawai. Mereka marah jika dilarang menggunakan gawai, bahkan membanting barang-barang di sekitarnya atau menyakiti membentur-benturkan kepala di tembok.

Mereka marah jika dilarang menggunakan gawai, bahkan membanting barang-barang di sekitarnya atau menyakiti membentur-benturkan kepala di tembok.

Di rumah sakit, ketika diobservasi kondisi kejiwaannya, salah seorang anak mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh dan terobsesi menjadi seperti sosok dalam gim daring yang kerap ditontonnya. Bahkan anak itu ingin membunuh orangtuanya karena dianggap menghalangi menggunakan gawai untuk gim daring.

Setelah dirawat di bawah pengawasan dokter spesialis kejiwaan di RSUD Koesnadi selama beberapa bulan, kondisi kejiwaan mereka membaik. “Keduanya sudah dapat melanjutkan sekolahnya dan mendapat nilai cukup baik. Mereka juga sudah dapat bersosialisasi dengan lebih baik kendati beberapa kali masih senang menyendiri,” ujar dr Dewi Prisca Sembiring Sp K, Jumat (20/7/2018).

Setelah kedua pelajar tersebut, RSUD Koesnadi juga menerima sembilan pelajar laki-laki (SMP hingga SMA) yang juga kecanduan gim daring. Ada seorang anak sampai tahan selama tiga hari dua malam tanpa makan dan tidur, hanya untuk bermain gim melalui gawai di kamar. “Mereka memiliki gejala yang hampir sama dengan dua pasien yang kami tangani pada Januari lalu,” ungkap Dewi.

Bahkan, salah satu dari anak yang kecanduan gawai gim daring sampai mengancam nyawa orangtuanya karena dilarang menggunakan gawai. Anak itu pernah mengikat pisau di atas kamar ibunya dan pernah dengan sengaja menumpahkan bahan bakar minyak di kamar ibunya.

Di Jakarta, kecanduan gim daring dari gawai juga menimpa sejumlah anak-anak. Sejak tiga tahun lalu, Iman Firmasyah, psikiater yang juga Kepala Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional menangani tujuh anak laki-laki usia 11-18 tahun yang adiksi gim dengan gawai. Orangtuanya kewalahan menghadapi perubahan perilaku anak-anak tersebut.

Salah satu anak, usia 11 tahun, kehilangan kontrolnya, sampai-sampai membanting-banting adiknya yang berusia 8 tahun. Ada juga yang mengancam ibunya dengan pisau. Anak yang lain bahkan pernah mencoba mencekik ibunya yang sedang menyetir mobil karena marah dilarang menggunakan gawai.

Ada anak, usia 11 tahun, kehilangan kontrolnya, sampai-sampai membanting-banting adiknya yang berusia 8 tahun

“Waktu bertemu pertama kali anak-anak itu tidak bisa diajak bicara. Semuanya diam saja. Saya akhirnya mempelajari jenis-jenis gim yang mereka mainkan baru kemudian bisa berkomuniksi dengan mereka,” kata Iman seraya menyebut nama gim daring yang digandrungi anak-anak seperti “Mobile Legend” dan Clash of Clans (COC).

Pemulihan anak-anak tersebut tidak mudah. Dari tujuh anak yang dirawat Iman, ada yang tidak sekadar melalui konseling dokter dan keluarga, tetapi juga harus ditopang obat-obatan. Dua di antaranya bisa kembali ke bangku sekolah, tiga anak masih dirawat, dua anak tidak melanjutkan perawatan.

KOMPAS/ALIF ICHWAN (AIC)–Gadget Baru – Keperluan berkomunikasi dan juga gaya hidup, membuat gadget baru selalu di cari pemakainya. Biasanya pemilik gadget mengganti gadet yang lama dengan yang baru, antara lain karena model, fiturnya dan kapasitasnya.

Seperti adiksi narkoba
Pasien dengan anak-anak adiksi gawai juga mulai ditangani Poliklinik Psikiatri Adiksi, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak tahun 2017. Ada mahasiswa (18) yang menjalani perawatan karena adiksi gim daring. Dalam sehari dia bisa bermain gim daring menggunakan gawai lebih dari 18 jam.

Kecanduan gim garing membuat mahasiswa tersebut mengonsumsi obat-obatan seperti sabu dan metafetamin, agar bisa terus sadar dan terjaga sehingga terus bermain gim.

“Terapi yang diberikan kepada anak dengan adiksi gawai tidak jauh berbeda dengan pasien dengan adiksi narkoba. Karena, gangguan otak yang dialami oleh pasien dengan kedua adiksi tersebut tidak berbeda,” ujar Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM, Kristiana Siste Kurniasanti, Kamis (19/7/2018).

Terapi yang diberikan kepada anak dengan adiksi gawai tidak jauh berbeda dengan pasien dengan adiksi narkoba. Karena, gangguan otak yang dialami oleh pasien dengan kedua adiksi tersebut tidak berbeda

Dokter Tjhin Wiguna, psikiater anak dan remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM mengatakan, tiga tahun terakhir kasus kecanduan gawai dan gim daring meningkat, paling banyak usia remaja.

Dokter spesialis jiwa dari Rumah Sakit Atmajaya Jakarta Eva Suryani mengatakan, gelaja anak dengan adiksi gim ataupun adiksi gawai adalah tidak bisa mengontrol kegiatannya dalam bermain gim. Jika tidak segera diatasi, mereka bisa mengalami kerusakan fungsi kognitif. Salah satu fungsi kognitif yang terganggu adalah fungsi eksekutif pada otak yang berfungsi untuk merencanakan dan mengontrol aktivitas yang dilakukan.

KURNIA YUNITA RAHAYU–Konferensi pers hasil pertemuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dengan perwakilan manajemen Twitter Indonesia di Jakarta, Jumat (22/9). (dari kiri) Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti, Ketua KPAI Susanto, Komisioner KPAI Bidang Pornografi dan Cyber Crime.

Terpapar konten negatif
Selain gim daring, anak-anak juga rentan terpapar konten negatif yang dapat diakses menggunakan gawai yang terhubung jaringan internet. Konten negatif tersebut terutama pornografi dan tayangan kekerasan yang dapat merusak pikiran anak-anak.

Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Antasena di Magelang, Jawa Tengah, misalnya, menangani 28 anak dari berbagai provinsi yang terkena berbagai kasus akibat pengaruh gawai yang terkoneksi internet. “Tidak perlu menonton selama berhari-hari atau berbulan-bulan. Kebanyakan mereka mengaku melakukan pelecehan atau kekerasan seksual setelah satu atau dua kali menonton konten pornografi di gawai,” ujar pembimbing psikolog di PSMP Antasena Magelang, Betaria Septiarini Rosana, Selasa (17/7/2018).

Kecanduan gim daring juga mendorong anak melakukan kekerasan seperti penganiayaan, pencurian, termasuk perkelahian (tawuran) dengan teman sekolah. Bahkan, ada anak nekad mencuri setelah menonton video tutorial daring yang menunjukan aksi kejahatan seperti membongkar lemari, atau gembok, dengan menggunakan peralatan sederhana.

Kecanduan gawai yang dialami anak-anak di Tanah Air seharus menjadi peringatan bagi masyarakat, terutama orangtua. Kenyataannya, teknologi informasi bisa membawa banyak manfaat tetapi juga sekaligus bisa mengancam dan menghancurkan masa depan anak-anak. (Sharon Patricia/Dionisia Gusda Primadita Putri/Deonisia Arlinta/Regina Rukmorini/Angger Putranto)

SONYA HELLEN SINOMBOR

Sumber: Kompas, 23 Juli 2018
————–
Gim Video Dapat Turunkan Berat Badan Anak, tetapi yang Ada Aktivitas Fisiknya

Kecanduan gim video memang dapat menyebabkan penyakit jiwa, tetapi gim video juga dapat menurunkan berat badan anak. Sebuah penelitian baru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa gim video, yang dikombinasikan dengan aktivitas kebugaran dan pelacak langkah, membantu anak-anak untuk menurunkan berat badan, menurunkan tekanan darah dan kolesterol, serta meningkatkan aktivitas fisik mereka.

KOMPAS/NINO CITRA ANUGRAHANTO (N–Seorang anak laki-laki melemparkan bola yang terbuat dari daun lontar ke arah susunan pecahan genteng dalam permainan tradisional bernama “Boi-Boi” di acara “Festival Dolanan Anak dan Kuliner Tradisional”, di Desa Kebangsaan Ilmu Giri, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, Selasa (5/6/2018). Permainan tradisional mempunyai unsur aktivitas fisik yang membantu anak gemuk menurunkan berat badan.

Penelitian berjudul “Exergaming Berbasis Rumah di Antara Anak-Anak dengan Kelebihan Berat Badan dan Obesitas: Uji Klinis Acak” itu dimuat dalam jurnal Pediatric Obesity edisi 20 Juli 2018 yang juga dipublikasikan sciencedaily.com.

Penelitian dilakukan tim peneliti dari Pusat Penelitian Biomedis Pennington Baton Rouge, Louisiana, AS, seperti Amanda E Staiano, RA Beyl, W Guan, CA Hendrick, DS Hsia, dan RL Newton Jr.

Penelitian tersebut dilatarbekalangi oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik anak dan tingginya prevalensi kegemukan atau obesitas pada anak, sehingga ada kebutuhan mendesak untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas fisik yang inovatif.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Opera Dolanan dari anak-anak Sanggar Hom Pim Pa menyemarakkan pembukaan Pameran dan Gelar Permainan Tradisional di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (22/2/2017) malam. Anak-anak perlu diajak bermain yang mengandung unsur aktivitas fisik.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan exercise-gaming yang disingkat exergaming, yaitu gim video (video game) yang melibatkan aktivitas fisik untuk mengurangi kegemukan anak dan meningkatkan kesehatan jantung.

“Anak-anak yang kelebihan berat badan dan tidak aktif secara fisik dapat mengembangkan tanda-tanda awal penyakit jantung dan diabetes. Mereka juga mungkin menderita asma, ngorok, dan tantangan psikologis dan kesehatan lainnya,” kata Amanda Staiano.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Pelajar SD bermain telepon seluler di sela-sela pelajaran olahraga di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Karakter pelajar yang tumbuh di era digital turut membentuk perilaku dalam bermedia.Kamis (7/8/2018). Gim video yang aada aktivitas fisiknya membantu anak menurunkan berat badan.

Di Louisiana, satu dari setiap tiga anak (35,3 persen) berusia 10 – 17 tahun kelebihan berat badan atau mengalami obesitas, dan satu dari lima (21,1 persen) mengalami obesitas.

Data obesitas pada anak di Indonesia belum tersedia secara khusus. Data Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016, misalnya, mensurvei obesitas kelompok umur 19 tahun ke atas. Data anak hanya tersedia untuk obesitas sentral atau kegemukan pada perut yang juga mensurvei kelompok umur 15 – 19 tahun. Prevalensi obesitas sentral pada usia 15 – 19 tahun di Indonesia adalah 8,8 persen, relatif lebih rendah jika dibandingkan di Louisiana.

Dalam penelitiannya, Staiano dan kawan-kawan mengamati 46 anak-anak dengan obesitas selama 24 minggu. Peserta penelitian dibagi dua, yaitu satu kelompok dengan intervensi exergaming dan kelompok lainnya untuk kontrol penelitian. Setengah dari peserta adalah perempuan, dan 57 persen adalah orang Afrika-Amerika. Kepatuhan dalam kelompok intervensi adalah 94,4 persen dengan peringkat penerimaan dan kenikmatan anak-anak tinggi.

Peserta dengan intervensi diberikan exergames dengan lama permainan satu jam per sesi sebanyak tiga kali seminggu dan ada sesi obrolan video dengan pelatih kebugaran. Peserta kontrol diberi exergames setelah kunjungan klinik terakhir. Hasil utama yang diukur adalah skor indeks massa tubuh (BMI). Hasil sekunder adalah massa lemak dan ukuran kesehatan metabolisme jantung.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI (DIA)–Anak-anak memainkan sejumlah permainan tradisional dalam Pesta Rakyat Ngalam, Sabtu (3/5/2016) di Taman Krida Budaya Jawa Timur di Malang. Anak-anak perlu diajak berolahraga sambil bermain.

Hasilnya, kelompok intervensi secara signifikan mengurangi skor BMI. Dibandingkan dengan kelompok kontrol, ada perbaikan indikator kesehatan pada kelompok intervensi seperti tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, kolesterol total, kolesterol jahat (low-density lipoprotein-cholesterol), dan aktivitas fisik sedang hingga kuat .

“Kami tidak terkejut melihat bahwa anak-anak dalam kelompok kontrol tekanan darah dan kolesterolnya meningkat dan terjadi penurunan aktivitas fisik selama periode enam bulan,” tutur Staiano.

DOK BINUS SCHOOL SERPONG–Siswa Binus School Serpong antusias mengikuti lomba Panca Dolanan dengan bermain gelindingan, beberapa waktu lalu. Aktivitas fisik bagi anak-anak sangat penting untuk kebugaran fisik mereka.

Dalam kesimpulan penelitiannya disebutkan bahwa exergaming di rumah menimbulkan kepatuhan yang tinggi dan meningkatkan skor BMI anak-anak, kesehatan kardiometabolik dan tingkat aktivitas fisik. Exergaming dengan dukungan sosial dapat dipromosikan sebagai opsi latihan untuk anak-anak.

“Anak-anak menghabiskan setengah jam mereka di depan layar. Saya mencari cara untuk menggunakan layar dalam telepon pintar, komputer, televisi, dan tablet untuk menggabungkan lebih banyak aktivitas fisik ke dalam kehidupan anak-anak,” kata Staiano.

Obesitas pada anak ini menjadi perhatian banyak peneliti di berbagai belahan dunia. Dalam penelitian sebelumnya, tim dari Universitas Messina, Italia, melaporkan hasil penelitian mereka berjudul “Apakah Riwayat Keluarga Obesitas, Kardiovaskular, dan Penyakit Metabolik Mempengaruhi Permulaan dan Tingkat Keparahan Obesitas Anak?” di jurnal Frontiers in Endrocrinology edisi 2 Mei 2018.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO (WAK)–Pasangan suami-istri bertubuh gemuk Roy Febry dan Lulu Lustanti bersama ketiga anaknya (dari tengah ke kanan) Cindha Nurnaisya Siti Akmar, Cindhe Nursyafa, Cindhi Nursyafiyyah, mengikuti pertemuan Komunitas Besar (Kombes) Indonesia di Kawasan Serpong, Tangerang, Banten, Sabtu (3/8/2013). Saat ini, 5-25 persen dari anak Indonesia mengalami obesitas, dengan persentase tertinggi terdapat di Jakarta sebagai ibukota.–Kompas/Wawan H Prabowo (WAK)

Kesimpulannya, sejarah keluarga dengan obesitas dan penyakit jantung merupakan faktor risiko penting untuk mulai terjadinya obesitas sebelum waktunya pada masa kanak-kanak dan terkait dengan tingkat keparahan obesitas.

“Penelitian kami menunjukkan adanya hubungan antara obesitas anak dan riwayat keluarga yang gemuk dan punya penyakit jantung dan metabolisme, termasuk darah tinggi, lemak darah tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung koroner,” kata Domenico Corica, peneliti Universitas Messina, seperti dikutip sciencedaily.com.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 23 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: