Kanker Menyerang Tak Pandang Bulu

- Editor

Rabu, 10 Juli 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rontgen Kanker Paru - Petugas medis menganalisa rontgen kanker paru pasien yang menjalani perawatan di Klinik Paru RSUP Persahabatan Jakarta, Jumat (3/3). Sebanyak 90 persen pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok.

Kompas/Wawan H Prabowo (WAK)
03-03-2017

Untuk Liputan Tematis Tembakau

Rontgen Kanker Paru - Petugas medis menganalisa rontgen kanker paru pasien yang menjalani perawatan di Klinik Paru RSUP Persahabatan Jakarta, Jumat (3/3). Sebanyak 90 persen pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok. Kompas/Wawan H Prabowo (WAK) 03-03-2017 Untuk Liputan Tematis Tembakau

Kanker bisa menyerang siapa pun, tak kenal usia serta tak kenal jenis kelamin dan status sosial. Dari berbagai jenis kanker yang ada, kanker paru merupakan jenis yang sulit dideteksi. Oleh karena itu, tak jarang pasien baru tahu dirinya memiliki kanker paru pada stadium akhir.

Hal ini pula yang dialami oleh almarhum Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sutopo divonis pertama kali menderita kanker paru pada Desember 2017 dengan stadium IV dan terus menjalani proses pengobatan hingga kemudian meninggal pada Minggu (7/7/2019), pukul 02.00 waktu Guangzhou, China.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Ilustrasi: Warga yang peduli pada kanker paru mengikuti Kampanye Kepedulian Kanker Paru yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia di Kawasan Kemang, Jakarta. Kanker paru merupakan salah satu kanker yang sering menyebabkan kematian, mencapai 13,4 persen dari seluruh kasus kanker.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tidak ada yang mengira, bahkan dirinya sendiri. Gaya hidupnya cenderung sehat. Jauh dari ciri-ciri orang yang berisiko tinggi mengalami kanker paru. Faktor risiko tertinggi dari kanker paru adalah merokok, makan tidak seimbang, dan jarang berolahraga. Hal itu jelas jauh dari gaya hidup Sutopo.

Namun, inilah yang membuat kanker disebut sebagai penyakit yang tidak pandang bulu. Jika seseorang sudah berusaha menjalankan gaya hidup sehat, tetapi lingkungannya tidak mendukung, itu bisa menjadi pemicu. Untuk itulah deteksi dini menjadi sangat penting.

Dokter spesialis penyakit paru dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Sita Andarini, saat dihubungi di Jakarta, Minggu, mengungkapkan, jika gejala respirasi atau gangguan pernapasan seperti batuk tidak kunjung sembuh, disarankan segera memeriksakan kondisi paru. Kesadaran deteksi dini terutama juga untuk golongan orang yang berisiko tinggi.

”Waspada pada orang yang berisiko tinggi, yaitu laki-laki, perokok, usia lebih dari 40 tahun. Meskipun bukan dalam golongan berisiko tinggi, memiliki gejala respirasi yang tidak membaik juga harus segera periksa. Minta dokter untuk melakukan pemeriksaan paru, misalnya foto toraks, computed tomography (CT) scan toraks, atau pemeriksaan lain,” tuturnya.

Selain itu, faktor risiko yang bisa menyebabkan kanker paru adalah pajanan rokok, baik secara langsung maupun tidak; pajanan silika, asbes, tambang; riwayat fibrosis paru; genetik, polusi udara; dan pajanan radon.

Pemicu utama
Meski begitu, berbagai penelitian menyebutkan, pemicu utama kanker paru adalah asap rokok. Sekitar 90 persen pasien kanker paru merupakan perokok aktif maupun perokok pasif. Hal ini didukung juga dengan kandungan asap rokok yang sekitar 4.000 senyawa di dalamnya bersifat karsinogenik yang merupakan penyebab kanker.

Rontgen Kanker ParuKOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Petugas medis menganalisis rontgen kanker paru pasien yang menjalani perawatan di Klinik Paru RSUP Persahabatan Jakarta. Sebanyak 90 persen pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok.

Kanker paru umumnya ditemukan pada stadium lanjut, pada stadium III atau IV. Semakin lama dideteksi, pengobatan akan semakin sulit serta kondisi sudah semakin parah. Pada stadium IV, sel kanker sudah menyebar ke organ di luar paru. Padahal, jika ditemukan pada stadium awal, bisa meningkatkan angka kesembuhan sampai 80 persen.

Sel kanker biasanya menyebar ke kelenjar getah bening di leher, cairan di selaput paru, selaput jantung, otak, tulang, hati, anak ginjal (suprarenal), ataupun ginjal. Sel kanker pun bisa menyebar sampai tulang belakang. Harapan hidup pasien yang didiagnosis kanker paru stadium IV tidak lama, hanya beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Harapan hidup
Sita menambahkan, tata laksana yang diberikan terhadap pasien pun berbeda-beda untuk setiap tingkat keparahan yang dialami. Penatalaksanaannya juga tergantung jenis kanker, jenis molekuler, dan tingkatannya.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Poster bahaya merokok dipasang di depan Klinik Paru RSUP Persahabatan Jakarta. 90 persen pasien dengan kanker paru memiliki riwayat sebagai perokok.

Berdasarkan jenisnya, kanker paru dibagi atas kanker paru jenis sel kecil (small cell carcinoma -SCLC) dan kanker pari jenis karsinoma bukan sel kecil (non-small cell lung carcinoma-NSCLC). Untuk NSCLC, pada stadium I, II, dan IIIA biasanya perlu dilakukan operasi. Biasanya, penyakit yang diderita bisa sembuh setelah operasi (curable). Sementara untuk stadium III dan IV tidak dapat dioperasi sehingga perlu dilakukan perawatan lain guna meningkatkan angka tahan hidup pasien.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan, kanker paru memang salah satu penyebab kematian terbesar pada laki-laki. Umur harapan hidup kanker paru stadium IV sekitar 5 persen, dan kondisi ini juga dipengaruhi oleh kondisi pasien, umur, jenis kelamin, etnism, dan respons terhadap pengobatan.

”Namun, risiko kanker bisa menyerang siapa pun dan kapan pun. Untuk itu, pencegahan faktor risiko harus terus digalakkan dan deteksi dini juga perlu ditingkatkan. Kanker paru masih bisa diobati jika masih ditemukan pada stadium awal,” ujarnya.–DEONISIA ARLINTA

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 7 Juli 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB
Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 1 April 2024 - 11:07 WIB

Baru 24 Tahun, Maya Nabila Sudah Raih Gelar Doktor dari ITB

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 3 Januari 2024 - 17:34 WIB

Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Berita Terbaru

US-POLITICS-TRUMP

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB