Home / Berita / Kebun Raya Benteng “Ex Situ”

Kebun Raya Benteng “Ex Situ”

Pembentukan di Daerah Butuh Komitmen Pendanaan Berkelanjutan
Kebun raya-kebun raya di Indonesia saat ini mengoleksi 26 persen jenis tumbuhan yang terancam di Indonesia. Keberadaan habitat ex situ bagi ribuan spesies tumbuhan di alam ini agar direplikasi serta bisa mewakili 47 ekoregion di seluruh Indonesia.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertema “Pentingnya Kebun Raya dalam Perlindungan Plasma Nutfah di Indonesia” yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan Yayasan Kebun Raya Indonesia, Kamis (23/2), di Jakarta. Ini adalah satu dari tiga rangkaian diskusi soal pengelolaan kebun raya di Indonesia.

Hadir sebagai pembicara Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Didik Widyatmoko; peneliti mikrobiologi LIPI, Endang Sukara; Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sadjuga; dan Guru Besar Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Institut Pertanian Bogor Harini Muntasib. Diskusi dimoderatori wartawan Kompas, Gesit Ariyanto.

Kebun raya yang saat ini identik dengan lokasi wisata pada hakikatnya merupakan penyimpan plasma nutfah ex situ (pelestarian makhluk hidup di luar habitat aslinya), sarana edukasi, penelitian, dan pengendali mikroiklim daerah. Saat ini, kata Didik, terdapat 5 kebun raya yang dikelola LIPI dan 27 kebun raya yang dikelola pemerintah daerah di 20 provinsi.

Didik mengatakan, kebun raya menjadi tempat para peneliti botani mengoleksi tumbuhan dari sejumlah daerah. Tak sedikit jenis vegetasi yang di alam telah langka, tetapi masih bisa dijumpai bahkan dikembangbiakkan dari koleksi kebun raya.

Bibit tumbuhan tersebut pun telah dilepas untuk memperbanyak populasi di alam sejak 2005. Contohnya, kebun raya menghasilkan bibit jenis pinang jawa (Pinanga javana) yang ditanam di Gunung Halimun-Salak hingga eboni (Diospyros macrophyllaBlume) di Ujung Kulon, Banten.

Namun, kata Didik, hal itu tak cukup. Hingga kini, kebun raya baru mengoleksi 26 persen jenis tumbuhan yang terancam di Indonesia atau 25 persen tumbuhan berbunga di Indonesia. Artinya, 74 persen tumbuhan belum ada koleksinya di kebun raya.

Di sisi lain, deforestasi (penggundulan hutan) serta perambahan hutan konservasi yang menjadi benteng habitat jenis tumbuhan ini terus mengancam flora endemis. Contohnya adalah mangga borneo (Mangifera casturi dan M rubropetala) yang oleh lembaga konservasi dunia, IUCN, dinyatakan telah punah di alam. “Indonesia berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan plasma nutfah,” ujarnya.

Dia mengatakan, 32 kebun raya yang ada saat ini baru mewakili 17 dari 47 ekoregion (geografis ekosistem) di Indonesia. Saat ini sedang disusun rencana induk Kebun Raya Sampit di Kotawaringin Timur (401 ha) dan KR Gianyar di Bali (14 ha).

Untuk membangun kebun raya, LIPI mensyaratkan lokasinya tidak berkonflik serta memiliki kelembagaan definitif. Menurut Didik, pembangunan kebun raya relatif mudah, tetapi menjamin komitmen keberpihakan pemerintah daerah kerap menjadi tantangan.

Hingga 2016 terdapat 21 usulan lokasi, 9 di antaranya dinyatakan layak, 2 tidak layak, dan sisanya dalam proses kajian. Ini akan menambah tipe ekoregion baru, yaitu Belitung Timur (91,04 ha), Halmahera Selatan (100 ha), dan Jayapura (600 ha).

Endang mengatakan, kebun raya tidak sekadar mengoleksi tumbuhan, tetapi juga menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis makhluk renik. Dia mencontohkan, saat melakukan eksplorasi jamur dan actinomycetes (jenis bakteri yang memiliki morfologi mirip jamur) di KR Cibodas dan Bedugul pada 2003, dijumpai 20 persen temuan berupa spesies baru. Karakter makhluk renik ini telah dimanfaatkan untuk pengembangan pangan, medis, dan kosmetik.

Wisata
Di sisi lokasi wisata, kebun raya kurang optimal dalam menjalankan peran sebagai obyek wisata. Lalu lintas wisatawan memang mengalir, tetapi yang terjadi adalah absennya rasa memiliki dari para pengunjung.

“Yang terjadi, wisatawan datang untuk menghabiskan waktu tanpa benar-benar tahu makna keanekaragaman hayati yang ada di kebun raya,” ujar Harini. Dia mengatakan, kepuasan pengunjung kebun raya saat ini lebih pada rekreasi ataupun menjadikannya tempat berkumpul.

Karena itu, dia menawarkan konsep pemanfaatan kebun raya sebagai wisata yang memiliki tema sebagai solusi untuk menambah nilai wisata dari kebun raya. Jadi, wisatawan menikmati koleksi kebun raya dengan tema tertentu bersama pemandu yang bisa memberi informasi secara kontekstual. Semisal, narasi cerita soal koleksi tanaman di kebun raya saat musim hujan akan berbeda dibandingkan dengan saat musim kemarau.

Kendala utama untuk mendorong kebun raya agar bisa menjalankan ekowisata adalah pengembangan kualitas sumber daya manusia, mulai dari pemandu, staf, hingga warga yang berjualan di sekitar kompleks kebun raya. Pihak kebun raya juga harus bekerja sama dengan instansi lain, misalnya bandar udara, karena gerbang lalu lintas wisatawan berlangsung di sana.

Menurut Harini, salah satu tantangan kebun raya yang dikelola pemerintah daerah adalah menyiapkan payung hukum yang memastikan pemerintah daerah mempertahankan prioritas untuk mengelola kebun raya.(ELD/ICH)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Kebun Raya Benteng “Ex Situ””.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: