Home / Berita / Kebutuhan Industri Bertemu Tawaran Riset

Kebutuhan Industri Bertemu Tawaran Riset

Hasil-hasil riset di Indonesia, baik dari lembaga penelitian maupun dari perguruan tinggi, belum banyak dimanfaatkan sektor produksi barang dan jasa industri. Banyak hasil riset terhenti sebagai karya ilmiah saja, belum sampai tahap aplikasi. Untuk meningkatkan pemanfaatan riset, industri dipertemukan dengan peneliti yang menawarkan hasil riset melalui temu bisnis dalam Sidang Paripurna III Dewan Riset Nasional 2015.


Menteri  Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir meresmikan tur mobil listrik tenaga surya ke Jawa dan Bali, di Jakarta, Senin (17/8). Hal itu merupakan persiapan menjelang World Solar Challenge 2015 di Australia, Oktober 2015 lalu.

e9e41fbec0634d6d82725f5e5336811dRHAMA PURNA JATI–Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir meresmikan tur mobil listrik tenaga surya ke Jawa dan Bali, di Jakarta, Senin (17/8).

Hal itu merupakan persiapan menjelang World Solar Challenge 2015 di Australia, Oktober 2015 lalu.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mencontohkan, tanah di Indonesia sangat subur, tetapi bertahun-tahun Indonesia tidak mencapai swasembada pangan. “Ini karena tidak ada keselarasan antara dunia usaha dan para peneliti yang melakukan invensi dan inovasi (bidang pertanian),” katanya saat membuka temu bisnis bertema “Hilirisasi dan Komersialisasi Hasil Riset dan Inovasi untuk Meningkatkan Daya Saing Sektor Produksi Barang dan Jasa”, Jumat (11/12) di Jakarta.

Padahal, kata Nasir, selama ini beragam penemuan anak bangsa sangat berpeluang untuk diproduksi massal dan memberi manfaat ekonomi bagi industri yang mengembangkan. Di bidang kesehatan, ada Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) dan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT) yang ditemukan oleh Warsito Purwo Taruno. ECVT bermanfaat untuk deteksi kanker dalam hitungan detik, bukan jam, sedangkan ECCT untuk terapi kanker.

Teknologi-teknologi tersebut sudah memikat sejumlah investor, antara lain dari Jepang dan Amerika Serikat. Namun, beberapa waktu lalu, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan meminta PT Edwar Technology, perusahaan yang didirikan Warsito untuk menerapkan teknologi ECVT dan ECCT, berhenti menerima pasien karena riset belum memiliki bukti ilmiah. “Kami meminta ketentuan Balitbangkes dipenuhi dan diikuti protokolnya. Dengan demikian, inovasi tidak dimatikan, tetapi didampingi agar nanti bisa dilakukan hilirisasi dan komersialisasi,” ujar Nasir.

Di bidang transportasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan sistem pengatur lalu lintas udara berbasis automatic dependent surveillance broadcast (ADS-B) yang sudah teruji lewat uji coba di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dan Bandara Ahmad Yani, Semarang. Teknologi ini untuk memandu pesawat saat akan terbang atau mendarat di bandara mengingat lalu lintas udara tergolong padat di bandara-bandara besar.

Inovasi bidang transportasi juga ditunjukkan oleh tampil perdananya pesawat N219, Kamis (10/12), yang sepenuhnya buatan Indonesia. Nasir berharap, sertifikasi pesawat beres pada 2016. Dengan demikian tahun depan menjadi tahun kebangkitan kedirgantaraan.

Pengunjung  menyaksikan robot bermain bulu tangkis rancangan mahasiswa Universitas Tarumanagara Jakarta yang ditampilkan dalam Pameran Riset, Inovasi, dan Teknologi (Ritech Expo) di Lapangan D Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/8). Pameran yang diselenggarakan dalam rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ini menampilkan hasil riset dan inovasi sejumlah instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan perguruan tinggi. Dalam temu bisnis dalam Sidang Paripurna III Dewan Riset Nasional 2015, Jumat (11/12), para peneliti  dipertemukan dengan kalangan industri untuk mendorong pemanfaatan hasil riset.

e2cf7fc741fb449dace6d0322e09b0baKOMPAS/YUNIADHI AGUNG–Pengunjung menyaksikan robot bermain bulu tangkis rancangan mahasiswa Universitas Tarumanagara Jakarta yang ditampilkan dalam Pameran Riset, Inovasi, dan Teknologi (Ritech Expo) di Lapangan D Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (7/8). Pameran yang diselenggarakan dalam rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ini menampilkan hasil riset dan inovasi sejumlah instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan perguruan tinggi. Dalam temu bisnis dalam Sidang Paripurna III Dewan Riset Nasional 2015, Jumat (11/12), para peneliti dipertemukan dengan kalangan industri untuk mendorong pemanfaatan hasil riset.

Para peneliti  di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi  tengah menganalisis contoh DNA yang dikumpulkan dari sejumlah daerah di Indonesia, Rabu (9/12). Sejauh ini ada 6.000 DNA individu dari 70 populasi utama di Indonesia yang telah diambil sebagai contoh. Penelitian ini dilakukan dalam rangka pemetaan genetika manusia Indonesia untuk mengetahui asal-usul, migrasi, hingga daya tahan dan kerentanan etnis tertentu terhadap penyakit.

9e2992a1c0d94b6fb1fee83515fb1a3bKOMPAS/AHMAD ARIF–Para peneliti di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi tengah menganalisis contoh DNA yang dikumpulkan dari sejumlah daerah di Indonesia, Rabu (9/12). Sejauh ini ada 6.000 DNA individu dari 70 populasi utama di Indonesia yang telah diambil sebagai contoh. Penelitian ini dilakukan dalam rangka pemetaan genetika manusia Indonesia untuk mengetahui asal-usul, migrasi, hingga daya tahan dan kerentanan etnis tertentu terhadap penyakit.

Pendanaan industri
Nasir berharap Sidang Paripurna III Dewan Riset Nasional 2015 yang mempertemukan peneliti dengan pelaku usaha berlanjut pada kerja sama pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam produksi barang dan jasa. Dengan demikian, negara bisa menghemat anggaran penelitian karena menggali pendanaan dari industri, tetapi manfaat penelitian juga kembali lagi pada industri.

Selama ini, 76 persen anggaran penelitian di Indonesia berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Padahal, di negara-negara maju, 80 persen pendanaan riset berasal dari industri.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno mengatakan, forum-forum pertemuan semacam yang dilakukan Dewan Riset Nasional ini perlu diperbanyak. Sejauh ini, pertemuan antara industri dan peneliti masih minim. “Akibatnya, link and match antara industri dan riset belum ada,” ujarnya.

Benny mengatakan, industri memiliki daftar panjang kebutuhan teknologi untuk menunjang produksi. Namun, kebutuhan tersebut selama ini dijawab dengan langsung membeli produk jadi yang ada di pasaran, bukan hasil riset, karena komunikasi dengan peneliti belum berjalan.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 11 Desember 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: